ﻣَﻦْ ﺫَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳُﻘْﺮِﺽُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻗَﺮْﺿًﺎ ﺣَﺴَﻨًﺎ ﻓَﻴُﻀَﺎﻋِﻔَﻪُ ﻟَﻪُ ﺃَﺿْﻌَﺎﻓًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮَﺓً ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﻭَﻳَﺒْﺴُﻂُ ﻭَﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ (245)
Siapapun yang memberi pinjaman kepada Allah suatu pinjaman yang baik, niscaya Ia akan melipatgandakan bayarannya dengan kelipatan yang banyak. Karena Allah itu menyempitkan dan meluaskan (rezeki). Dan kepada-Nyalah kamu akan kembali. Q.S. Al-Baqarah: 245
TAFSIR MUFRADAT:
Makna asal ﺍَﻟْﻘَﺮْﺽُ merupakan bagian ﺍَﻟْﻘَﻄْﻊُ, meninggalkan tempat dan melaluinya. Firman Allah swt:
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻏَﺮَﺑَﺖْ ﺗَﻘْﺮِﺿُﻬُﻢْ ﺫَﺍﺕَ ﺍﻟﺸِّﻤَﺎﻝِ
Dan apabila matahari terbenam, cahayanya meninggalkan mereka (ashhabul kahfi) di sebelah kiri. Q.S. Al-kahfi:17
Dan harta yang diberikan kepada seseorang dengan syarat dikembalikan gantinya dinamakan pinjaman ﺍَﻟْﻘَﺮْﺽُ. Al-Mufradat Ar-Raghib: 416
TAFSIR AYAT:
Sepintas lalu, pada ayat di atas kita menemukan satu ayat yang tidak layak disandarkan kepada Allah swt. yaitu kata “memberi pinjaman”. Padahal Allah swt. itu Mahasuci dan tidak berkeperluan kepada makhluk-Nya.Tetapi, kalau kita fahami lebih mendalam, ternyata hal ini merupakan salah satu metode Alquran dalam mendorong manusia untuk berinfak fisabilillah. Untuk menggapai satu maksud besar dan tujuan jangka panjang, Allah swt. pada ayat ini merelakan Zat-Nya Yang Mahasuci dengan menyandarkan kata “memberi pinjaman kepada diri-Nya”.
Maka makna firman Allah swt. di atas, hanyalah merupakan motivasi supaya manusia dengan segera berinfak di jalan Allah demi kemaslahatan bersama. Pendorong ini sekaligus merupakan penanaman satu keyakinan yang sangat mengakar, bahwa pada hakikatnya infak yang mereka keluarkan di jalan Allah itu tidak akan hilang begitu saja dan bukan untuk orang lain, tetapi akan dikembalikan seumpama barang pinjaman dengan pengembalian yang berlipat ganda.
Sebagai bandingan, pada keterangan lain, Allah swt. menyandarkan kepada diri-Nya rasa sakit, lapar, dan dahaga.
Firman-Nya:
ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺁﺩَﻡَ ﻣَﺮِﺿْﺖُ ﻓَﻠَﻢْ ﺗَﻌُﺪْﻧِﻰ. ﻗَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ ﻛَﻴْﻒَ ﺃَﻋُﻮﺩُﻙَ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ. ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻣَﺎ ﻋَﻠِﻤْﺖَ ﺃَﻥَّ ﻋَﺒْﺪِﻯ ﻓُﻼَﻧًﺎ ﻣَﺮِﺽَ ﻓَﻠَﻢْ ﺗَﻌُﺪْﻩُ ﺃَﻣَﺎ ﻋَﻠِﻤْﺖَ ﺃَﻧَّﻚَ ﻟَﻮْ ﻋُﺪْﺗَﻪُ ﻟَﻮَﺟَﺪْﺗَﻨِﻰ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺁﺩَﻡَ ﺍﺳْﺘَﻄْﻌَﻤْﺘُﻚَ ﻓَﻠَﻢْ ﺗُﻄْﻌِﻤْﻨِﻰ. ﻗَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ ﻭَﻛَﻴْﻒَ ﺃُﻃْﻌِﻤُﻚَ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ. ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻣَﺎ ﻋَﻠِﻤْﺖَ ﺃَﻧَّﻪُ ﺍﺳْﺘَﻄْﻌَﻤَﻚَ ﻋَﺒْﺪِﻯ ﻓُﻼَﻥٌ ﻓَﻠَﻢْ ﺗُﻄْﻌِﻤْﻪُ ﺃَﻣَﺎ ﻋَﻠِﻤْﺖَ ﺃَﻧَّﻚَ ﻟَﻮْ ﺃَﻃْﻌَﻤْﺘَﻪُ ﻟَﻮَﺟَﺪْﺕَ ﺫَﻟِﻚَ ﻋِﻨْﺪِﻯ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺁﺩَﻡَ ﺍﺳْﺘَﺴْﻘَﻴْﺘُﻚَ ﻓَﻠَﻢْ ﺗَﺴْﻘِﻨِﻰ. ﻗَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ ﻛَﻴْﻒَ ﺃَﺳْﻘِﻴﻚَ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﺳْﺘَﺴْﻘَﺎﻙَ ﻋَﺒْﺪِﻯ ﻓُﻼَﻥٌ ﻓَﻠَﻢْ ﺗَﺴْﻘِﻪِ ﺃَﻣَﺎ ﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﻮْ ﺳَﻘَﻴْﺘَﻪُ ﻭَﺟَﺪْﺕَ ﺫَﻟِﻚَ ﻋِﻨْﺪِﻯ
‘Wahai Anak Adam! Aku sakit, namun engkau tak menjenguk-Ku!’” (Anak Adam) berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana aku menjenguk-Mu, sementara Engkau adalah Rabb seluruh alam semesta?” (Allah) menjawab, “Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku, si fulan, menderita sakit, namun engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau menjenguknya, engkau akan mendapati-Ku di sisinya? Wahai Anak Adam! Aku telah meminta makan kepadamu, namun engkau tak memberi-Ku makan!” (Anak Adam) berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana aku memberi-Mu makan, sementara Engkau adalah Rabb seluruh alam semesta?” (Allah) menjawab, “Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku, si fulan, telah meminta makan kepadamu, tapi engkau tidak memberinya makan? Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau memberinya makan, engkau pasti akan mendapatkan (balasan) itu di sisi-Ku? Wahai Anak Adam! Aku telah meminta minum kepadamu, namun engkau tak memberi-Ku minum!” (Anak Adam) berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana aku memberi-Mu minum, sementara Engkau adalah Rabb seluruh alam semesta?” (Allah) menjawab, “Hamba-Ku, si fulan, telah meminta minum kepadamu, namun engkau tak memberinya minum! Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau memberinya minum, engkau pasti akan mendapatkan (balasan) itu di sisi-Ku.” H.r. Muslim
Metode di atas merupakan pengajaran bagi kita, untuk mencapai satu tujuan yang besar dituntut terlebih dahulu adanya suatu pengorbanan dari diri kita. Dalam menyampaikan suatu maksud hendaklah menyentuh hati, jangan mengusik perasaan. Karena dengan sentuhan, orang akan tergerak untuk mengorbankan apa pun. Sebaliknya jika merasa terusik, yang hendak berkorban pun akan mengurungkan niatnya.
PENERIMAAN MANUSIA:
Ibnul Arabi membagi manusia dilihat dari segi penerimannya terhadap ayat di atas menjadi tiga golongan.
PERTAMA: Golongan orang-orang yang rendah dan hina, yaitu mereka yang setelah mendengar dibacakannya ayat tersebut di atas malah berkata, “Sesungguh Tuhan-(nya) Muhammad itu fakir dan memerlukan kami, sedangkan kami adalah orang-orang kaya”. Perkataan ini adalah satu kebodohan yang nyata yang terlahir dari orang-orang yang tidak memiliki hati. Oleh karena itu, Allah swt. membantah dengan firman-Nya:
ﻟَﻘَﺪْ ﺳَﻤِﻊَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻗَﻮْﻝَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻗﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﻘِﻴﺮٌ ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﺃَﻏْﻨِﻴﺎﺀُ ﺳَﻨَﻜْﺘُﺐُ ﻣَﺎ ﻗﺎﻟُﻮﺍ
Sesungguhnya Allah mendengar perkataan orang-orang yang berkata, “Allah fakir dan kami kaya”. Kami akan catat perkataan mereka itu. Q.S. Ali Imran: 181
KEDUA: Golongan yang setelah mendengar ayat ini dibacakan, mereka malah menjadi bakhil saking cinta dan tamaknya pada harta. Mereka tidak mau berinfak di jalan Allah dan menolong orang lain, mereka malas untuk berbuat kebajikan, bahkan cenderung lebih berat kepada kehidupan dunia.
KETIGA: Golongan yang ketika mendengar ayat ini, mereka yang dengan segera berlomba-lomba mengamalkan dengan menginfakkan harta mereka. Seperti yang dilakukan sahabat Abu Dardah dan yang lain. Al-Qurthubi, III: 329
AMAL PARA SAHABAT:
Dengan adanya dorongan berinfak yang menggunakan metode seperti ayat di atas, tidaklah mengherankan jika para sahabat pada masa Rasulullah saw. begitu mendengar ayat tersebut dibacakan dengan segera mereka menginfakkan sebagian besar hartanya.
ﻟَﻤَّﺎ ﻧَﺰَﻟَﺖْ: {ﻣَﻦْ ﺫَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳُﻘْﺮِﺽُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻗَﺮْﺿًﺎ ﺣَﺴَﻨًﺎ ﻓَﻴُﻀَﺎﻋِﻔَﻪُ ﻟَﻪُ} ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﺍﻟﺪَّﺣْﺪَﺍﺡِ ﺍﻷَْﻧْﺼَﺎﺭِﻱُّ: ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻴُﺮِﻳﺪُ ﻣِﻨَّﺎ ﺍﻟْﻘَﺮْﺽَ؟ ﻗَﺎﻝَ: “ﻧَﻌَﻢْ ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ ﺍﻟﺪَّﺣْﺪَﺍﺡِ” ﻗَﺎﻝَ: ﺃَﺭِﻧِﻲ ﻳَﺪَﻙَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ. ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻨَﺎﻭَﻟَﻪُ ﻳَﺪَﻩُ ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻗَﺪْ ﺃَﻗْﺮَﺿْﺖُ ﺭَﺑِّﻲ ﺣَﺎﺋِﻄِﻲ. ﻗَﺎﻝَ: ﻭَﺣَﺎﺋِﻂٌ ﻟَﻪُ ﻓِﻴﻪِ ﺳِﺘُّﻤِﺎﺋَﺔِ ﻧَﺨْﻠَﺔٍ ﻭَﺃُﻡُّ ﺍﻟﺪَّﺣْﺪَﺍﺡِ ﻓِﻴﻪِ ﻭَﻋِﻴَﺎﻟُﻬَﺎ. ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﺠَﺎﺀَ ﺃَﺑُﻮ ﺍﻟﺪَّﺣْﺪَﺍﺡِ ﻓَﻨَﺎﺩَﺍﻫَﺎ: ﻳَﺎ ﺃُﻡَّ ﺍﻟﺪَّﺣْﺪَﺍﺡِ. ﻗَﺎﻟَﺖْ: ﻟَﺒَّﻴْﻚَ ﻗَﺎﻝَ: ﺍﺧْﺮُﺟِﻲ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﻗْﺮَﺿْﺘُﻪُ ﺭَﺑِّﻲ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ.
Ketika ayat di atas turun, Abu Dardah segera mendatangi Rasulullah saw., kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, apakah benar Allah menghendaki pinjaman dari kami?” Beliau menjawab, “Benar, wahai Abu Dardah”. Ia berkata, “Ulurkan tanganmu kepadaku, ya Rasulullah!” Kemudian tangannya memegang tangan Rasul dan seraya berkata, “Sungguh telah saya meminjamkan tempatku kepada Rabb-ku, yaitu (kebun yang di dalamnya ada 600 pohon kurma Ummu Dahdah, serta anak-anaknya). Setelah itu Abu Dahdah pulang dan memanggil istrinya, “Wahai Ummu Dahdah, tinggalkanlah (tempat ini) engkau dari tempat ini, karena saya telah meminjamkannya kepada Allah swt”. Ad-Durul Mantsur, I:746
Melihat pengorbanan besar yang dilakukan oleh Abu Dahdah sebagai realisasi dari keyakinannya yang mantap itu, Rasulullah saw. bersabda, “Betapa banyak pohon kurma yang disediakan Abu Dahdah di surga”. H.r. Abdurrazak.
QARDULHASAN:
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai perngertian qardul hasan. Umar bin Al-Khatab dan ulama salaf lainnya mengartikan qardul hasan itu infak di jalan Allah. Pendapat lain mengatakan juga termasuk memberi nafkah kepada keluarga. Bahkan ada yang berpendapat qardul hasan itu istilah bagi setiap amal baik yang dengan itu diharapkan ada pahala, termasuk di dalamnya dzikir dan doa. Amal-amal seperti itulah yang oleh Allah swt. diserupakan dengan pinjaman kepada-Nya dan akan dilipat gandakan pembayarannya.Sehubungan dengan pendapat di atas, maka amat pantaslah jika di dalam riwayat At-Tirmidzi dari Umar bin Khathab, Rasulullah saw. bersabda:
“ﻣَﻦْ ﺩَﺧَﻞَ ﺳُﻮﻗًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻷَْﺳْﻮَﺍﻕِ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳﻚَ ﻟَﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻪُ ﺃَﻟْﻒَ ﺃَﻟْﻒَ ﺣَﺴَﻨَﺔٍ ﻭَﻣَﺤَﺎ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻟْﻒَ ﺃَﻟْﻒَ ﺳَﻴِّﺌَﺔٍ ﻭَﺑَﻨَﻰ ﻟَﻪُ ﺑَﻴْﺘًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ”.
Siapa yang masuk satu pasar lalu ia membaca, “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian, Ia yang menghidupkan dan yang mematikan, Ia yang hidup dan tidak mati, di tangan-Nyalah segala kebaikan dan Ia berkuasa atas segala sesuatu”. Allah mencatat segala kebaikan bagi-Nya, dan menghapus segala macam kejelekan, dan membangun sebuah rumah baginya di surga. Umdatut Tafsir, II:149
Orang yang berinfak di jalan Allah hendaklah meyakini, hanya Allah lah pemberi rezeki bagi setiap makhluk dan Ia berkuasa untuk meluaskan serta menyempitkan rezeki hamba yang dikehendaki-Nya. Dengan berbekal keyakinan seperti ini, maka ia akan menginfakkan hartanya dengan penuh keikhlasan dan jauh dari rasa takut miskin. Bahkan lebih dari itu jiwanya akan tentram serta dipenuhi harapan yang pasti. Allah akan menggantinya dengan nilai yang berlipat ganda
Oleh, Tito Irawan
Contributor:
Al-Ustadz Faqih Aulia (Tim LITKA PC Pemuda PERSIS Batununggal Kota Bandung)
