Dalam perjalanan sejarahnya keberadaan mesjid merupakan tempat yang sangat penting untuk membangun masyarakat yang berkualitas. Maka yang perlu kita benahi sekarang ini adalah mengupayakan agar mesjid menjadi pusat pembinaan umat ini benar-benar berfungsi sebagai wahana pembinan umat.
Cara memakmurkan mesjid ada dua macam, ada secara hissiyyah dan secara maknawiyyah. Secara hissiyyah dengan cara membangun dan memeliharanya, dan secara maknawiyyah mengisinya dengan salat dan zikir kepada Allah swt.
Jika kita menengok ke belakang kepada perjuangan Rasulullah saw. dalam membangun, membina dan menata umat, beliau tidak memulai perjuangan dari pembangunan mesjid yang megah, pesantren dan sarana-sarana lainnya, akan tetapi beliau memulai perjuangannya dengan membangun diri-diri pemakmur mesjid. Dengan kata lain, beliau mendahulukan pembangunan sumber daya manusianya daripada sarana-sarana penunjang perjuangannya.
Sejarah pun mencatat, di Mekah Rasulullah saw. tidak mendirikan satu bangunan apa pun, tetapi beliau membina sahabat-sahabatnya di rumah Al-Arqam bin Abi Arqam. Dan baru di Madinahlah beliau mendirikan sebuah mesjid yang sederhana, karena pemakmurnya sudah dipersiapkan.
Hanya yang patut disayangkan dewasa ini, tidak sedikit saudara kita yang lebih mementingkan dan mendahulukan membangun sarana-sarana peribadatan dan pendidikan tanpa terlebih dahulu memikirkan siapa pengisi dan pemakmurnya. Akibatnya dapat kita lihat berapa banyak mesjid yang berdiri megah dengan tidak jelas siapa imamnya, dan tidak sedikit pesantren yang dibangun mentereng dengan asatidz yang kurang berkualitas. Ini adalah tugas kita semua untuk memecahkannya.
Contributor:
Al-Ustadz Faqih Aulia (Tim LITKA PC Pemuda PERSIS Batununggal)
