“HUKUM
BERZIARAH KE TEMPAT-TEMPAT
YANG
DIAZAB OLEH ALLAH SWT.”
Oleh: Faqih Aulia (14.3887 & 06.62)
MUQODDIMAH:
Dalam
perjalanan kehidupan manusia, bumi menjadi saksi atas berbagai peristiwa besar
yang terjadi di sepanjang sejarah. Di antara peristiwa-peristiwa tersebut, ada
tempat-tempat yang menyimpan jejak azab Allah SWT terhadap umat-umat terdahulu
yang membangkang terhadap ajaran-Nya. Tempat-tempat ini, seperti wilayah kaum
‘Ad, kaum Tsamud, dan kaum Nabi Luth, menjadi bukti nyata bagaimana kemurkaan
Allah SWT diturunkan kepada mereka yang enggan tunduk kepada wahyu dan justru
memilih jalan kesesatan.
Namun,
di balik kisah tragis yang menyelimuti tempat-tempat ini, timbul sebuah
pertanyaan penting: bagaimana pandangan Islam mengenai hukum berkunjung atau
berziarah ke lokasi-lokasi tersebut? Apakah hal ini diperbolehkan dalam
syariat, ataukah dilarang karena tempat tersebut telah menjadi tanda kemurkaan
Allah SWT?
Pertanyaan
ini tidaklah sekadar menyentuh persoalan hukum fiqih semata, tetapi juga
mencakup dimensi spiritual, etika, dan hikmah dalam mengambil pelajaran dari
sejarah umat-umat terdahulu. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
فَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ
خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَشِيدٍ (45)
“Maka betapa banyak negeri yang Kami binasakan karena
penduduknya zalim, sehingga bangunan-bangunannya roboh, dan betapa banyak sumur
yang telah ditinggalkan dan istana yang (tidak lagi) dihuni!” (QS. Al-Hajj: 45)
Ayat ini
mengingatkan kita akan kehancuran yang menimpa kaum-kaum terdahulu akibat
kezaliman mereka, dan pada saat yang sama mengajarkan pentingnya mengambil
pelajaran dari peristiwa tersebut. Rasulullah SAW pun pernah memberikan arahan
khusus terkait sikap seorang Muslim ketika berhadapan dengan tempat-tempat yang
menjadi saksi turunnya azab Allah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah SAW ketika melewati
perkampungan kaum Tsamud yang diazab oleh Allah SWT, beliau memperingatkan para
sahabat untuk tidak memasuki tempat tersebut kecuali dengan sikap penuh
kehati-hatian dan rasa takut, agar tidak tertimpa apa yang menimpa mereka.
Sebagai
seorang Muslim, memahami hukum dan adab ketika berziarah ke tempat-tempat yang
diazab Allah SWT bukanlah sekadar wacana akademis, tetapi merupakan bagian dari
pengamalan ajaran agama secara menyeluruh. Hal ini mencakup niat yang benar,
sikap yang tepat, serta kesadaran untuk menjadikan peristiwa tersebut sebagai
pelajaran yang mendalam.
Dalam
pembahasan ini, kita akan mengupas hukum berziarah ke tempat-tempat tersebut
berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an, hadits Nabi SAW, serta pandangan para ulama.
Kita juga akan melihat bagaimana ziarah semacam ini dapat membawa hikmah bagi
seorang Muslim, namun pada saat yang sama, memiliki batasan dan larangan yang
harus diperhatikan agar tidak keluar dari koridor syariat.
Semoga
pembahasan ini membuka wawasan kita untuk lebih memahami hikmah di balik
larangan dan perintah Allah SWT, serta menjadikan kita hamba yang senantiasa
belajar dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
TEMPAT-TEMPAT
YANG DIAZAB OLEH ALLAH SWT:
Berikut
adalah penjelasan mengenai tempat-tempat yang pernah diazab oleh Allah SWT,
dalil dari Al-Qur’an dan hadits, lokasi tempat tersebut saat ini, serta
penyebab azab tersebut.
PERTAMA:
Kaum ‘Ad
(Wilayah Al-Ahqaf).
وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ (41) مَا
تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ (42)
“Dan
juga pada (kisah) kaum ‘Ad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang
membinasakan. Angin itu tidak membiarkan sesuatu yang dilandanya, melainkan
menjadikannya seperti serbuk.” (QS. Adz-Dzariyat: 41-42)
Penyebab
Azab: Kaum ‘Ad menolak dakwah Nabi Hud AS,
menyombongkan diri, dan mempersekutukan Allah SWT.
Lokasi
Saat Ini: Al-Ahqaf, wilayah di sekitar Yaman dan Oman.
Bentuk
Azab: Mereka diazab dengan angin topan yang kencang
selama tujuh malam delapan hari.
KEDUA: Kaum
Tsamud (Madain Shalih, Arab Saudi).
فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُصْبِحِينَ (83) فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ مَا
كَانُوا يَكْسِبُونَ
(84)
“Lalu
mereka disambar oleh suara keras pada pagi hari, maka mereka tidak mampu
bangkit dan tidak pula mereka mendapat pertolongan.” (QS.
Al-Hijr: 83-84)
Penyebab
Azab: Kaum Tsamud menolak dakwah Nabi Shalih AS,
menyembelih unta mukjizat yang menjadi tanda kebenaran dakwahnya.
Lokasi
Saat Ini: Madain Shalih (sekarang Al-Hijr) di Arab
Saudi.
Bentuk
Azab: Mereka dibinasakan dengan suara keras yang
mengguncang bumi.
KETIGA: Kaum
Luth (Sodom dan Gomora).
جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ
سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ
(82)
“Maka Kami
jadikan negeri itu yang di atas ke bawah (dibalikkan), dan Kami hujani mereka
dengan batu dari tanah yang terbakar.” (QS. Hud: 82)
Penyebab Azab: Perbuatan homoseksual yang dilakukan secara
terbuka oleh kaum Nabi Luth AS.
Lokasi Saat
Ini: Wilayah Sodom
dan Gomora, yang diyakini terletak di sekitar Laut Mati (Palestina dan
Yordania).
Bentuk Azab: Tanah mereka dibalikkan dan dihujani batu dari
tanah yang terbakar.
KEEMPAT: Kaum Fir’aun (Mesir Kuno).
فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ
فِي الْيَمِّ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ (40)
“Maka Kami
hukum Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut.
Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashash: 40)
Penyebab Azab: Kesombongan Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan
dan penindasannya terhadap Bani Israil.
Lokasi Saat
Ini: Mesir (di sekitar
Laut Merah).
Bentuk Azab: Fir’aun dan tentaranya ditenggelamkan di Laut
Merah.
KELIMA: Ashab Al-Fil (Tentara Bergajah, Mekah).
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ
بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2)
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ(3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ
سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)
“Apakah
kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara
bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan Dia
mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka
dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti
daun-daun yang dimakan (ulat).”
(QS. Al-Fil: 1-5)
Penyebab Azab: Pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah ingin
menghancurkan Ka’bah.
Lokasi Saat
Ini: Wilayah Mekah,
Arab Saudi.
Bentuk Azab: Mereka dihancurkan dengan burung Ababil yang
membawa batu dari neraka.
KEENAM: Kaum Madyan (Kaum Nabi Syu’aib).
وَإِنْ كَانَ أَصْحَابُ الأيْكَةِ لَظَالِمِينَ
(78) فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُبِينٍ (79)
“Dan
penduduk Aikah itu benar-benar kaum yang zalim. Maka Kami menghukum mereka, dan
sesungguhnya kedua (kota itu) berada di jalan umum yang nyata.” (QS. Al-Hijr: 78-79)
Penyebab Azab: Mereka menolak dakwah Nabi Syu’aib AS, curang
dalam timbangan, dan melakukan penipuan dalam perdagangan.
Lokasi Saat
Ini: Wilayah
sekitar Madinah dan Yordania.
Bentuk Azab: Mereka diazab dengan gempa bumi dan suara
keras.
Hikmah
dari Tempat-Tempat yang Diazab:
Allah SWT
menyebutkan kisah-kisah umat yang diazab ini agar manusia mengambil pelajaran,
meninggalkan perbuatan maksiat, dan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya. Sebagaimana
firman-Nya:
فَاعْتَبِرُوا يَا
أُولِي الأبْصَارِ
(2)
“Maka
ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang
mempunyai pandangan!” (QS. Al-Hasyr:
2)
HUKUM BERZIARAH KE TEMPAT-TEMPAT YANG DIAZAB OLEH ALLAH:
Hukum berziarah atau berkunjung ke daerah yang pernah diazab oleh
Allah memiliki rincian hukum berdasarkan niat dan sikap ketika mengunjunginya.
Islam membolehkan berkunjung dengan syarat mengambil pelajaran, namun melarang
berkunjung dengan tujuan rekreasi atau sikap lalai. Berikut penjelasannya:
PERTAMA: Larangan Mengunjungi dengan Sikap Lalai atau untuk Rekreasi.
Rasulullah ﷺ melarang kaum
Muslimin mendatangi tempat-tempat yang pernah diazab kecuali dengan penuh
kehati-hatian dan untuk mengambil pelajaran.
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا
مَرَّ بِالْحِجْرِ قَالَ لَا تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا
أَنْفُسَهُمْ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ
ثُمَّ تَقَنَّعَ بِرِدَائِهِ وَهُوَ عَلَى الرَّحْلِ
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melewati Al-Hijr
bersabda: “Janganlah
kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi diri mereka
sendiri kecuali kalian dalam keadaan menangis, agar tidak menimpa kalian apa
yang telah menimpa mereka.” Kemudian beliau menutup wajahnya
dengan kain selendangnya saat berada di atas tunggangannya. (HR. Bukhari no.
3380, Muslim no. 2980)
Hadits ini menunjukkan larangan untuk mengunjungi tempat-tempat
tersebut jika tanpa ada rasa takut kepada Allah dan tanpa mengambil pelajaran.
KEDUA: Dianjurkan untuk Mengambil Pelajaran.
Berziarah ke tempat yang pernah diazab dibolehkan jika tujuannya
untuk mengingat azab Allah dan mengambil pelajaran agar meningkatkan keimanan.
Hal ini sejalan dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an untuk memperhatikan jejak
kaum yang diazab:
قُلْ سِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ
كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ
(69)
“Maka berjalanlah kalian di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana
kesudahan orang-orang yang berdosa.” (QS. An-Naml: 69)
Ayat ini menunjukkan bahwa perjalanan untuk mengambil pelajaran dari
umat terdahulu adalah bentuk ibrah (pengajaran) yang dianjurkan.
KETIGA: Larangan Berlebihan di Tempat Tersebut.
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ
memperingatkan agar tidak menggunakan air atau memanfaatkan sesuatu dari daerah
yang pernah diazab. Misalnya ketika melewati daerah kaum Tsamud:
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
أَخْبَرَهُ أَنَّ النَّاسَ نَزَلُوا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَرْضَ ثَمُودَ الْحِجْرَ فَاسْتَقَوْا مِنْ بِئْرِهَا وَاعْتَجَنُوا بِهِ
فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُهَرِيقُوا
مَا اسْتَقَوْا مِنْ بِئْرِهَا وَأَنْ يَعْلِفُوا الْإِبِلَ الْعَجِينَ
وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَسْتَقُوا مِنْ الْبِئْرِ الَّتِي كَانَتْ تَرِدُهَا
النَّاقَةُ.
Bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma memberitahukan bahwa
orang-orang singgah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di daerah
Tsamud, yaitu Al-Hijr. Mereka mengambil air dari sumurnya dan menggunakannya
untuk mengaduk adonan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan mereka untuk membuang air yang telah mereka ambil dari sumur
tersebut dan memberikan adonan itu kepada unta-unta. Beliau juga memerintahkan
mereka untuk mengambil air dari sumur yang dahulu didatangi oleh unta betina
(unta Nabi Shalih). (HR. Bukhari no. 3379)
Berdasarkan pemaparan, penjelasan dan keterangan yang kami
dapatkan, maka kami simpulkan mengenai Hukum Berziarah ke Tempat-Tempat yang
Diazab oleh Allah SWT.:
1.
Dibolehkan jika tujuannya untuk mengambil pelajaran dan meningkatkan
keimanan.
2.
Dilarang jika dilakukan dengan sikap lalai, tujuan rekreasi, atau
tanpa rasa takut kepada Allah.
3.
Disyariatkan untuk menunjukkan sikap khusyuk, rasa takut, dan
mengingat kebesaran Allah ketika berada di tempat tersebut.
4.
Kunjungan seperti ini menjadi pengingat akan akibat buruk dari dosa
dan keingkaran terhadap perintah Allah.
KESIMPULAN:
Perjalanan
manusia di dunia ini selalu diwarnai dengan jejak sejarah yang memberikan
pelajaran besar bagi umat manusia. Tempat-tempat yang pernah menjadi saksi azab
Allah SWT terhadap kaum yang membangkang, seperti wilayah kaum ‘Ad, Tsamud, dan
Nabi Luth, menyimpan hikmah yang tak ternilai. Dalam pandangan Islam,
kisah-kisah umat terdahulu yang diazab oleh Allah SWT bukan sekadar cerita masa
lalu, tetapi peringatan nyata untuk direnungkan.
Allah SWT
dengan tegas mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa kezaliman dan pembangkangan
terhadap ajaran-Nya tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Setiap azab yang
ditimpakan bukan hanya bentuk hukuman, tetapi juga pelajaran abadi bagi
generasi selanjutnya. Kisah ini mengajarkan bahwa kesombongan, perbuatan
maksiat, dan penyimpangan dari jalan Allah adalah jalan kehancuran.
Namun, di balik
peringatan tersebut, muncul pertanyaan mengenai hukum berziarah ke
tempat-tempat yang telah diazab Allah. Islam memandang bahwa niat, sikap, dan
adab ketika mengunjungi tempat-tempat tersebut menjadi kunci utama. Rasulullah
SAW telah memberikan contoh bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap:
dengan penuh rasa takut dan kesadaran akan kebesaran Allah SWT, bukan untuk
tujuan rekreasi atau mengagumi kehancuran.
Adapun hikmah
dari ziarah ini adalah memperkuat iman, menumbuhkan rasa syukur, dan mengambil
pelajaran dari umat terdahulu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Firman
Allah dalam QS. Al-Hasyr: 2, “Maka ambillah pelajaran, wahai
orang-orang yang berakal,” menjadi pengingat bahwa setiap kejadian
memiliki hikmah yang harus kita pahami.
Oleh karena
itu, pembahasan mengenai tempat-tempat yang diazab Allah SWT bukan hanya
menyentuh aspek sejarah, tetapi juga dimensi spiritual dan etika. Semoga dengan
memahami kisah-kisah ini, kita menjadi hamba yang lebih tunduk kepada-Nya,
menjauhi maksiat, dan menjadikan sejarah umat terdahulu sebagai cermin dalam
menapaki kehidupan. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup yang penuh
kesadaran, ketakwaan, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Dalam jejak sejarah
manusia, ada tempat-tempat yang menjadi saksi bisu atas kemurkaan Allah SWT,
ketika manusia melupakan jati diri sebagai hamba dan melawan aturan-Nya.
Tempat-tempat itu kini menjadi peringatan yang nyata bagi kita semua. Tetapi,
sadarkah kita bahwa kehadiran di tempat-tempat seperti itu memerlukan sikap
yang tepat, bukan sekadar keingintahuan atau pengagungan sejarah semata? Berziarah
ke wilayah kaum ‘Ad yang disapu angin ribut, atau tanah Sodom yang dibalikkan,
bukanlah perjalanan wisata, melainkan perjalanan introspeksi. Rasulullah SAW
telah mengingatkan: saat memasuki tempat yang diazab, masuklah dengan rasa
takut kepada Allah, agar kita tidak tertimpa apa yang mereka alami. Karena, di
setiap keruntuhan mereka, ada hikmah yang harus diambil, bukan sekadar cerita
yang diulang-ulang. Ingatlah, sejarah bukanlah hanya tentang masa
lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita memahami masa kini untuk menciptakan
masa depan yang lebih baik. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton yang
acuh, sementara tanda-tanda kebesaran Allah terpampang nyata di depan mata
kita.”
