Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal
Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal
  • Beranda
  • Blog
  • Dashboard
  • Kategori
  • TASYKIL PC
  • Beranda
  • Blog
  • Dashboard
  • Kategori
  • TASYKIL PC
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
AkhlaqAmalanKebaikanNabi

MEMELIHARA KEBAIKAN YANG BIASA DI PELIHARA

avatar Tidak diketahui
By Admin Kominfo
21 Mei 2024 14 Min Read
0

 

MUQADDIMAH:

Dalam Islam,
memelihara kebaikan yang biasa dikerjakan adalah bagian penting dari kehidupan
beragama. Berikut adalah beberapa cara untuk memelihara kebaikan dalam
perspektif Islam:

1.     
Konsisten dalam
Ibadah:

v  Shalat Lima
Waktu:
Pastikan untuk
melaksanakan shalat lima waktu secara tepat waktu. Shalat adalah tiang agama
dan menjaga shalat merupakan cara utama memelihara kebaikan.

v  Baca Al-Qur’an: Jadikan membaca Al-Qur’an sebagai kebiasaan
harian. Berusaha memahami dan mengamalkan ajarannya.

2.     
Dzikir dan Doa:

v  Dzikir Rutin:Lakukan
dzikir setiap hari, baik setelah shalat maupun pada waktu-waktu lain. Dzikir
membantu menjaga hati tetap dekat dengan Allah.

v  Doa: Berdoa kepada
Allah agar diberikan kekuatan dan keikhlasan dalam melakukan kebaikan dan
menjauhkan diri dari keburukan.

3.     
Meningkatkan
Ilmu Agama:

v  Menghadiri Majelis Ilmu: Ikuti
pengajian, ceramah, atau kajian Islam untuk terus menambah ilmu agama dan
motivasi dalam berbuat baik.

v  Membaca Buku Agama: Baca
buku-buku Islam yang dapat menambah pemahaman dan menginspirasi untuk terus
melakukan kebaikan.

4.     
Sedekah dan
Amal Jariyah:

v  Bersedekah:
Jadikan bersedekah sebagai kebiasaan. Sedekah tidak hanya membersihkan harta,
tetapi juga membawa berkah dan pahala yang terus mengalir.

v  Amal Jariyah: Lakukan
amal jariyah seperti membangun masjid, menyumbang untuk pendidikan, atau apa
pun yang manfaatnya terus dirasakan oleh orang lain.

5.     
Akhlak yang
baik:

v  Sabar dan Ikhlas: Latih
diri untuk selalu sabar dan ikhlas dalam segala hal, baik dalam beribadah
maupun dalam menghadapi ujian kehidupan.

v  Jujur dan Amanah: Selalu
bersikap jujur dan menjaga amanah dalam setiap aspek kehidupan, baik di rumah,
tempat kerja, maupun dalam bermasyarakat.

6.     
Menjaga
Silaturahmi:

v  Kunjungi Keluarga dan Tetangga: Menjaga hubungan baik dengan keluarga,
tetangga, dan teman adalah bentuk kebaikan yang dianjurkan dalam Islam.

v  Tolong-menolong: Selalu
siap membantu dan menolong orang lain yang membutuhkan, sesuai dengan
kemampuan.

7.     
Menjauhi
Maksiat:

v  Hindari Perbuatan Dosa: Jauhkan
diri dari perbuatan maksiat yang dapat merusak pahala kebaikan yang sudah
dilakukan.

v  Bertaubat: Jika
melakukan kesalahan, segera bertaubat kepada Allah dan bertekad untuk tidak
mengulangi perbuatan tersebut.

8.     
Mengajarkan
Kebaikan:

v  Dakwah: Ajak orang lain
untuk berbuat baik dan mendekatkan diri kepada Allah dengan cara yang hikmah
dan bijaksana.

v  Teladan Baik: Jadilah
teladan dalam kebaikan sehingga orang lain dapat terinspirasi dan mengikuti
jejak kebaikan yang Anda lakukan.

Dengan
memelihara kebaikan yang biasa dikerjakan melalui cara-cara ini, seorang Muslim
dapat terus memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah, serta
memberikan dampak positif kepada lingkungan sekitar.


AYAT PERTAMA:

Tidak saja mengetahui sesuatu yang tersembunyi di malam hari dan
yang tampak di siang hari, Allah, melalui malaikat-Nya, juga mengawasinya
dengan cermat dan teliti. Baginya, yakni bagi manusia, ada malaikat-malaikat
yang selalu menjaga dan mengawasi-nya secara bergiliran, dari depan dan dari
belakangnya. Mereka menjaga dan mengawasinya atas perintah Allah. Sesungguhnya
Allah Yang Mahakuasa tidak akan mengubah keadaan suatu kaum dari suatu kondisi
ke kondisi yang lain, sebelum mereka mengubah keadaan diri menyangkut sikap
mental dan pemikiran mereka sendiri. Dan apabila,yakni andai kata, Allah
menghendaki keburukan terhadap suatu kaum-dan ini adalah hal yang mustahil bagi
Allah-maka tak ada kekuatan apa pun yang dapat menolaknya dan tidak ada yang
dapat menjadi pelindung bagi mereka selain Dia.


لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ
يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا
يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
وَإِذَا
أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ
مِنْ وَالٍ

(11)

Bagi manusia
ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan
belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak
mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada
diri mereka sendiri.
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu
kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali lak ada pelindung
bagi mereka selain Dia.
(Q.S. Ar-Ra’d {13}: 11)


Keterangan:

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt menugaskan kepada beberapa
malaikat untuk selalu mengikuti manusia secara bergiliran, di muka dan di
belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Ada malaikat yang bertugas
menjaga manusia di malam hari, dan ada yang di siang hari, menjaga dari
pelbagai bahaya dan kemudaratan. Ada pula malaikat yang mencatat semua amal
perbuatan manusia, yang baik atau yang buruk, yaitu malaikat yang berada di
sebelah kanan dan kiri. Malaikat yang berada di sebelah kanan mencatat segala
kebaikan, dan yang di sebelah kiri mencatat amal keburukan, dan dua malaikat
lainnya, yang satu di depan dan satu lagi di belakang. Setiap orang memiliki
empat malaikat empat pada siang hari dan empat pada malam hari. Mereka datang
secara bergiliran, sebagaimana diterangkan dalam hadis yang sahih: Ada
beberapa malaikat yang menjaga kamu secara bergiliran di malam hari dan di
siang hari. Mereka bertemu (untuk mengadakan serah terima) pada waktu salat
Subuh dan salat Ashar, lalu naiklah malaikat-malaikat yang menjaga di malam
hari kepada Allah Taala. Dia bertanya, sedangkan Ia sudah mengetahui apa yang
akan ditanyakannya itu, “Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kamu
meninggalkan mereka (di dunia)?” Malaikat menjawab, “Kami datang kepada
mereka ketika salat dan kami meninggalkan mereka, dan mereka pun sedang
salat.”
(Riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah)


Apabila manusia mengetahui bahwa di sisinya ada malaikat-malaikat
yang mencatat semua amal perbuatan dan mengawasinya, maka dia harus selalu
menjaga diri dari perbuatan maksiat karena setiap aktivitasnya akan dilihat
oleh malaikat-malaikat itu. Pengawasan malaikat terhadap perbuatan manusia
dapat diyakini kebenarannya setelah ilmu pengetahuan menciptakan alat-alat
modern yang dapat mencatat semua kejadian yang terjadi pada diri manusia.
Sebagai contoh, alat pengukur pemakaian aliran listrik dan air minum di
tiap-tiap kota dan desa telah diatur sedemikian rupa sehingga dapat diketahui
berapa jumlah yang telah dipergunakan dan berapa yang harus dibayar oleh si
pemakai. Demikian pula alat-alat yang dipasang di kendaraan bermotor yang dapat
mencatat kecepatannya dan mengukur berapa jarak yang telah ditempuh.


Perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat mengungkapkan
bermacam-macam perkara gaib, sebagai bukti yang dapat memberi keyakinan kepada
kita tentang benarnya teori ketentuan agama. Hal itu juga menjadi sebab untuk
meyakinkan orang-orang yang dikuasai oleh doktrin kebendaan, sehingga mereka
mengakui adanya hal-hal gaib yang tidak dapat dirasakan dan diketahui hanya
dengan panca indera. Oleh karena itu, sungguh tepat orang yang mengatakan bahwa
kedudukan agama dan pengetahuan dalam Islam laksana dua anak kembar yang tidak
dapat dipisahkan, atau seperti dua orang kawan yang selalu bersama seiring
sejalan dan tidak saling berbantahan.


Malaikat-malaikat itu menjaga manusia atas perintah Allah dan
seizin-Nya. Mereka menjalankan tugas dengan sempurna. Sebagaimana dalam alam
kebendaan ada hubungan erat antara sebab dan akibat, sesuai dengan hikmahnya,
seperti adanya pelupuk mata yang dapat melindungi mata dari benda yang mungkin
masuk dan bisa merusaknya, demikian pula dalam kerohanian, Allah telah
menugaskan beberapa malaikat untuk menjaga manusia dari berbagai kemudaratan
dan godaan hawa nafsu dan setan.


Allah swt telah menugaskan para malaikat itu untuk mencatat amal
perbuatan manusia meskipun kita tidak tahu bagaimana cara mereka mencatat. Kita
mengetahui bahwa sesungguhnya Allah sendiri cukup untuk mengetahuinya, tetapi
mengapa Dia masih menugaskan malaikat untuk mencatatnya? Mungkin di dalamnya
terkandung hikmah agar manusia lebih tunduk dan berhati-hati dalam bertindak
karena kemahatahuan Allah melingkupi mereka. Amal mereka terekam dengan akurat
sehingga kelak tidak ada yang merasa dizalimi dalam pengadilan Allah.


Ali bin Abi Talib mengatakan bahwa tidak ada seorang hamba pun
melainkan ada malaikat yang menjaganya dari kejatuhan tembok, jatuh ke dalam
sumur, dimakan binatang buas, tenggelam, atau terbakar. Akan tetapi, bilamana
datang kepastian dari Allah atau saat datangnya ajal, mereka membiarkan manusia
ditimpa oleh bencana dan sebagainya.


Allah tidak akan mengubah keadaan suatu bangsa dari kenikmatan dan
kesejahteraan yang dinikmatinya menjadi binasa dan sengsara, melainkan mereka
sendiri yang mengubahnya. Hal tersebut diakibatkan oleh perbuatan aniaya dan
saling bermusuhan, serta berbuat kerusakan dan dosa di muka bumi. Hadis
Rasulullah saw: Jika manusia melihat seseorang yang zalim dan tidak
bertindak terhadapnya, maka mungkin sekali Allah akan menurunkan azab yang
mengenai mereka semuanya.
(Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah
dari Abu Bakar ash-shiddiq)

Pernyataan ini diperkuat dengan firman Allah: Dan peliharalah
dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di
antara kamu.
(al-Anfal/8: 25)


Kaum muslimin pada fase pertama penyebaran Islam telah mengikuti
ajaran-ajaran Al-Quran dengan penuh keyakinan dan kesadaran, sehingga mereka
menjadi umat terbaik di antara manusia. Mereka menguasai berbagai kawasan yang
makmur pada waktu itu, serta mengalahkan kerajaan Roma dan Persia dengan
menjalankan kebijaksanaan dalam pemerintahan yang adil, dan disaksikan oleh
musuh-musuhnya. Orang-orang yang teraniaya dibela dalam rangka menegakkan
keadilan. Oleh karena itu, agama Islam telah diakui sebagai unsur mutlak dalam
pembinaan karakter bangsa dan pembangunan negara.


Setelah generasi mereka berlalu dan diganti dengan generasi yang
datang kemudian, ternyata banyak yang melalaikan ajaran agama tentang keadilan
dan kebenaran, sehingga keadaan mereka berubah menjadi bangsa yang hina.
Padahal sebelum itu, mereka merupakan bangsa yang terhormat, berwibawa, mulia,
dan disegani oleh kawan maupun lawan. Mereka menjadi bangsa yang diperbudak
oleh kaum penjajah, padahal sebelumnya mereka sebagai penguasa. Mereka menjadi
bangsa yang mengekor, padahal dahulunya mereka merupakan bangsa yang memimpin.


Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya telah mencantumkan sebuah bab
dengan judul: Kezaliman dapat Menghancurkan Kemakmuran. Beliau mengemukakan
beberapa contoh dalam sejarah sebelum dan sesudah Islam, bahwa kezaliman itu
menghancurkan kekuasaan umat Islam dan merendahkan derajatnya, sehingga menjadi
rongrongan dari semua bangsa. Umat Islam yang pernah jaya terpuruk beberapa
abad lamanya di bawah kekuasaan dan penjajahan orang Barat.

Apabila Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum dengan
penyakit, kemiskinan, atau bermacam-macam cobaan yang lain sebagai akibat dari
perbuatan buruk yang mereka kerjakan, maka tak ada seorang pun yang dapat
menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Allah.

 

AYAT KEDUA:

Dan janganlah kamu, dalam hal mengingkari janji yang telah
diikrarkan dan sumpah yang telah
diucapkan, seperti halnya seorang perempuan yang
menguraikan kembali benangnya yang sudah dipintal dengan
kuat sehingga menjadi cerai berai kembali. Sesungguhnya kamu tahu
bahwa itu adalah tindakan bodoh dan buruk. Tindakan seperti itu sama halnya
dengan kamu menjadikan sumpah dan perjanjian-mu sebagai alat penipu
di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya, lebih
banyak hartanya, lebih kuat kedudukannya, atau lebih tinggi posisinya dari
golongan yang lain. Allah hanya menguji kamu dengan hal itu, yakni dengan
adanya kelompok manusia yang lebih kaya dan berkedudukan lebih tinggi, dapatkah
kamu tetap menepati janji dan memenuhi sumpahmu. Dan pasti pada hari
Kiamat kelak akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu
perselisihkan itu. Allah akan memberi balasan sesuai perbuatan yang telah
kamu lakukan.


وَلا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ
غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا
تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلا
بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَى مِنْ أُمَّةٍ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ
اللَّهُ بِهِ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ
تَخْتَلِفُونَ

(92)

Dan janganlah
kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal
dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali,
kalian menjadikan
sumpah 
(perjanjian) kalian
sebagai alat penipu di antara kalian, disebabkan adanya satu golongan yang
lebih banyak jumlahnya daripada golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya
menguji kalian dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan
dijelaskan-Nya kepada kalian apa yang dahulu kalian perselisihkan itu.

(Q.S. An-Nahl {16}: 92)


Keterangan:

Dalam ayat ini, Allah mengumpamakan orang yang melanggar perjanjian
dan sumpah itu sebagai seorang wanita yang mengurai benang yang sudah dipintal
dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Demikian itu adalah gambaran tingkah
laku orang gila dan orang bodoh.


Pelanggaran terhadap bai’at perjanjian atau sumpah berarti
menjadikan sumpah sebagai alat penipuan sesama manusia. Sebab jika satu
golongan atau seseorang membuat perjanjian dengan golongan lain yang lebih
besar dan kuat daripadanya untuk menenteramkan hati mereka, kemudian jika ada
kesempatan, dia mengkhianati perjanjian itu, maka tingkah laku seperti demikian
itu dipandang sebagai suatu penipuan.


Allah swt melarang tingkah laku demikian karena termasuk perbuatan
bodoh dan gila, walaupun dia dari golongan yang kecil berhadapan dengan
golongan yang besar. Lebih terlarang lagi jika golongan besar membatalkan
perjanjian terhadap golongan yang lebih kecil.


Diriwayatkan bahwa Mu’awiyah, khalifah pertama Dinasti Bani
Umaiyyah, pernah mengadakan perjanjian damai dengan Kaisar Romawi dalam jangka
tertentu. Menjelang akhir perjanjian damai tersebut, Mu’awiyah membawa
pasukannya ke perbatasan dengan rencana bila saat perjanjian itu berakhir dia
langsung akan menyerang. Lalu seorang sahabat bernama Amr bin Anbasah berkata
kepadanya, “Allahu Akbar, wahai Mu’awiyah, tepatilah janji, jangan
khianat, aku pernah mendengar Rasul saw bersabda: Barang siapa ada
perjanjian waktu antara dia dengan golongan lain, maka sekali-kali janganlah
dia membatalkan perjanjian itu sampai habis waktunya.
(Riwayat Imam Ahmad)


Setelah Mu’awiyah mendengarkan peringatan temannya itu, dia pun
pulang membawa kembali pasukannya. Demikianlah Islam menetapkan
ketentuan-ketentuan dalam tata pergaulan antara manusia untuk menguji di antara
mereka siapakah yang paling kuat berpegang kepada perjanjian yang mereka adakan
sendiri, baik perjanjian itu kepada Allah dan rasul-Nya seperti bai’at, ataupun
kepada sesama manusia. Pada hari kiamat kelak akan kelihatan: mana yang hak dan
mana yang batil serta mana yang jujur dan mana yang khianat. Segala
perselisihan akan dijelaskan, masing-masing akan mendapat ganjaran dari Allah
swt.

AYAT KETIGA:

Usai menjelaskan balasan bagi orang munafik dan kafir, pada ayat
ini Allah memberi teguran kepada orang mukmin yang lalai pada ibadahnya. Belum
tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang tidak
meragukan janji Allah, untuk secara khusyuk mengingat Allah dengan berzikir dan
beribadah, dan mematuhi kebenaran Al-Qur’an yang telah diwahyukan kepada
mereka? Dan janganlah mereka berperilaku seperti orang-orang yang telah
menerima kitab sebelum itu, di mana sebagian dari mereka mengingkari hukumnya
dan sebagian yang lain menyembunyikan atau mengubah isinya, kemudian mereka
melalui masa yang panjang tanpa adanya rasul yang mengingatkan mereka se-hingga
pada akhirnya hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi
orang-orang fasik karena tidak ada yang mengingatkan kekeliruannya. Wahai orang
yang beriman, ketahuilah bahwa Allah berkuasa menghidupkan bumi setelah mati
dan kering-nya dengan menurunkan hujan sehingga bumi menjadi subur dan menjadi
media tumbuh tanaman. Sungguh, telah Kami jelaskan kepadamu sebagian dari
tanda-tanda kebesaran Kami, baik yang ada di alam semesta atau pada dirimu
sendiri, agar kamu mengerti.


أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا
أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نزلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا
يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ
فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ
وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
(16)

Belumkah
datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka
mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun 
(kepada mereka), dan
janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab
kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka
menjadi keras.
Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang
yang fasik. 
(Q.S. Al-Hadid {57}: 16)


Keterangan:

Pada ayat ini Allah menegur dan memperingatkan orang-orang Mukmin
tentang keadaan mereka yang berlalai-lalai. Belum datangkah waktunya bagi
orang-orang Mukmin untuk mempunyai hati yang lembut, senantiasa mengingat
Allah, suka mendengar dan memahami ajaran-ajaran agama mereka, taat dan patuh
mengikuti petunjuk-petunjuk kebenaran yang telah diturunkan, yang terbentang di
dalam Al-Qur’an. Selanjutnya orang-orang Mukmin diperingatkan agar jangan
sekali-kali meniru-niru orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah diberikan
Kitab Taurat dan Injil. Sekalipun telah lama dan memakan waktu agak panjang,
mereka belum juga mengikuti dan memahami ajaran mereka dan nabi-nabi mereka,
sehingga hati mereka menjadi keras dan susah membantu, tidak lagi dapat
menerima nasihat, tidak membekas pada diri mereka ancaman-ancaman yang
ditujukan kepada mereka. Mereka mengubah Kitab yang ada di tangan mereka dan
ajaran-ajaran Kitab mereka dilempar jauh-jauh. Pendeta dan pastur mereka
jadikan tuhan selain Allah, membikin agama tanpa alasan. Kebanyakan mereka
menjadi fasik, meninggalkan ajaran-ajaran mereka yang asli. Sejalan dengan ayat
ini firman Allah: (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami
melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka
mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian
pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan
melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka
(yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh,
Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik
. (al-Ma’idah/5: 13)


AYAT KEEMPAT:

Sesudah Nabi Nuh dan Ibrahim, kemudian Kami susulkan rasul-rasul
Kami untuk mengikuti jejak mereka, yaitu dengan mengajak umatnya beriman dan
mentaati perintah-Nya, dan Kami susulkan pula Isa putra Maryam, dan Kami
berikan Injil kepadanya sebagai pedoman bagi umatnya, dan Kami jadikan rasa
santun dan kasih sayang kepada sesama manusia dalam hati orang-orang yang
mengikutinya. Sebagian dari mereka mengada-adakan rahbàniyyah, yaitu hidup
membujang dan mengurung diri dalam biara, padahal Kami tidak mewajibkannya
kepada mereka. Kami hanya mewajibkan mereka untuk mencari keridaan Allah,
tetapi tuntunan itu tidak mereka pelihara dengan semestinya. Maka, kepada orang-orang
yang beriman di antara mereka dan berbuat kebajikan, Kami berikan pahalanya.
Dan banyak di antara mereka yang fasik dengan mengingkari atau mengubah ajaran
itu. Allah menerangkan keingkaran Ahli Kitab pada kenabian Muhammad.


Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah.
Laksanakan semua perintah-Nya dan jauhilah semua larangan-Nya, dan berimanlah
kepada Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad yang diutus untuk melengkapi dan
meluruskan syariat terdahulu. Jika kamu melaksanakannya, niscaya Allah
memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, yaitu kebahagiaan di dunia dan
kemuliaan di akhirat, dan menjadikan cahaya terang untukmu yang dengan cahaya
itu kamu dapat berjalan dengan tenang tanpa takut tersesat, serta Dia akan mengampuni
semua dosa kamu bila kamu bertobat dengan sungguh-sungguh. Dan Allah Maha
Pengampun atas dosamu dan dosa seluruh manusia yang bertobat, Maha Penyayang
kepada semua makhluk-Nya.


ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَى آثَارِهِمْ
بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَآتَيْنَاهُ الإنْجِيلَ
وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً
وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلا ابْتِغَاءَ
رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا فَآتَيْنَا
الَّذِينَ آمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
(27)

Kemudian Kami
iringkan di belakang mereka rasul-rasul Kami dan Kami iringkan 
(pula) Isa putra
Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati
orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka
mengada-adakan rahbaniyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka,
tetapi 
(mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk
mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan
yang semestinya.
Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di
antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.
(Q.S.
Al-Hadid {57}: 27)


Keterangan:

Demikianlah Allah mengutus para rasul, kemudian diiringi pula oleh
rasul-rasul yang sesudahnya, untuk menyampaikan agama-Nya kepada manusia,
sehingga tidak ada alasan bagi manusia di akhirat untuk mengatakan, mengapa
mereka diazab padahal kepada mereka tidak diutus seorang rasul pun. Dalam ayat
ini Allah mengkhususkan keterangan tentang Isa karena banyak
pengikut-pengikutnya yang fasik, yaitu mengubah-ubah, menambah dan mengurangi
ajaran-ajaran yang disampaikan Isa. Diterangkan bahwa Isa adalah putra Maryam,
diberikan kepadanya Kitab Injil, berisi pokok ajaran yang agar dijadikan
petunjuk oleh kaumnya dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat
dan sebagai penyempurnaan ajaran Allah yang terdapat dalam kitab Taurat yang
telah diturunkan kepada Nabi Musa sebelumnya. Kemudian diterangkan sifat-sifat
pengikut Nabi Isa:

1.     
Allah swt
menjadikan dalam hati mereka rasa saling menyantuni sesama mereka, mereka
berusaha menghindarkan kebinasaan yang datang kepada mereka dan saudara-saudara
mereka serta berusaha memperbaiki kebinasaan yang terjadi pada mereka.

2.     
Antara sesama
mereka terdapat hubungan kasih sayang dan menginginkan kebaikan pada diri
mereka. Sekalipun mereka telah mempunyai sifat-sifat terpuji dan baik seperti
yang diajarkan Nabi Isa, tetapi mereka melakukan kefasikan, yaitu
mengada-adakan rahbaniyyah, dengan menetapkan ketentuan larangan kawin bagi
pendeta-pendeta mereka, padahal perkawinan termasuk sunah Allah yang ditetapkan
bagi makhluk-Nya. Mereka menetapkan rabbaniyah itu dengan maksud mendekatkan
diri kepada Allah, tetapi Allah tidak pernah menetapkannya. Karena itu mereka
adalah orang yang suka mengada-adakan sesuatu yang bertentangan dengan
sunatullah, yaitu tidak mensyariatkan perkawinan bagi pendeta-pendeta mereka
yang tujuannya untuk melanjutkan keturunan dan menjaga kelangsungan hidup manusia.
Perbuatan fasik lain yang mereka lakukan, ialah mereka telah mengubah, menambah
dan mengurangi agama yang dibawa Nabi Isa, yang terdapat dalam Injil, karena
memperturutkan hawa nafsu mereka.


Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia akan memberikan
pahala yang berlipat-ganda kepada orang-orang yang beriman, mengikuti syariat
yang dibawa para rasul, tidak mengadaadakan yang bukan-bukan dan tidak pula
menambah dan mengubah kitab-kitab-Nya. Sedang kepada orang-orang fasik itu akan
ditimpakan azab yang sangat berat.

HADITS PERTAMA:

وعن عبد الله بن
عمرو بن العاص رضي الله عنهما، قَالَ: قَالَ لي رسول الله – صلى الله عليه وسلم:
«يَا عبْدَ الله، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلانٍ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ
قِيَامَ اللَّيْلِ». متفقٌ عَلَيْهِ

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Āṣ -raḍiyallāhu ‘anhumā- mengatakan,
Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda padaku,“Wahai
Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti fulan! Ia dulu mengerjakan salat
malam, lalu meninggallkan salat malam.” (H.R. Muttafaq Alaih)


Keterangan:

Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- melarang Abdullah bin ‘Amr
meninggalkan salat malam sebagaimana yang dilakukan oleh si fulan. Nama orang
ini tidak disebutkan demi untuk menutupi identitasnya. seyogyanya seorang
muslim tidak berlebih-lebihan dalam beribadah dan tidak membebani diri dalam
mengerjakan ketaatan-ketaatan yang tidak mampu ia laksanakan. Siapa yang
melakukan hal ini, justru agama akan mengalahkan dirinya (membuatnya
bosan dan lelah)
 karena banyaknya ragam amalan dan ketaatan, hingga
pada akhirnya ia akan merasa lemah dan meninggalkan amalan, lagi pula Allah
-Ta’ālā- mewajibkan tugas-tugas ketaatan pada para hamba-Nya tidak dalam satu
waktu sekaligus dengan tujuan memberikan kemudahan dan sebagai rahmat bagi
mereka. Pasalnya, manusia itu apabila memilih kadar amalan yang
pertengahan (tidak banyak dan tidak sedikit) niscaya
amalnya akan terus dikerjakan secara konsisten dan ia pasti sanggup menunaikan
semua hak yang diwajibkan padanya dengan baik dan tidak tergesa-gesa; baik
berupa hak Allah -Ta’ālā-, hak dirinya sendiri, maupun hak keluarga dan para
sahabatnya. Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya
amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling berkesinambungan meskipun
sedikit.”
 Jadi, seyogyanya manusia memiliki amalan rutin
berupa bacaan zikir (atau salat) di malam hari
sesuai kemampuannya. 

Pelajaran
yang dapat dipetik dari hadits ini adalah:

1.     
Tidak menyebut nama seseorang untuk
memberi contoh perbuatan yang tidak baik.

2.     
Jangan menurunkan intensitas beramal
baik, yang tadinya rajin kemudian menjadi malas.

avatar Tidak diketahui
Author

Admin Kominfo

Follow Me
Other Articles
Previous

UJIAN NABI IBRAHIM

Next

SYARIAT SEPUTAR IBADAH QURBAN Bagian 1

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — Pemuda Persis Batununggal. All rights reserved. Kominfo