Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal
Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal
  • Beranda
  • Blog
  • Dashboard
  • Kategori
  • TASYKIL PC
  • Beranda
  • Blog
  • Dashboard
  • Kategori
  • TASYKIL PC
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Pemimpin

SEBAGAIMANA KEADAAN KALIAN, DEMIKIAN PULA PEMIMPIN YANG AKAN DIANGKAT ATAS KALIAN

avatar Tidak diketahui
By Admin Kominfo
12 Desember 2024 14 Min Read
0

 

MUQADDIMAH:

Sebagai warga negara yang baik,
kita tentu ingin bahwa negara Indonesia menjadi negara yang terus maju ke arah
yang lebih baik, aman, tenteram, adil, dan makmur. Kita juga tentu berharap
agar negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang bertakwa, yang dapat menjalankan
roda kepemimpinan yang berintegritas. Ketika kita menginginkan pemimpin yang
baik, terlebih dahulu hendaklah kita berkaca pada diri kita sendiri. 

Marilah kita coba renungkan
firman Allah ta’ala berikut:

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ
بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian
orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain
disebabkan apa yang mereka usahakan.”

(Al-An’am: 129)

Mengutip dari tafsir “Hidayatul Insan bi
Tafsiril Qur’an”
, dijelaskan bahwa ketika rakyat melakukan perbuatan zalim,
berbuat kerusakan, dan melalaikan kewajiban, orang-orang zalim akan diangkat
menjadi penguasa mereka. Akibatnya, mereka akan mendapatkan keburukan karena
tidak memenuhi hak-hak Allah dan juga hak-hak para hamba Allah. Namun
sebaliknya, jika senantiasa istiqamah dalam kebaikan, niscaya Allah akan
memperbaiki kondisi mereka dan mengangkat pemimpin yang adil bagi mereka.

Oleh karena itu, sebelum harapan kita untuk
mendapatkan pemimpin yang baik dapat terwujud, marilah kita bersama-sama
introspeksi diri terlebih dahulu. Ada sebuah kaidah mengungkapkan:

كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ

“Bagaimanapun keadaan kalian (rakyat), maka
begitulah keadaan pemimpin kalian.”

Dikisahkan bahwa seorang khawarij pergi
bertemu dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, kemudian berkata, “Wahai
Khalifah, mengapa pada masa pemerintahanmu engkau banyak dikritik oleh
orang-orang yang tidak seperti orang-orang yang ada pada masa kepemimpinan
khalifah Abu Bakar dan Umar?”. Kemudian Ali bin Abi Thalib menjawab, “Ini
dikarenakan pada zaman Abu Bakar dan Umar yang menjadi rakyat adalah aku dan
orang-orang yang semisalku. Sedangkan rakyatku adalah engkau dan orang-orang
yang semisalmu! (Syarah Riyadhus Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al
‘Utsaimin)

 

 

 

Kisah tersebut memberikan pelajaran penting
tentang hubungan antara kualitas rakyat dan kualitas kepemimpinan. Dalam kisah
tersebut, Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengingatkan bahwa
perbedaan antara pemerintahannya dengan pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan
Umar radhiyallahu ‘anhuma bukan semata-mata disebabkan oleh perbedaan kualitas
pemimpin, tetapi juga karena perbedaan kualitas rakyat yang dipimpin.

Secara tidak langsung, jawaban dari Ali
radhiyallahu ‘anhu menggambarkan bahwa rakyat yang memiliki iman yang kuat,
akhlak yang baik, dan semangat keislaman yang tinggi akan menghasilkan pemimpin
yang juga memiliki sifat-sifat tersebut. Sebaliknya, jika rakyat memiliki
moralitas yang rendah, pemimpin yang muncul dari kalangan tersebut mungkin akan
menghadapi lebih banyak kritik dan tantangan dalam menjalankan pemerintahan.

Kisah ini mengajarkan pentingnya introspeksi
diri bagi setiap individu sebagai bagian dari masyarakat. Sebelum kita
mengkritik, menuntut banyak hal, dan melihat berbagai kesalahan maupun
kekurangan dari pemimpin, hendaklah kita bertanya pada diri sendiri. Apakah
kita sudah menjadi rakyat yang baik? Apakah kita sudah berupaya memperbaiki
diri kita ke arah yang lebih baik? Apakah kita sudah menjadi rakyat yang layak
untuk dipimpin oleh pemimpin yang baik? Apakah kita sudah memberikan dukungan
dan membantu mewujudkan kemaslahatan di tengah masyarakat? Apakah kita telah
memberikan nasihat yang baik kepada pemimpin kita dengan cara yang baik?

Dalam sebuah hadis dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu
‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ
وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ
أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ
وَيَلْعَنُونَكُمْ. قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ
فَقَالَ
:لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ
وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا
مِنْ طَاعَةٍ
 .

“Pemimpin
terbaik kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian
mendoakan mereka, dan mereka mendoakan kalian. Pemimpin terburuk kalian adalah
yang kalian benci dan mereka membenci kalian, kalian melaknat mereka, dan
mereka melaknat kalian.”
Ada yang bertanya: “Wahai
Rasulullah, tidakkah sebaiknya kami melawan mereka dengan pedang?”

Beliau menjawab: “Tidak, selama mereka masih menegakkan
salat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat sesuatu dari pemimpin kalian
yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya, tetapi janganlah kalian
mencabut ketaatan dari mereka.”
(HR. Muslim no. 1855)

Hadis ini memberikan ilustrasi tentang cara
umat Islam seharusnya bersikap terhadap pemimpin mereka. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sebaik-baik pemimpin adalah yang mencintai
rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya, yang mendoakan kebaikan bagi rakyatnya
dan juga didoakan oleh rakyatnya. 

Hubungan yang harmonis antara pemimpin dan
rakyat adalah tanda bahwa pemimpin tersebut menjalankan tugasnya dengan baik
dan adil, serta memimpin dengan cara yang membawa kebaikan bagi semua. Di sisi
lain, seburuk-buruk pemimpin adalah yang membenci rakyatnya dan dibenci oleh
rakyatnya. Hal ini dapat memicu kebencian dan permusuhan hingga keduanya saling
melaknat. Ini mencerminkan kepemimpinan yang zalim dan tidak berpihak pada
kemaslahatan umum.

Hadis tersebut juga menekankan pentingnya
stabilitas dan kesatuan dalam masyarakat. Hadis tersebut juga mengingatkan
bahwa kritik terhadap pemimpin harus disampaikan dengan cara yang tepat dan
tetap dalam kerangka ketaatan yang dibenarkan oleh syariat Islam. Ketika
menghadapi pemimpin yang melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh rakyat,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa kita seharusnya
membenci tindakan buruknya. Namun, kita tetap menjaga ketaatan selama pemimpin
tersebut masih menjalankan salat dan menegakkan syariat Islam. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya untuk memberontak atau
menggunakan kekerasan selama pemimpin tersebut masih menjalankan kewajiban
dasarnya sebagai seorang muslim. Ketaatan kita kepada pemimpin merupakan
implementasi nyata dari perintah Allah sebagaimana firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟
ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah
dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.”
(Q.S. An-Nisa: 59)

Salah satu di antara upaya kita secara pribadi
selaku muslim agar bangsa ini dipimpin oleh pemimpin yang baik adalah dengan
memperbaiki diri dengan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita
kepada Allah. Keimanan dan ketakwaan bukan hanya berdampak pada kehidupan
pribadi seseorang, tetapi juga memiliki efek yang signifikan terhadap kondisi
suatu negeri secara keseluruhan. Dalam Al-Qur’an, Allah ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟
وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ
وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami
siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

(Q.S. Al-A’raf: 96)

Allah ta’ala menjelaskan dalam ayat tersebut
bahwa keberkahan dari langit dan bumi akan dilimpahkan kepada penduduk suatu
negeri jika mereka beriman dan bertakwa. Keberkahan ini bisa berupa kemakmuran,
ketenangan, keamanan, dan segala bentuk kebaikan yang menjadi penopang
kesejahteraan hidup masyarakat.

Iman yang kokoh dan ketakwaan yang mendalam
akan mendorong setiap individu dalam masyarakat untuk menjalankan hidup sesuai
dengan aturan Allah ta’ala. Mereka akan menjauhi kemaksiatan, ketidakadilan,
dan perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Ketika masyarakat
secara kolektif berpegang teguh pada keimanan dan ketakwaan, Allah akan membuka
pintu-pintu rahmat-Nya, memberikan rezeki yang melimpah, dan menjauhkan mereka
dari berbagai musibah.

Namun, ketika penduduk suatu negeri berpaling
dari iman dan takwa, serta mendustakan ayat-ayat Allah, mereka akan menghadapi
akibat dari perbuatan mereka sendiri. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat
tersebut, Allah akan mencabut keberkahan dan menggantinya dengan kesulitan,
ketidakstabilan, dan bencana yang merupakan hasil dari kezaliman dan
kedurhakaan mereka.

Oleh karena itu, sebagai muslim, kita memiliki
tanggung jawab untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan
dan ketakwaan kita. Ini bukan hanya demi kebahagiaan dan keselamatan pribadi,
tetapi juga demi kebaikan dan keberkahan bagi negeri yang kita tinggali. Dengan
iman dan takwa, kita berharap agar Allah ta’ala senantiasa melimpahkan
rahmat-Nya kepada kita dan menjaga negeri ini dalam keadaan yang aman,
tenteram, adil, dan makmur.

KITA AKAN DIPIMPIN OLEH YANG SEMISAL KITA:

Pemilihan
pemimpin di beberapa propinsi, kabupaten dan kota yang baru-baru ini diadakan,
sebenarnya bisa kita ambil beberapa hikmah dan pelajaran. Di antaranya, kita bisa
tahu bagaimanakah keadaan umat Islam saat ini. Ada yang berilmu dan paham akan
akidah, sehingga daerahnya memiliki pemimpin yang baik dan seorang muslim.
Sebaliknya ada yang butuh pembinaan sehingga daerahnya memiliki pemimpin yang
tidak baik dari sisi akhlak, bahkan yang terpilih non-muslim.

Ini
tanda bahwa pemimpin itu cerminan dari rakyatnya.

Coba
lihat dari beberapa dalil berikut.

DALIL
PERTAMA:

وَمَا
أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan
apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan
tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu)
.” (QS. Asy-Syura: 30)

Keterangan:

Ayat QS.
Asy-Syura: 30
yang menyatakan bahwa musibah yang menimpa seseorang adalah akibat
dari perbuatan tangan mereka sendiri (فَبِمَا
كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
) dapat dikaitkan dengan prinsip bahwa
“kita akan dipimpin oleh yang semisal kita” dalam konteks
sebab-akibat sosial dan moral. Berikut penjelasannya:

1.     
Kehidupan Sosial dan Moral:
Ayat ini menekankan bahwa musibah adalah hasil dari perbuatan manusia sendiri.
Dalam konteks kepemimpinan, masyarakat yang memiliki nilai-nilai, akhlak, dan
perilaku tertentu cenderung menghasilkan pemimpin yang mencerminkan kondisi
mereka. Sebagaimana masyarakat bertindak, demikian pula karakter pemimpin yang
muncul dari mereka.

 

 

2.     
Hikmah Ilahiyah dalam Kepemimpinan:
Allah sering memberikan pemimpin sesuai dengan keadaan suatu kaum sebagai ujian
atau konsekuensi dari amal mereka. Dalam QS. Al-An’am: 129, Allah
menyebutkan bahwa orang-orang zalim akan dipertemukan dengan yang zalim pula
sebagai bentuk balasan atas perbuatan mereka: “Dan demikianlah Kami jadikan
sebagian orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain, disebabkan
apa yang mereka kerjakan.”
Hal ini memperkuat konsep bahwa kondisi
masyarakat secara kolektif memengaruhi siapa yang akan menjadi pemimpin mereka.

3.     
Refleksi dan Perbaikan Diri:
Prinsip ini seharusnya menjadi pengingat bagi masyarakat untuk introspeksi dan
memperbaiki diri. Jika masyarakat ingin dipimpin oleh pemimpin yang adil,
bijaksana, dan bertakwa, maka mereka harus berusaha mencerminkan sifat-sifat
tersebut dalam kehidupan mereka.

4.     
Sunnatullah dalam Sejarah:
Sejarah menunjukkan bahwa kepemimpinan sering kali muncul dari akar kondisi
masyarakat. Ketika masyarakat taat kepada Allah dan menjaga akhlaknya, mereka
diberkahi dengan pemimpin yang baik. Sebaliknya, ketika mereka melalaikan tugas
mereka kepada Allah dan sesama manusia, pemimpin yang zalim sering kali menjadi
ujian bagi mereka.

Ayat QS.
Asy-Syura: 30
relevan dengan prinsip “kita akan dipimpin oleh yang
semisal kita” karena menunjukkan bahwa segala konsekuensi, termasuk
kepemimpinan, adalah hasil dari amal dan kondisi masyarakat. Oleh karena itu,
jika kita menginginkan pemimpin yang baik, perbaikan diri dan masyarakat secara
kolektif menjadi kunci utama.

DALIL
KEDUA:

وَكَذَٰلِكَ
نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan
demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman
bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan
.”
(QS. Al-An’am: 129)

Keterangan:

Ayat ini
menunjukkan sunnatullah (ketetapan Allah) dalam hubungan antara perilaku
manusia dan kondisi kepemimpinan mereka. Berikut adalah keterkaitannya:

1.     
Kepemimpinan Adalah Cerminan Masyarakat: Ayat
ini menjelaskan bahwa Allah menjadikan orang-orang zalim saling terkait satu
sama lain sebagai konsekuensi atas amal perbuatan mereka. Dalam konteks
kepemimpinan, pemimpin yang muncul adalah representasi dari kondisi masyarakat
yang dipimpinnya. Jika masyarakat condong kepada kezhaliman, Allah akan
memberikan mereka pemimpin yang juga zalim sebagai bentuk pembalasan atau
ujian.

2.     
Kezhaliman Kolektif Membawa Pemimpin
Zalim:
Ketika
masyarakat secara kolektif jauh dari nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan
kebaikan, Allah menetapkan pemimpin yang memiliki karakter serupa. Hal ini
sesuai dengan sunnatullah yang disebutkan dalam ayat: “Sesungguhnya Allah tidak
mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11). Artinya, jika masyarakat mengizinkan
atau bahkan mendukung perilaku zalim, mereka akan diberikan pemimpin yang
merefleksikan keadaan tersebut.

3.     
Akibat dari Perbuatan Manusia: Ayat
ini menekankan bahwa pemimpin zalim tidak semata-mata muncul tanpa sebab,
melainkan sebagai akibat dari amal perbuatan masyarakat (بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ). Ini mengingatkan
bahwa kualitas kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh kualitas amal kolektif
suatu komunitas.

4.     
Kepemimpinan Sebagai Ujian dan Teguran: Pemimpin
zalim sering kali menjadi ujian bagi masyarakat. Dalam sejarah Islam,
kepemimpinan buruk sering muncul ketika masyarakat jauh dari nilai-nilai
syariat. Hal ini menjadi teguran dari Allah agar masyarakat introspeksi dan
memperbaiki amal mereka.

5.     
Kewajiban untuk Perbaikan Diri: Jika
kita ingin mendapatkan pemimpin yang baik, maka langkah pertama adalah
memperbaiki diri sendiri dan komunitas.

Ayat QS.
Al-An’am: 129
menegaskan bahwa kepemimpinan zalim adalah konsekuensi dari
amal masyarakat yang zalim. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pemimpin yang
adil dan bertakwa, masyarakat harus memperbaiki amal, akhlak, dan hubungan
mereka dengan Allah. Prinsip “kita akan dipimpin oleh yang semisal
kita” menjadi refleksi dari sunnatullah yang disebutkan dalam ayat ini.

 

 

DALIL
KETIGA:

Muhammad
Haqqi saat menafsirkan makna firman Allâh di bawah ini:

قُلِ
اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ
الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ
بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah,
“Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang
Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki.
Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang
Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
(QS. Ali ‘Imran: 26)

Kandungan
ayat ini adalah “Jika kalian adalah orang-orang yang taat dan patuh niscaya
Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan orang yang penuh kasih sayang sebagai
pemimpin kalian. Namun jika kalian pelaku kemaksiatan, niscaya Allâh akan
menjadi orang jahat sebagai penguasa kalian.”

DALIL
KEEMPAT:

Qatadah
rahimahullah berkata, “Dahulu Bani Israil pernah mengatakan, ‘Wahai Tuhan kami!
Engkau di langit sementara kami di bumi, lalu bagaimana kami dapat mengetahui
ridha dan murka-Mu?’ Lalu Allâh Azza wa Jalla mengilhamkan kepada sebagian para
Nabi-Nya “Kalau Aku angkat orang-orang baik sebagai pemimpin kalian, berarti
Aku ridha kepada kalian. Kalau Aku angkat orang-orang jahat sebagai pemimpin
kalian, berarti Aku murka kepada kalian.’

Keterangan:

Ucapan Qatadah
rahimahullah mengenai Bani Israil dan tanda ridha serta murka Allah terhadap
suatu kaum memiliki keterkaitan langsung dengan prinsip bahwa “kita akan
dipimpin oleh yang semisal kita.” Berikut adalah penjelasannya:

1.     
Pemimpin Sebagai Cerminan Ridha atau Murka
Allah:
Menurut riwayat tersebut, Allah menunjukkan ridha-Nya kepada suatu
kaum dengan mengangkat pemimpin yang baik, dan murka-Nya dengan mengangkat
pemimpin yang buruk. Hal ini menegaskan bahwa kondisi pemimpin merupakan
refleksi langsung dari keadaan spiritual, moral, dan amal suatu masyarakat.

2.     
Kesesuaian antara Pemimpin dan Masyarakat: Pemimpin
tidak muncul secara acak, tetapi sesuai dengan amal dan perilaku masyarakat.
Jika masyarakat menjalankan ketaatan kepada Allah, mereka berhak mendapatkan
pemimpin yang baik sebagai anugerah dari Allah. Sebaliknya, jika masyarakat
berada dalam kemaksiatan dan kezaliman, pemimpin buruk adalah bentuk hukuman
atau ujian dari Allah. Hal ini sesuai dengan sunnatullah yang tercermin dalam
firman Allah: “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim
itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.”

(QS. Al-An’am: 129)

3.     
Hubungan dengan Prinsip ‘Kita Akan Dipimpin
oleh yang Semisal Kita’:
Ucapan Qatadah sejalan dengan prinsip ini, karena:

v 
Pemimpin baik hanya akan muncul di tengah
masyarakat yang baik. Mereka adalah simbol ridha Allah atas amal kolektif
masyarakat tersebut.

v 
Pemimpin buruk muncul sebagai peringatan atau
murka Allah, mencerminkan kondisi masyarakat yang jauh dari kebaikan.

4.     
Tanggung Jawab Kolektif Masyarakat: Masyarakat
memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kondisi yang layak bagi hadirnya
pemimpin yang baik. Ini dilakukan dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah,
menjaga keadilan, dan memperbaiki moralitas. Pemimpin yang dipilih atau
diangkat oleh Allah adalah cerminan dari kondisi masyarakat itu sendiri.

5.     
Pelajaran dari Bani Israil: Riwayat tentang Bani
Israil menjadi pelajaran universal. Ketika masyarakat meminta tanda tentang
ridha atau murka Allah, jawabannya datang dalam bentuk pemimpin mereka. Hal ini
menegaskan pentingnya introspeksi: pemimpin yang baik adalah berkah, sedangkan
pemimpin yang buruk adalah peringatan untuk memperbaiki diri.

 

Ucapan Qatadah
rahimahullah memperkuat prinsip bahwa “kita akan dipimpin oleh yang semisal
kita.” Ridha dan murka Allah terhadap suatu kaum tercermin dalam kondisi
pemimpin mereka. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pemimpin yang baik,
masyarakat harus memperbaiki hubungan mereka dengan Allah dan berusaha menjadi
masyarakat yang layak menerima ridha-Nya.

DALIL
KELIMA:

Dalil
lain adalah kisah perjalanan hidup Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang memfokuskan diri untuk mendakwahi masyarakat umum, tidak fokus pada
jajaran konglomerat, pejabat, penguasa serta tokoh masyarakat. Cara dakwah
semacam inilah yang merupakan metode berdakwahnya para Nabi. Ada perkataan yang
sudah masyhur pula walau berasal dari hadits dho’if:

كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ

“Bagaimana
keadaanmu, itulah juga keadaan orang yang memimpinmu.”

Kalau
kita tahu demikian, tugas kita sebagai rakyat haruskah bagaimana menghadapi
situasi politik yang mencengangkan saat ini?

PERTAMA: Giatkan
terus majelis ilmu, karena umat Islam akan semakin jaya dengan majelis ilmu dan
dakwah.

KEDUA: Perbaiki
akidah umat. Karena dakwah seperti inilah yang lebih maslahat yang akan memperbaiki
akidah umat sehingga Islam bisa jaya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوتَ

“Sungguh
Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah
Allah dan jauhilah thaghut
.” (QS. An-Nahl: 36)

Ayat
yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid.
Kalau kita tempuh dakwah ini, itulah jalan keselamatan dan jalan terbaik yang
kita tempuh.

KETIGA: Patut
diingat adalah dakwah dengan akhlak. Karena dakwah seperti inilah yang lebih
mengena dan akan lebih membuat tertarik non-Islam.

إِنَّمَا بُعِثْتُ
لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya
aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq.” (HR. Ahmad, 2: 381, shahih)

TETAP TAAT
PADA PEMIMPIN:

Apa pun
hasil dalam Pemilu nanti, maka tetaplah taat pada pemimpin tersebut.

الْمَصْلَحَةُ الْعَامَّةُ
مُقَدَّمَةٌ عَلَى الْمَصْلَحَةِ الْخَاصَّةِ

“Kemaslahatan
umum lebih didahulukan daripada kemaslahatan pribadi.” (Al-Muwafaqot 6: 123 karya
Asy Syathibi)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan:

عَلىَ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ
السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ
بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada
penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah
kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan
taat.
” (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839)

DOA UNTUK PEMIMPIN
DAN NEGERI:

سَمِعْتُ الْفُضَيْلَ بْنَ عِيَاضٍ يَقُولُ:
لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً مَا صَيَّرْتُهَا إِلَّا فِي الْإِمَامِ.
قِيلَ لَهُ: وَكَيْفَ ذَلِكَ يَا أَبَا عَلِيٍّ؟ قَالَ: مَتَى مَا صَيَّرْتُهَا
فِي نَفْسِي لَمْ تَجُزْنِي، وَمَتَى صَيَّرْتُهَا فِي الْإِمَامِ فَصَلَاحُ
الْإِمَامِ صَلَاحُ الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ
.

Aku mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Seandainya aku memiliki
satu doa yang pasti dikabulkan, maka aku tidak akan menujukannya kecuali untuk
pemimpin.” Kemudian ditanyakan kepadanya, “Mengapa demikian, wahai Abu Ali?” Ia
menjawab: “Apabila aku tujukan doa tersebut untuk diriku sendiri, maka doa itu
hanya akan bermanfaat bagiku saja. Tetapi apabila aku tujukan doa tersebut
untuk pemimpin, maka kebaikan pemimpin akan membawa kebaikan bagi rakyat dan
negeri.”
(Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim
Al Ashfahaniy)

Oleh karenanya kebaikan seorang
pemimpin akan dirasakan oleh seluruh rakyat dan negara. Sebab, jika pemimpin
baik, kebijakan dan keputusannya akan membawa manfaat yang besar bagi umat.

Melalui tulisan ini, kami
mengajak diri kami pribadi dan para pembaca sekalian untuk tidak henti-hentinya
mendoakan kebaikan untuk para pemimpin bangsa Indonesia. Kita memohon kepada
Allah untuk kebaikan bangsa dan negara ini. Marilah kita mendoakan para
pemimpin kita agar mereka diberikan petunjuk oleh Allah ta’ala untuk selalu
berjalan di atas jalan yang benar, memimpin dengan keadilan, dan senantiasa
menjaga kesejahteraan demi kemaslahatan umat. Dengan doa-doa yang tulus,
mudah-mudahan, negeri kita akan diberkahi dan dipimpin oleh pemimpin yang adil
dan rakyat akan sejahtera.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا،
اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
 اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ
بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
 .اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ
بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ
وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ
الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ
.

“Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang
baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi
diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk
menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta
alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang
merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik
kepada mereka, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum
muslimin sebagai orang yang baik, di mana pun mereka berada.”

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا
تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى طَاعَتِكَ وَاهْدِهِمْ
سَوَاءَ السَّبِيْلِ،
 اَللَّهُمَّ جَنِّبْهُمْ الْفِتَنَ مَاظَهَرَ
مِنْهَا وَمَابَطَنَ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
.

“Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin
kami untuk menempuh jalan yang Engkau cintai dan Engkau ridai. Ya Allah,
bantulah mereka dalam melakukan ketaatan kepada-Mu dan berilah mereka petunjuk
ke jalan yang lurus. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari setiap fitnah dan
masalah, baik yang tampak jelas maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya, Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ
خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
 .اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ
أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ
الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
.

“Ya Allah, berilah kami keamanan di negeri
kami, jadikanlah pemimpin kami dan penguasa kami orang yang baik. Jadikanlah
loyalitas kami untuk orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan
mengikuti ridha-Mu, yaa Rabbal ‘alamin. Ya Allah, berikanlah taufik kepada
pemimpin kami untuk menempuh jalan petunjuk-Mu, jadikanlah sikap dan perbuatan
mereka sesuai rida-Mu, dan berikanlah teman dekat yang baik untuk mereka, yaa
Rabbal ‘alamin.”

SUMBER PENULISAN:

https://informatics.uii.ac.id/2024/08/24/pemimpin-adalah-cerminan-rakyat-mari-introspeksi-diri/

https://rumaysho.com/15372-khutbah-jumat-kita-akan-dipimpin-oleh-yang-semisal-kita.html

https://rumaysho.com/7206-doa-untuk-pemimpin-negeri.html

 

 

 

 

 

“KEPEMIMPINAN
ADALAH CERMINAN MASYARAKAT. JIKA MASYARAKATNYA BAIK, MAKA MEREKA AKAN MEMILIH
PEMIMPIN YANG BAIK. DAN JIKA MASYARAKATNYA BURUK, MAKA MEREKA AKAN MEMILIH
PEMIMPIN YANG BURUK.” (DPJ PC PEMUDA PERSIS BATUNUNGGAL)

avatar Tidak diketahui
Author

Admin Kominfo

Follow Me
Other Articles
Previous

MENDING JUALAN ES TEH DARIPADA JUALAN AGAMA

Next

TAHUN BARU BUKAN SESUATU YANG SPESIAL

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — Pemuda Persis Batununggal. All rights reserved. Kominfo