Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal
Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal
  • Beranda
  • Blog
  • Dashboard
  • Kategori
  • TASYKIL PC
  • Beranda
  • Blog
  • Dashboard
  • Kategori
  • TASYKIL PC
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Uncategorized

HUKUM SHALAT SUNNAH QABLIYYAH JUMAT: “SUNNAH ATAU BID’AH?”

avatar Tidak diketahui
By Admin Kominfo
15 Oktober 2024 9 Min Read
0

 قال ابنُ القَيِّمِ في زادِ المعادِ: “الجُمُعةُ كالعِيدِ، لا سُنَّةَ لها قبلَها، وهذا أصحُّ قَولَيِ العُلَماءِ، وعليهِ تَدُلُّ السُّنَّةُ، فإنَّ النبيَّ صلَّى الله عليهِ وسلَّم كانَ يَخرجُ مِن بيتِهِ، فإذا رُقِيَ المِنبرَ، أخذَ بلالٌ في أذانِ الجُمُعةِ، فإذا أكملَهُ، أخذَ النبيُّ صلَّى الله عليهِ وسلَّم في الخُطبةِ مِن غيرِ فَصلٍ، وهذا كانَ رأيَ عَينٍ، فمتى كانوا يُصلُّونَ السُّنَّةَ؟! ومَن ظنَّ أنَّهُم كانوا إذا فَرَغَ بلالٌ رضيَ اللهُ عنهُ مِن الأذانِ، قامُوا كلُّهم فرَكَعُوا ركعَتَينِ، فهو أجهَلُ الناسِ بالسُّنَّةِ، وهذا الذي ذكرناهُ مِن أنَّهُ لا سُنَّةَ قبلَها، هو مذهبُ مالكٍ وأحمدَ في المشهورِ عنهُ وأحدُ الوجهَينِ لأصحابِ الشافعيِّ.”

Ibnu Qayyim berkata dalam Zad al-Ma’ad: “… Shalat Jumat itu seperti shalat Id, tidak ada shalat sunnah sebelumnya. Inilah pendapat yang paling kuat di antara dua pendapat ulama, dan hal ini sesuai dengan petunjuk sunnah. Nabi ﷺ keluar dari rumahnya, ketika beliau naik ke mimbar, Bilal mulai mengumandangkan adzan Jumat. Ketika ia menyelesaikan adzan, Nabi ﷺ langsung memulai khutbah tanpa jeda. Ini adalah sesuatu yang terlihat langsung. Jadi, kapan mereka mengerjakan shalat sunnah? Barangsiapa yang mengira bahwa ketika Bilal selesai mengumandangkan adzan, mereka semua berdiri lalu melaksanakan dua rakaat, maka dia adalah orang yang paling bodoh tentang sunnah. Apa yang kami sebutkan bahwa tidak ada sunnah sebelumnya adalah pendapat Malik dan Ahmad dalam riwayat yang paling masyhur, serta salah satu dari dua pendapat para pengikut Syafi’i.”

والَّذينَ قالُوا: إنَّ لها سُنَّةً: منهم مَنِ احتَجَّ أنَّها ظهرٌ مَقصورَةٌ، فثَبَتَ لها أحكامُ الظُّهرِ، وهذِهِ حُجَّةٌ ضَعيفَةٌ جدًّا…

ORANG-ORANG YANG MENGATAKAN BAHWA SHALAT JUMAT MEMILIKI SHALAT SUNNAH DI SEBELUMNYA: Di antara mereka ada yang beralasan bahwa shalat Jumat adalah shalat zuhur yang dipendekkan, sehingga berlaku baginya hukum-hukum shalat zuhur. Ini adalah argumen yang sangat lemah…

ومِنهم مَن أَثبَتَ السُّنَّةَ لها هُنا بالقياسِ على الظُّهرِ، وهو أيضًا قِياسٌ فاسِدٌ…

Di antara mereka ada yang menetapkan shalat sunnah di sini dengan mengqiyaskan pada shalat zuhur, dan ini juga merupakan qiyas yang tidak sah…

ومنهم مَن احتَجَّ بما رَوَاهُ ابنُ ماجَةَ في سُنَنِه عن أبي هُرَيْرَةَ وجابِرٍ، قالا: جاءَ سَلِيكٌ الغَطفَانيُّ ورَسُولُ اللهِ يخطبُ، فقالَ له: أَصَلَّيتَ رَكعتَينِ قبلَ أن تَجيءَ؟ قالَ: لا، فصلِّ رَكعتَينِ وتَجَوَّزْ فيهما، وإسنادُه ثِقَةٌ. -قُلتُ: بل هو شاذٌّ بهذهِ الزِّيادَةِ-.

Dan di antara mereka ada yang beralasan dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibn Majah dalam Sunan-nya dari Abu Hurairah dan Jabir, mereka berkata: “Datanglah Salik al-Ghatafani dan Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah, maka beliau bertanya kepadanya: ‘Apakah kamu telah shalat dua rakaat sebelum datang?’ Ia menjawab: ‘Tidak,’ maka shalatlah dua rakaat dan ringankanlah dalam keduanya, dan sanadnya adalah terpercaya.” -Aku katakan: “Sebaliknya, ia adalah syaz (aneh) dengan tambahan ini.”-

قالَ أَبُو الْبَرَكاتِ ابنُ تَيْمِيَّةَ: وقَوْلُهُ: “قَبْلَ أن تَجِيءَ” يدلُّ على أنَّ هَاتَيْنِ الرَّكعتَيْنِ سُنَّةُ الجُمُعَةِ، وليستا تَحيَةَ المَسْجِدِ. قالَ شَيْخُنا حَفيدُهُ أَبُو العَبَّاسِ: وَهذَا غَلَطٌ،والْحَدِيثُ المعْروفُ في الصَّحيحَيْنِ – البُخاريُّ رَقْمُ 931 ومُسلمٌ رَقْمُ 875 – عَنْ جَابِرٍ قالَ: دَخَلَ رَجُلٌ يَوْمَ الجُمُعَةِ ورَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ، فقالَ: أَصَلَّيتَ؟ قالَ: لا، قالَ: فَصَلِّ رَكعتَيْنِ… فَهذَا هوَ المَحفُوظُ في هَذَا الْحَدِيثِ…

Kata Abu al-Barakat Ibn Taimiyyah: “Dan ucapannya: ‘Sebelum kamu datang’ menunjukkan bahwa kedua rakaat ini adalah sunnah Jumat, dan bukan tahiyat masjid.” Kata Syekh kami, cucunya Abu al-Abbas: “Ini adalah kesalahan, dan hadits yang terkenal dalam dua kitab sahih – Bukhari nomor 931 dan Muslim nomor 875 – dari Jabir, ia berkata: “Seorang lelaki masuk pada hari Jumat dan Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah, maka beliau bertanya: ‘Apakah kamu telah shalat?’ Ia menjawab: ‘Tidak,’ maka beliau berkata: ‘Shalatlah dua rakaat…’ Inilah yang terjaga dalam hadits ini…”

قالَ شَيْخُنا أَبُو الحَجَّاجِ الحَافِظُ المِزِّيُّ: هَذا تَصْحيفٌ مِنَ الرُّوَاةِ…

Kata Syekh kami Abu al-Hajjaj al-Hafizh al-Mizzi: “Ini adalah kesalahan penulisan dari para perawi…”

ومنهم مَن احتَجَّ بما رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ في سُنَنِه – رَقْمُ 1127 صَحيحٌ – عن نافعٍ، قالَ: كانَ ابْنُ عُمَرَ يُطيلُ الصَّلاةَ قَبْلَ الجُمُعَةِ، ويُصَلِّي بَعْدَها رَكْعَتَيْنِ في بَيْتِه، وَحَدَّثَ أنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ يَفْعَلُ ذلكَ. وَهَذَا لا حُجَّةَ فيهِ على أنَّ لِلْجُمُعَةِ سُنَّةً قَبْلَهَا…

Di antara mereka ada yang beralasan dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya -nomor 1127, sahih- dari Nafi’, ia berkata: “Ibnu Umar biasa memperpanjang shalat sebelum Jumat, dan ia shalat dua rakaat di rumahnya setelahnya, dan ada kabar bahwa Rasulullah ﷺmelakukan itu.” Dan ini tidak menjadi hujah bahwa ada sunnah sebelum shalat Jumat.

ومنهم مَن احتَجَّ على ثبوتِ السُّنَّةِ قَبْلَهَا، بما رَوَاهُ ابنُ مَاجَةَ في سُنَنِه – رَقْمُ 1129 – عن ابنِ عَبَّاسٍ، قالَ: كانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْكَعُ قَبْلَ الجُمُعَةِ أَرْبَعًا، لا يُفَصِّلُ بَيْنَهَا في شَيْءٍ مِنْهَا…

Di antara mereka ada yang beralasan tentang adanya sunnah sebelum shalat Jumat, dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibn Majah dalam Sunan-nya -nomor 1129- dari Ibn Abbas, ia berkata: “Rasulullah ﷺ biasa mengerjakan empat rakaat sebelum Jumat, tidak ada pemisahan di antara salah satu dari rakaat tersebut…”

وَهذا الحَدِيثُ فيهِ عِدَّةٌ بَلَايَا: 

إحداها: بَقِيَّةُ بنُ الْوَلِيدِ: إمامُ المُدَلِّسِينَ، وقد عَنْعَنَهُ وَلَم يُصَرِّحْ بالسَّمَاعِ. 

الثَّانِيَةُ: مُبَشِّرُ بنُ عُبَيْدٍ، المُنْكَرُ الحَدِيثَ. 

الثَّالِثَةُ: الْحَجَّاجُ بنُ أَرْطَاةَ الضَّعِيفُ المُدَلِّسُ.

الرَّابِعَةُ: عَطِيَّةُ العَوْفِيِّ: ضَعِيفٌ أَه…

Dalam hadits ini terdapat beberapa cela: 

Pertama: Baqiyyah bin al-Walid: Imam para penuduh hadits, ia hanya menyebutkan tanpa menyatakan mendengar. Kedua: Mubashir bin Ubaid, yang dianggap lemah dalam hadits. Ketiga: Al-Hajjaj bin Artaah, yang lemah dan menuduh. Keempat: Atiyyah al-Aufi: yang lemah, dan seterusnya.

قُلْتُ: حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ قَدْ أَخْرَجَهُ أَيْضًا الطَّبَرَانِيُّ في الْمُعْجَمِ الْكَبِيرِ 12/129 رَقْمُ 12674.

Aku berkata: Hadits Ibn Abbas juga telah dikeluarkan oleh at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 12/129 nomor 12674.

قالَ البُوصِيرِيُّ في مِصْبَاحِ الزُّجاجَةِ 1/377: هَذا إسنَادٌ مُسَلَّسَلٌ بِالضُّعَفاءِ. عَطِيَّةُ مُتَّفَقٌ عَلَى تَضْعِيفِهِ، وَحَجَّاجٌ مُدَلِّسٌ، وَمُبَشِّرُ بنُ عُبَيْدٍ كَذَّابٌ، وَبَقِيَّةُ بنُ الْوَلِيدِ يُدَلِّسُ تَدْلِيسَ التَّسْوِيَةِ، وَصَلَاتُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ يَوْمَ الجُمُعَةِ مُتَعَذِّرَةٌ، لِأَنَّهُ كانَ بَيْنَهُمَا الْخُطْبَةُ، فَلَا صَلاةَ حِينَئِذٍ بَيْنَهُمَا، نَعَمْ بَعْدَ إِحْدَاثِ عُثْمَانَ لِلْأَذَانِ عَلَى الزُّورَاءِ، يُمْكِنُ أَنْ يُصَلِّيَ سُنَّةَ الجُمُعَةِ قَبْلَ خُرُوجِ الْإِمَامِ لِلْخُطْبَةِ أَه.

Al-Busairi berkata dalam Mishbah al-Zujajah 1/377: “Ini adalah sanad yang bersambung dengan para perawi yang lemah. Atiyyah disepakati untuk didhoifkan (dilemahkan), dan Al-Hajjaj adalah seorang yangmudallis, serta Mubashir bin Ubaid adalah seorang pendusta, dan Baqiyyah bin al-Walid melakukan tadlis taswiyyah. Dan shalat beliau ﷺantara adzan dan iqamah pada hari Jumat tidak mungkin dilakukan, karena di antara keduanya ada khutbah, maka tidak ada shalat saat itu. Namun, setelah Usman mengadakan adzan di al-Zawra’, mungkin saja shalat sunnah Jumat dilakukan sebelum imam keluar untuk khutbah.”

قال الألبانيُّ معقِّبًا على كلامِ البوصيريِّ في الضعيفةِ ٣/٤٥ :قُلتُ: وَلَكِنَّهُ لَم يُرِدْ إِطلاقًا أَنَّهُ كانَ بَيْنَ أَذَانِ عُثمانَ وَالخُطبَةِ وَقتٌ لِصَلاةِ أَربَعِ رَكَعَاتٍ سُنَّةِ الجُمُعَةِ المَزعُومَةِ، وَلَا وُرِدَ أَيْضًا أَنَّهُم كَانُوا يُصَلُّونَهَا فِي عَهدِهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ، فَبَطَلَ الاحتمَالُ المَذكُورُ، عَلَى أَنَّهُ لَو ثَبَتَ وُجُودُ مِثلِ هَذَا الوَقتِ، لَم يَدُلَّ ذَلِكَ عَلَى جَوَازِ إِحداثِ عِبَادَةٍ لَم تَكُنْ فِي عَهدِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ، بِخِلَافِ إِحداثِ عُثمانَ لِلأَذَانِ، فَإِنَّهُ كَانَ مِن بَابِ المَصَالِحِ المُرسَلَةِ، كَمَا حَقَّقتُ ذَلِكَ كُلَّهُ فِي رِسَالَتِنَا: “الأَجوِبَةُ النَّافِعَةُ عَن أَسئِلَةِ لَجنَةِ مَسجِدِ الجَامِعَةِ”، فَليُرَاجِعْهَا مَن شَاءَ…

Al-Albani memberikan komentar atas pernyataan Al-Bushairi dalam Al-Dha’ifah 3/45: “Aku berkata: Namun, tidak disebutkan sama sekali bahwa ada waktu antara adzan Utsman dan khutbah untuk shalat empat rakaat sunnah Jumat yang dianggap, dan juga tidak disebutkan bahwa mereka (para sahabat) melaksanakannya di zamannya (Utsman) radhiyallahu ‘anhu. Maka, gugurlah kemungkinan tersebut. Sekalipun terbukti ada waktu seperti itu, hal itu tidak menunjukkan diperbolehkannya mengada-adakan suatu ibadah yang tidak ada pada zamannya (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berbeda halnya dengan penambahan adzan oleh Utsman, karena itu termasuk dalam kategori maslahah mursalah. Hal ini semua telah aku jelaskan dalam risalahku: Al-Ajwibah al-Nafi’ah ‘an As’ilat Lajnat Masjid al-Jami’ah. Maka siapa saja yang ingin, silakan merujuknya.”

وَمِنْهُمْ مَنْ احْتَجَّ بِحَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ الَّذِي أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ رَقْمَ 3959 مِنْ طَرِيقِ عِتَابِ بْنِ بَشِيرٍ عَنْ خُصَيْفٍ, عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ مَرْفُوعًا بِلَفْظِ: “كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعًا, وَبَعْدَهَا أَرْبَعًا”. وَهُوَ حَدِيثٌ مُنْكَرٌ.

Sebagian dari mereka berhujjah dengan hadits Abdullah bin Mas’ud yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsat nomor 3959, dari jalur ‘Itab bin Basyir, dari Khushaif, dari Abdullah bin Mas’ud secara marfu’ dengan lafaz: “Beliau (Rasulullah) biasa shalat empat rakaat sebelum Jumat, dan empat rakaat sesudahnya.” Namun, hadits ini adalah hadits munkar (cacat).

قَالَ الطَّبَرَانِيُّ: لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ خُصَيْفٍ إِلَّا عِتَابُ بْنُ بَشِيرٍ.

Ath-Thabrani berkata: “Hadits ini tidak diriwayatkan dari Khushaif kecuali oleh ‘Itab bin Basyir.”

وَسَكَتَ عَلَيْهِ الزَّيْلَعِيُّ فِي نَصْبِ الرَّايَةِ 2/206.

Dan Az-Zaila’i tidak mengomentarinya dalam kitab Nashb ar-Rayah2/206.

وَقَالَ الحَافِظُ فِي الدِّرَايَةِ 1/218: فِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ.

Al-Hafiz berkata dalam kitab Ad-Dirayah 1/218: “Dalam sanadnya terdapat kelemahan.”

وَقَالَ الأَلْبَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي الضَّعِيفَةِ رَقْمَ 1016: وَفِيهِ خَمْسُ عِلَلٍ: 

الأُولَى: الانْقِطَاعُ بَيْنَ ابْنِ مَسْعُودٍ وَابْنِهِ أَبِي عُبَيْدَةَ. 

الثَّانِيَةُ: ضَعْفُ خُصَيْفِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الجَزَرِيِّ الحَرَّانِيِّ. 

الثَّالِثَةُ: خَطَأُ عِتَابِ بْنِ بَشِيرٍ فِي رَفْعِهِ, فَإِنَّهُ مَعَ الضَّعْفِ الَّذِي فِي حِفْظِهِ قَدْ خَالَفَهُ مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ, فَقَالَ: عَنْ خُصَيْفٍ بِهِ مَوْقُوفًا عَلَى ابْنِ مَسْعُودٍ. أَخْرَجَهُ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ فِي المُصَنَّفِ 2/131, 133. وَابْنُ فُضَيْلٍ ثِقَةٌ مِنْ رِجَالِ الشَّيْخَيْنِ. وَانْظُرْ بَاقِي مَا قَالَهُ الأَلْبَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ.

Al-Albani rahimahullah berkata dalam Adh-Dha’ifah nomor 1016: “Di dalamnya terdapat lima cacat: Pertama: Adanya keterputusan (sanad) antara Ibn Mas’ud dan putranya Abu Ubaidah. Kedua: Kelemahan Khushaif bin Abdurrahman Al-Jazari Al-Harrani. Ketiga: Kesalahan ‘Itab bin Basyir dalam meriwayatkannya secara marfu’, karena meskipun terdapat kelemahan dalam hafalannya, ia telah diselisihi oleh Muhammad bin Fudail, yang berkata bahwa Khushaif meriwayatkannya sebagai mauquf (berhenti) pada Ibn Mas’ud. Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Al-Musannaf 2/131, 133. Dan Muhammad bin Fudail adalah perawi tsiqah dari perawi yang digunakan oleh Bukhari dan Muslim. Lihat sisa perkataan Al-Albani rahimahullah.”

وَمِنْهُمْ مَنْ احْتَجَّ أَيْضًا بِحَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ الَّذِي أَخْرَجَهُ الخَطِيبُ فِي تَارِيخِ بَغْدَادَ 6/365 فِي تَرْجَمَةِ: إِسْحَاقَ بْنِ سُلَيْمَانَ البَغْدَادِيِّ.

Sebagian dari mereka juga berhujjah dengan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al-Khatib dalam Tarikh Baghdad 6/365, dalam biografi: Ishaq bin Sulaiman Al-Baghdadi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ وَبَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau biasa shalat dua rakaat sebelum Jumat dan dua rakaat sesudahnya.

وَالْحَدِيثُ ذَكَرَهُ الْحَافِظُ فِي الْفَتْحِ 2/426 بِهَذَا اللَّفْظِ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ: وَبَعْدَهَا أَرْبَعًا وَقَالَ: رَوَاهُ الْبَزَّارُ, وَفِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ.

Hadits ini disebutkan oleh Al-Hafiz dalam Fath al-Bari 2/426 dengan lafaz ini, kecuali bahwa beliau berkata: “Dan sesudahnya empat rakaat.” Beliau juga berkata: “Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dan dalam sanadnya terdapat kelemahan.”

قُلْتُ: فِي إِسْنَادِهِ الحَسَنُ بْنُ قُتَيْبَةَ الخُزَاعِيُّ المَدَائِنِيُّ الخَيَّاطُ أَبُو عَلِيٍّ, قَالَ عَنْهُ العَقِيلِيُّ فِي الضُّعَفَاءِ 1/241-244: كَثِيرُ الوَهْمِ, وَقَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ 1/78: ضَعِيفٌ, وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ فِي الكَامِلِ 2/739: أَرْجُو أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ, وَتَعَقَّبَهُ الذَّهَبِيُّ فِي المِيزَانِ 1/518-519 بِقَوْلِهِ: “بَلْ هُوَ هَالِكٌ“.

Saya berkata: Dalam sanadnya terdapat Al-Hasan bin Qutaibah Al-Khuza’i Al-Mada’ini Al-Khayyat Abu ‘Ali. Al-‘Uqaili berkata tentangnya dalam Adh-Dhu‘afa 1/241-244: “Ia sering melakukan kesalahan (wahm).” Ad-Daraqutni berkata dalam Sunan 1/78: “Dia dhaif.” Ibnu ‘Adi berkata dalam Al-Kamil 2/739: “Saya berharap tidak ada masalah dengannya.” Lalu, Adz-Dzahabi mengkritiknya dalam Al-Mizan 1/518-519 dengan mengatakan: “Bahkan, dia binasa (hancur reputasinya).”

وَفِي الْحَدِيثِ عِلَّةٌ أُخْرَى وَهِيَ جَهَالَةُ “إِسَحَاقَ بْنِ سَلْمَانَ” فَقَدْ أَوْرَدَهُ الخَطِيبُ لِهَذَا الْحَدِيثِ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ جرْحًا وَتَعْدِيلًا. وَانْظُرْ: “الضَّعِيفَة” رَقْمَ 1017.

Dan dalam hadits ini terdapat cacat lain, yaitu jahalah (ketidaktahuan)tentang “Ishaq bin Salman,” karena Al-Khatib menyebutkannya untuk hadits ini dan tidak menyebutkan kritik maupun pujian tentangnya. Lihat: Adh-Dha’ifah nomor 1017.

وَخُلَاصَةُ الْقَوْلِ: أَنَّ حَدِيثَ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ جِدًّا.

Kesimpulan perkataan: Bahwa hadits Abu Hurairah adalah hadits yang sangat lemah.

KESIMPULAN:

Dalam Zad al-Ma’ad, Ibn Qayyim menegaskan bahwa shalat Jumat serupa dengan shalat Id, yang tidak memiliki shalat sunnah sebelumnya. Pendapat ini merupakan yang paling kuat di antara pendapat-pendapat ulama lainnya dan didasarkan pada petunjuk sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Ketika Nabi ﷺ keluar dari rumah dan naik ke mimbar, Bilal mengumandangkan adzan Jumat, dan setelah itu Nabi ﷺ langsung memulai khutbah tanpa adanya jeda. Ini menunjukkan bahwa tidak ada waktu untuk melaksanakan shalat sunnah sebelum khutbah, dan siapa pun yang beranggapan sebaliknya menunjukkan ketidaktahuannya tentang sunnah.

Sementara sebagian orang berpendapat bahwa shalat Jumat memiliki shalat sunnah sebelumnya dengan beralasan bahwa ia merupakan versi singkat dari shalat zuhur, argumen ini dianggap sangat lemah. Para pendukung pendapat ini juga mencoba membenarkan posisi mereka dengan hadits-hadits yang dianggap menunjukkan adanya shalat sunnah sebelum Jumat, namun hadits-hadits tersebut sering kali memiliki kelemahan dalam sanadnya atau ditafsirkan secara keliru.

Misalnya, hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Majah yang mengklaim bahwa Nabi ﷺ meminta seseorang untuk shalat dua rakaat sebelum bergabung dengan shalat Jumat seringkali dipandang sebagai hadits yang syaz (aneh) karena penambahannya yang tidak didukung oleh bukti yang kuat. Ibn Taimiyyah juga mengkritik pendapat yang menyatakan bahwa dua rakaat ini merupakan sunnah Jumat dan bukan tahiyat masjid, menegaskan bahwa hadits yang sahih menunjukkan sebaliknya.

Selain itu, berbagai argumen dan hadits yang diajukan oleh mereka yang mendukung keberadaan shalat sunnah sebelum Jumat sering kali ditunjukkan memiliki cacat dalam sanadnya. Misalnya, ada kekhawatiran terhadap kredibilitas perawi-perawi tertentu yang terlibat dalam penyampaian hadits tersebut, sehingga menjadikan argumen mereka tidak kuat.

Dalam konteks ini, sangat penting untuk memahami bahwa shalat Jumat memiliki keunikan tersendiri dalam hal pelaksanaannya. Tidak adanya shalat sunnah sebelum Jumat memberikan nuansa tersendiri bagi praktik ibadah ini, menunjukkan fokus pada khutbah sebagai puncak dari pertemuan jamaah. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ dengan memahami dan melaksanakan shalat Jumat sebagaimana yang diajarkan tanpa menambahkan ritual-ritual lain yang tidak ada dalam petunjuk Nabi ﷺ.

Secara keseluruhan, penegasan Ibn Qayyim mengenai tidak adanya shalat sunnah sebelum shalat Jumat merupakan pandangan yang didukung oleh argumen dan bukti yang kuat, dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang tata cara ibadah yang dianjurkan dalam Islam. Ini adalah pelajaran berharga bagi setiap Muslim untuk berpegang pada sunnah dan menghindari praktik-praktik yang tidak memiliki dasar yang jelas.

 

 

 

 

Shalat Qabliyyah Jum’at yang masih banyak dilakukan orang, tidak pernah dilakukan Nabi -juga- para sahabatnya. Sebagai bukti, adzan yang dilakukan di zaman Nabi untuk shalat jum’at hanya satu kali, ialah begitu Nabi masuk masjid, lalu naik mimbar, kemudian Bilal adzan. Jadi mana mungkin ada contoh Qobliyyah Jum’at, sementara adzan hanya satu kali. Oleh karena itulah kebanyakan (mayoritas) para ulama menyatakan bid’ah terhadap Qabliyyah Jum’at tersebut.

 

avatar Tidak diketahui
Author

Admin Kominfo

Follow Me
Other Articles
Previous

RAHASIA KEBAHAGIAAN ABADI MENGUAK KEBIJAKSANAAN AL GHAZALI DALAM KITAB KIMIYAUS SA’ADAH”

Next

NIKMAT MANA LAGI YANG KAMU DUSTAKAN

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — Pemuda Persis Batununggal. All rights reserved. Kominfo