Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal
Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal
  • Beranda
  • Blog
  • Dashboard
  • Kategori
  • TASYKIL PC
  • Beranda
  • Blog
  • Dashboard
  • Kategori
  • TASYKIL PC
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
AmalanIbadahIslam

PETUNJUK PRAKTIS PENGURUSAN JENAZAH DALAM ISLAM: Lengkap Beserta Dalil Landasannya

avatar Tidak diketahui
By Admin Kominfo
21 Januari 2025 19 Min Read
0

 

PETUNJUK
PRAKTIS

PENGURUSAN
JENAZAH DALAM ISLAM

Oleh: Faqih Aulia (14.3887 & 06.62)

MUQODDIMAH:

Kematian
adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindarkan oleh setiap makhluk yang
hidup. Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an:

كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّما تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ
الْقِيامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فازَ
وَمَا الْحَياةُ الدُّنْيا إِلاَّ مَتاعُ الْغُرُورِ
(185)

“Setiap
yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah
diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan
dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia
hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali Imran: 185)

Sebagai
seorang Muslim, kematian[1]
bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan pintu gerbang menuju kehidupan
akhirat.

Maka,
perlakuan terhadap jenazah seorang Muslim memiliki aturan yang penuh kehormatan
dan kepatuhan kepada syariat Islam. Dalam Islam, mengurus jenazah bukan hanya
sebuah kewajiban fardhu kifayah, tetapi juga wujud penghormatan terakhir kepada
sesama Muslim yang telah mendahului kita.

Tuntunan
Nabi Muhammad SAW dalam mengurus jenazah memberikan pedoman yang sangat jelas
dan penuh hikmah. Dari memandikan, mengafani, menyalati, hingga menguburkan
jenazah, semuanya dilakukan dengan penuh kehati-hatian, kasih sayang, dan
penghormatan. Setiap langkah dalam prosesi ini tidak hanya memuliakan jenazah
tetapi juga menjadi pengingat bagi yang hidup bahwa mereka pun suatu hari akan
menjalani proses yang sama.

Tidak
sedikit keutamaan yang disampaikan dalam hadits-hadits shahih terkait mengurus
jenazah. Di antaranya, Nabi Muhammad SAW bersabda:

عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ
عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ
قِيرَاطَانِ”. قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ: “مِثْلُ
الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ
“.

Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
“Barang
siapa menghadiri jenazah hingga ia menyalatinya, maka ia mendapatkan pahala
satu qirath. Dan barang siapa menghadirinya hingga jenazah itu dikuburkan, maka
ia mendapatkan pahala dua qirath.”
Ada yang bertanya, “Apakah dua qirath
itu?” Beliau menjawab,
“Seperti dua gunung yang besar.” (HR.
Al-Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945).

Hadits ini
menunjukkan betapa besar pahala bagi siapa saja yang ikut terlibat dalam proses
pengurusan jenazah, mulai dari menyolati hingga menghadiri penguburannya.

 

 

Oleh
karena itu, memahami tata cara mengurus jenazah sesuai dengan tuntunan
Rasulullah SAW adalah bagian dari menjalankan syariat Islam secara kaffah.
Tidak hanya menjadi kewajiban sosial, tetapi juga sebagai bentuk ibadah kepada
Allah SWT. Pada kesempatan ini, mari kita pelajari dengan saksama empat tahapan
utama dalam mengurus jenazah seorang Muslim: memandikan, mengafani, menyalati,
dan menguburkan. Setiap tahapan akan dijelaskan secara rinci, lengkap dengan
adab dan tata caranya berdasarkan dalil-dalil shahih.

Semoga
pembahasan ini tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga menguatkan iman dan
memotivasi kita untuk lebih baik dalam menghormati jenazah saudara Muslim kita.
Mari kita mulai dengan tahap pertama, yaitu memandikan jenazah.

PERTAMA: Memandikan
Jenazah.

a)     
Memandikan jenazah tidak boleh kasar apalagi
menyakitinya, karena menyakiti fisik si mayit seperti menyakiti pada masa
hidupnya.

b)     
Mulailah mencuci anggota wudhunya (boleh tidak
berurutan) lalu mandikanlah dengan memulai bagian yang kanan terlebih dahulu,
setelah itu cucilah seluruh badannya. Lakukanlah memandikan mayit itu sebanyak
3 kali atau 5 kali atau 7 kali jika perlu.

c)     
Balurilah badan mayit itu dengan kapur barus
dan pakaikanlah wewangian.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ
كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا. رواه أحمد وأبو داود

Dari Aisyah,
“Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, ‘Memecahkan tulang mayit seperti
memecahkan tulangnya ketika masih hidup.”
H.r.
Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَسْلِ ابْنَتِهِ, اِبْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ
الْوُضُوءِ مِنْهَا.

Dari
Ummu Athiyyah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda ketika orang-orang akan
memandikan jenazah putrinya, ‘Mulailah dari bagian kanan dan anggota-anggota
wudunya.”
H.r. Al-Bukhari dan Muslim

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ:
تُوُفِّيَتْ إِحْدَى بَنَاتِ النَّبِيِّ فَأَتَانَا النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اِغْسِلْنَهَا بِالسِّدْرِ وِتْرًا ثَلاَثًا أَوْ
خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ وَاجْعَلْنَ فِي
اْلآخِرَةِ كَافُورًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي
فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ فَأَلْقَى إِلَيْنَاحِقْوَهُ فَضَفَرْنَا شَعَرَهَا
ثَلاَثَةَ قُرُونٍ وَأَلْقَيْنَاهَا خَلْفَهَا . رواه الجماعة

Dari
Ummu ‘Athiyah, ia berkata, “Telah wafat salah satu putri Nabi saw. lalu beliau
mendatangi kami seraya bersabda, ‘Mandikanlah dia (dengan air) dan daun bidara,
sebanyak tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu jika kamu pandang perlu. Dan
buatlah (balurilah) kapur barus atau sedikit daripadanya di akhirnya. Apabila
kalian telah selesai beritahulah aku. Ketika telah selesai, kami memberitahukan
beliau, lalu beliau menyodorkan kain kepada kami, lalu kami memintal rambut
mayit itu dengan tiga pintalan dan kami tempatkan kebelakang.”
H.r. Al-jamaah

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: إِنَّ
آدَمَ عَلَيْهِ السَّلام قَبَضَتْهُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَسَّلُوهُ وَكَفَّنُوهُ
وَحَنَّطُوهُ وَحَفَرُوا لَهُ وَأَلْحَدُوا لَهُ وَصَلَّوْا عَلَيْهِ ثُمَّ
دَخَلُوا قَبْرَهُ فَوَضَعُوهُ فِي قَبْرِهِ وَوَضَعُوا عَلَيْهِ اللَّبِنَ ثُمَّ
خَرَجُوا مِنَ الْقَبْرِ ثُمَّ حَثَوْا عَلَيْهِ التُّرَابَ ثُمَّ قَالُوا: يَا
بَنِي آدَمَ هَذِهِ سُنَّتُكُمْ. رواه أحمد

Dari
Ubay bin Kaab, ia berkata, “Sesungguhnya Adam AS. diwafatkan malaikat. Lalu
mereka memandikannya, mengafaninya, memberi wewangian, menggagali kubur dan
liang lahatnya, menyalatinya, kemudian memasukkan dan meletakkan ke kuburannya,
dan meletakkan ubin lalu mereka keluar dari kuburan setelah itu mengurugnya
dengan tanah seraya berkata,’Hai anak Adam, inilah sunnah (tatacara pengurusan
jenazah) kalian.”
H.r. Ahmad

KEDUA: Mengafani Jenazah.

a)     
Carilah
kain yang berwarna putih selama masih ada dan lebar dan panjangnya disesuaikan
dengan jenazahnya.

b)     
Tidak
terlalu Mewah dan tidak terlalu jelek.

c)     
Buatlah
serapi mungkin ketika mengafani jenazah.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِلْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ
فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ . رواه الخمسة
إلا النسائي

Dari
Ibnu Abas ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Pakailah oleh kalian
pakaian-pakaian yang berwarna putih, karena (pakaian putih) sebaik-baik pakaian
kalian. Dan kafanilah yang mati di antara kalian dengan kain itu.”
H.r.
Al-Khamsah kecuali An-Nasai

عَنْ عَلِيِّ بْنِ
أَبِي طَالِبٍ قَالَ: لاَ تُغَالِ لِي فِي كَفَنٍ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لاَ تَغَالَوْا فِي الْكَفَنِ
فَإِنَّهُ يُسْلَبُهُ سَلْبًا سَرِيعًا. رواه أبو داود

Dari Ali
bin Abu Thalib, ia berkata, “Janganlah kamu berlebihan ketika mengafaniku,
karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘janganlah kalian
berlebih-lebihan dalam mengafani, karena itu merupakan pakaian yang akan cepat
rusak.”
H.r. Abu Daud

قَالَ أَبُو بَكْرٍ:
إِنَّ الْحَيَّ أَحَقُّ بِالْجَدِيدِ مِنَ الْمَيِّتِ إِنَّمَا هُوَ لِلْمُهْلَةِ.
رواه البخاري

Abu
Bakar berkata, “…Sesungguhnya yang hidup itu lebih berhak mengenakan yang baru
daripada mayit, (karena) kain kafan itu hanyalah (pakaian) untuk nanah (manusia
yang telah membusuk).”
Hr. Al-Bukhari

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ:قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ.
رواه مسلم

Dari
Jabir bin Abdullah ia berkata, “Nabi saw bersabda, ‘Apabila seorang di antara
kamu mengafani saudaranya, hendaklah memperbagus (merapikan) mengafaninya.”
H.r. Muslim

Jumlah Lembar
Kain Kafan:
Jumlah
lembar kain kafan untuk jenazah laki-laki dianjurkan 3 lembar kain agar
terbungkus dengan rapi. Sedangkan untuk jenazah perempuran dianjurkan 5 lembar
kain kafan, terdiri dari, 1 lembar kerudung, 1 lembar untuk baju kurung, 1
lembar untuk sarung dan 2 lembar untuk membungkus. Apabila tidak memungkinkan
karena kain kafan yang tidak cukup, maka boleh dengan 3 lembar kain saja
dibungkus langsung seperti halnya membungkus jenazah laki-laki. Tidak lupa
siapakan tali secukupnya untuk merapikan kafan pembungkus jenazah.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كُفِّنَ
فِي ثَلاَثَةِ أَثْوَابٍ يَمَانِيَةٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ لَيْسَ
فِيهِنَّ قَمِيصٌ وَلاَ عِمَامَةٌ. رواه البخاري ومسلم

Dari
Aisyah r.a., ia berkata, “Bahwasanya Rasulullah saw. dikafani dengan tiga lapis
kain yang putih yang terbuat dari kapas buatan negeri Yaman, yang tidak
bergamis dan bersorban.”
H.r. Al-Bukhari. Fathul Bari, III:180. Muslim,
I:375.

عَنْ لَيْلَى بِنْتِ
قَانِفٍ الثَّقَفِيَّةَ قَالَتْ: كُنْتُ فِيمَنْ غَسَّلَ أُمَّ كُلْثُومٍ بِنْتَ
رَسُولِ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ وَفَاتِهَا فَكَانَ أَوَّلُ مَا
أَعْطَانَا رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْحِقَاءَ ثُمَّ الدِّرْعَ ثُمَّ
الْخِمَارَ ثُمَّ الْمِلْحَفَةَ ثُمَّ أُدْرِجَتْ بَعْدُ فِي الثَّوْبِ اْلآخَرِ .
رواه أحمد وأبو داود

Dari
Laila binti Qanif as-Saqafiyah, ia berkata, “Saya di antara orang yang turut
memandikan Ummu Kulsum, puteri Rasulullah saw. di saat wafatnya. Yang pertama
disodorkan oleh Rasulullah saw. kepada kami adalah kain sarung, baju kurung,
kerudung, kemudian selimbut, lalu dikafani dengan pakaian lain.”
H.r.
Ahmad, Al-Musnad, I:324. Abu Daud, Aunul Ma’bud, VIII:433.

KETIGA: Menyalati
Jenazah.

Posisi
Menyalati Jenazah beraneka ragam, tergantung kepada yang menyalati dan jenazah
yang akan dishalatinya. Untuk lebih jelas, perhatikan poin-poin berikut ini:

a)     
Ketika dishalatkan, jenazah disyariatkan
dihadapkan ke arah kiblat.

b)     
Posisi imam atau munfarid untuk salat jenazah
laki-laki adalah di arah kepala.

c)     
Posisi imam atau munfarid untuk jenazah
perempuan adalah di arah tengah.

d)     
Posisi imam atau munfarid untuk jenazah
laki-laki dan perempuan adalah di arah kepala, karena jenazah laki-laki
diletakkan di depan dekat imam.

e)     
Akhir Jumlah takbir salat jenazah yang
dilakukan oleh Nabi saw. dan para sahabatnya adalah empat kali takbir, dan disyariatkan
untuk seterusnya.

f)      
Mengangkat tangan dalam salat jenazah dilakukan
setiap kali takbir.

عَنْ 
عُمَيْرٍ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مَا
الْكَبَائِرُ؟ فَقَالَ: هُنَّ تِسْعٌ …وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ الْمُسْلِمَيْنِ
وَاسْتِحْلاَلُ الْبَيْتِ الْحَرَامِ قِبْلَتِكُمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا. رواه
أبو داود

Dari
Umer, “Bahwasanya ada seseorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa
besar itu? Beliau menjawab,’…durhaka kepada orang tua muslim, membelakangi
Al-Baitul Haram, yaitu Kiblat kamu, ketika masih hidup dan sudah mati.”
H.r. Abu Daud

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ الْبَرَّاءَ
بْنَ مَعْرُورٍ أَوْصَى أَنْ يُّوَجَهَ إِلَى الْقِبْلَةَ لَمَّا احْتَضَرَ
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَابَ الْفِطْرَةَ. رواه الحاكم والبيهقي

Dari Abu
Qatadah, “Bahwa Al-Bara’ bin Ma’rur berwasiat agar dihadapkan ke kiblat apabila
wafat, maka Rasulullah saw., ‘Ia mendapatkan fitrah.”
H.r. Al-Hakim dan Al-Baihaqi

عَنْ سَمُرَةَ قَالَ: صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ مَاتَتْ فِي نِفَاسِهَا فَقَامَ عَلَيْهَا
وَسَطَهَا.

Dari
Samurah bin Jundab, ia berkata, “Aku pernah salat di belakang Nabi saw. (yaitu
menyalati) jenazah perempuan yang mati pada waktu nifas. Beliau berdiri di
tengah jenazah itu.”
H.r. Al-Jamaah

عَنْ أَبِي غَالِبٍ قَالَ شَهِدْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ صَلَّى
عَلَى جِنَازَةِ رَجُلٍ فَقَامَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَلَمَّا رُفِعَ أُتِيَ
بِجِنَازَةِ امْرَأَةٍ فَقَامَ وَسَطَهَا. وَفِينَا الْعَلاَءُ بْنُ زِيَادٍ الْعَدَوِيُّ
فَلَمَّا رَأَى اخْتِلاَفَ قِيَامِهِ عَلَى الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ قَالَ: يَا
أَبَا حَمْزَةَ هَكَذَا كَانَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُومُ
مِنَ الرَّجُلِ حَيْثُ قُمْتَ وَمِنَ الْمَرْأَةِ حَيْثُ قُمْتَ قَالَ نَعَمْ .
رواه أحمد

Dari Abu
Ghalib, ia berkata, “Aku pernah menyaksikan Anas bin Malik menyalati jenazah
seorang laki-laki, lalu ia berdiri di arah kepalanya. Ketika jenazah itu di
angkat, disodorkan kepadanya jenazah perempuan, lalu ia berdiri di tengahnya.
Di antara kami ada Al-Ala bin Ziyad Al-Adawi. Ketika Al-‘Ala melihat
perselisihan posisi berdiri Anas ketika menyalati jenazah laki-laki dan
perempuan, ia bertanya,’Wahai Abu Hamzah, beginikah Rasulullah saw. menyalati
jenazah laki-laki sebagaimana engkau berdiri dan menyalati jenazah perempuan
sebagaimana engkau berdiri? Anas menjawab, ‘ya’.”
H.r. Ahmad

عَنْ عَمَّارٍ قَالَ:حَضَرْتُ جَنَازَةَ
صَبِيٍّ وَامْرَأَةٍ فَقُدِّمَ الصَّبِيُّ مِمَّا يَلِي الْقَوْمَ وَوُضِعَتِ
الْمَرْأَةُ وَرَاءَهُ فَصَلَّى عَلَيْهِمَا وَفِي الْقَوْمِ أَبُو سَعِيدٍ
الْخُدْرِيُّ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَأَبُو قَتَادَةَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ
فَسَأَلْتُهُمْ عَنْ ذَلِكَ فَقَالُوا: اَلسُّنَّةُ. رواه النسائي

 

Dari
Ammar, ia berkata, “Aku pernah menghadiri jenazah anak laki-laki dan perempuan
(dewasa). Lalu dikedepankan jenazah anak itu dekat orang-orang (yang menyalati)
dan jenazah perempuan di belakangnya. Kemudian disalati keduanya. Di sana ada
Abu Said Al-Khudri, Ibnu Abbas, Abu Qatadah dan Abu Hurairah. Lalu Aku bertanya
kepada mereka mengenai hal itu? Mereka menjawab, ‘Itulah Sunnah (Rasulullah).”
H.r. An-Nasai

Jumlah Takbir:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ: كَانَ
زَيْدٌ يُكَبِّرُ عَلَى جَنَائِزِنَا أَرْبَعًا وَإِنَّهُ كَبَّرَ عَلَى جَنَازَةٍ
خَمْسًا فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَبِّرُهَا. رواه أحمد ومسلم وأبو داود والترمذي

Dari
Abdurrahman bin Abu Laila, ia berkata, “Zaid (bin Arqam) pernah salat jenazah
dengan empat kali takbir dan ia juga pernah menyalati jenazah dengan lima kali
takbir. Lalu aku bertanya kepadanya, Zaid menjawab,’Rasulullah saw. pernah
takbir begitu (sebanyak lima dan empat kali).”
H.r. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan At-Tirmidzi

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ أَبِي حَيْثَمَةَ قَالَ: كَانَ رَسُولُ
اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَبِّرُ عَلَى الْجَنَائِزِ أَرْبَعًا وَخَمْسًا وَسِتًّا
وَسَبْعًا فَثَمَانِيًا حَتَّى جَاءَهُ مَوْتُ النَّجَاشِيِّ فَخَرَجَ إِلَى
الْمُصَلَّى فَصَلَّى النَّاسُ وَرَاءَهُ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا ثُمَّ
ثَبَتَ النَّبِيُّ

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَرْبَعٍ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ. رواه ابن عبد البر في
الإستذكار, 8:239

Dari Sulaiman bin Abu Khaitsamah, ia berkata, “Rasulullah
saw. pernah salat jenazah dengan empat takbir, lima takbir, enam takbir, tujuh
takbir lalu delapan takbir, sampai datang kepada beliau kematian An-Najasyi.
Beliau pergi ke lapang dan para sahabat pun salat di belakang beliau. Dan
Beliau takbir empat kali, kemudian Nabi saw. menetapkan empat kali takbir
sampai diwafatkan Allah.
”
H.r. Ibnu
Abdil Barr dalam Al-Istidzkar, IIX:239 dan Nasbur Rayah, II:268

عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ: كَانُوا يُكَبِّرُونَ عَلَى عَهْدِ
رَسُولِ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعًا وَخَمْسًا وَسِتًّا وَسَبْعًا فَجَمَعَ عُمَرُ بْنُ
الْخَطَّابِ أَصْحَابَ رَسُولِ اللهِ

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَ كُلّ رَجُلٍ بِمَا رَأَى فَجَمَعَهُمْ عُمَرُ عَلَى
أَرْبَعِ تَكْبِيرَاتٍ. رواه البيهقي, 4:37

Dari Abu Wail, ia berkata, “Para sahabat salat
jenazah di jaman Rasulullah saw. itu dengan empat takbir, lima takbir, enam dan
tujuh takbir. Kemudian Umar bin Al-Khathab mengumpulkan para sahabat Rasulullah
saw. Lalu masing-masing mengabarkan apa yang dilihatnya. Setelah itu Umar
menyatukan (menyeragamkan) mereka dengan empat kali takbir.”
H.r. Al-Baihaqi,
IV:37

Mengangkat Tangan Setiap Takbir:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّهُ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ
مَعَ كُلِّ تَكْبِيرَةٍ  فِي الْجَنَازَةِ.
السنن الصغرى

Dari Umar bin Khathab, “Bahwasanya ia
mengangkat kedua tangannya bersama setiap kali takbir salat jenazah.”
As-Sunan
Ash-Shughra

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ عَلَى كُلِّ
تَكْبِيرَةٍ  مِنْ تَكْبِيرِ الْجَنَازَةِ.
رواه البيهقي, 4:44

Dari Ibnu Umar, “Bahwasanya ia mengangkat kedua
tangannya bersama setiap kali takbir yaitu takbir salat jenazah.”
H.r. Al-Baihaqi,
IV:44

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ
كُلَّمَا كَبَّرَ عَلَى الْجَنَازَةِ. رواه البيهقي, 4:44

Dari Anas bin Malik, “Bahwasanya ia mengangkat
kedua tangannya setiap kali takbir salat jenazah.”

رَأَى أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ أَنْ يَرْفَعَ الرَّجُلُ يَدَيْهِ فِي كُلِّ
تَكْبِيرَةٍ عَلَى الْجَنَازَةِ.

Kebanyakan Ahli Ilmu dari kalangan sahabat Nabi
saw. dan yang lainnya berpendapat bahwa seseorang (yang menyalati jenazah)
mengangkat kedua tangannya pada setiap kali takbir salat jenazah. Lihat dalam
Sunan At-Tirmidzi

Doa-Doa dalam Shalat Jenazah:

Setelah Takbir Pertama: Hendaklah
Membaca Ta’wwudz, Al-Fatihah dan Shalawat, dan disunatkan membaca surat seperti
pada shalat wajib. Bacaan shalawatnya pun sama seperti bacaan shalat pada
shalat ketika duduk tasyahud. Perhatikanlah hadis-hadis di bawah ini:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ
بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. النحل:98

Apabila
kamu hendak membaca Alquran, maka berlindunglah kepada Allah dari (godaan)
setan yang terkutuk.
Q.S.
An-Nahl:98

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلٍ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ رَجُلٌ
مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ السُّنَّةَ فِي الصَّلاَةِ عَلَى الْجَنَازَةِ أَنْ
يُكَبِّرَ اْلإِمَامُ ثُمَّ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ بَعْدَ
التَّكْبِيرَةِ اْلأُولَى سِرًّا فِي نَفْسِهِ 
ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ
e وَيُخْلِصُ الدُّعَاءَ لِلْجَنَازَةِ فِي
التَّكْبِيرَاتِ لاَ يَقْرَأُ فِي شَيْءٍ مِنْهُنَّ.

Dari Umamah bin Sahl, “Telah mengabarkan
kepadanya seorang sahabat Nabi saw. ia berkata,’Sesungguhnya sunnah dalam salat
jenazah itu adalah imam takbir kemudian membaca Al-Fatihah setelah takbir yang
pertama dengan sirr (pelan) dalam hatinya, kemudian bersalawat atas Nabi saw.
dan Mengikhlaskan doa kepada jenazah pada takbir-takbir (selanjutnya), beliau
tidak membaca (Al-Fatihah) pada salah satu takbir berikutnya.”
(Lihat
Musnad Imam Asy-Syafi’i, I:359, Al-Umm, I:270, Al-Baihaqi, IV:39, Syarah
Ma’anil Atsar, I:500, Aunul Ma’bud, VIII:347, Talkhishul Habir, II:122 dan
Nailul Authar, IV:101)

Membaca
Surat dalam Salat Jenazah:

عَنْ زَيْدِ بْنِ طَلْحَةَ التَّيْمِيِّ
قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ قَرَأَ عَلَى جَنَازَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ
وَسُورَةً وَجَهَرَ بِالْقِرَاءَةِ. وَقَالَ: إِنَّمَا جَهَرْتُ ِلأُعْلِمَكُمْ
أَنَّهَا سُنَّةٌ.

Dari
Zaid bin Thalhah At-Taimi, ia berkata, “Aku pernah mendengar Ibnu Abbas (salat)
jenazah membaca Al-Fatihah dan surat, serta menjaharkan bacaannya. Beliau
berkata, ‘Sesungguhnya aku menjaharkan untuk memberitahukan kepada kamu,
bahwa itu merupakan sunnah (Nabi saw.)

Al-Muntaqa Ibnul Jarud, I:140, Aunul Ma’bud, VIII:350 dan Tuhfatul Ahwadzi,
IV:111     

Keterangan: Membaca surat dalam shalat jenazah hukumnya
sunat. Adapun menjaharkan (mengeraskan) bacaan dalam shalat jenazah diizinkan
bila dengan maksud mengajar kepada makmum yang belum bisa bacaan-bacaan dalam
shalat jenazah, karena sunnahnya membaca bacaan-bacaan itu adalah sir (dibaca
sangat pelan oleh semua yang shalat jenazah)

Doa-Doa pada Takbir Kedua, Ketiga atau Keempat:

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأَشْجَعِيِّ
قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ يَقُولُ:  اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ
وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ  وَأَكْرِمْ
نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ
, وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ
وَالْبَرَدِ, وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ
مِنَ الدَّنَسِ, وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ
أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ, وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ
النَّارِ . رواه مسلم

Dari Auf
bin Malik Al-Asyja’i, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. salat jenazah
sambil berdoa: Allohummaghfir lahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu wa akrim
nuzulahu wawassi’ mudkholahu
(Ya Allah, ampunilah ia,
sayangilah, ‘afiyatkanlah, maafkanlah, mulyakanlah tempatnya dan luaskanlah
tempat masuknya) Waghsilhu bil ma-i was salji wal barod, wa naqqihi minal
khothoya kama yunaqqos tsaubul abya-dhu minad danas
(Dan cucilah
ia dengan air, salju dan air dingin, dan bersihkanlah ia dari dosa-dosanya
sebagaimana dibersihkannya baju putih dari kotoran) Wa abdilhu daron
khoiron min darihi, wa ahlan khoiron min ahlihi, wa zaujan khoiron min zaujihi

(Dan berikanlah ia sebuah rumah yang lebih baik dari rumahnya, berikanlah
keluarga yang lebih baik dari keluarganya dan berikanlah pasangan yang lebih
baik dari pasangannya), Wa qihi fitnatal qobri wa adzaban
nar
(Dan jauhkannlah ia dari fitnah/adzab qubur dan adzab neraka). H.r.
Muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةٍ فَقَالَ:  اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا
وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا
,
اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اْلإِيـمَانِ وَمَنْ
تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِسْلاَمِ, اَللَّهُمَّ لاَ
تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ . رواه أبو داود

Dari Abu
Hurairah, ia berkata, “Rasulullah saw. menyelati jenazah, beliau berdoa: Allohummaghfir
lihayyina, wa mayyitina, wa shoghirina, wa kabirina, wa dzakarina, wa untsana,
wa syahidina, wagho-ibina
(Ya Allah, Ampunilah orang-orang yang masih
hidup di antara kami, yang sudah meninggal, yang masih kecil, yang sudah
dewasa, yang laki-laki, yang perempuan, yang hadir dan yang tidak hadir), Allohumma
man ahyaitahu minna, fa ahyihi ‘alal iman, wa man tawaffaitahu minna, fa
tawaffahu ‘alal islam
(Ya Allah, siapa yang Engkau hidupkan di antara kami,
maka hidupkanlah ia dalam keadaan iman, dan siapa yang Engkau wafatkan di
antara kami, wafatkanlah dalam keadaan islam) Allohumma la tahrimna ajrohu
wala tu-dhillana ba’dah
(Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahalanya dan
janganlah Engkau sesatkan kami setelahnya. H.r. Abu Daud

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْجنَازَةِ : اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّهَا
وَأَنْتَ خَلَقْتَهَا وَأَنْتَ هَدَيْتَهَا لِلإِسْلاَمِ وَأَنْتَ قَبَضْتَ
رُوحَهَا وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِسِرِّهَا وَعَلاَنِيَتِهَا جِئْنَا شُفَعَاءَ
فَاغْفِرْ لَهَا
. رواه أحمد وأبو داود

Dari Abu
Hurairah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. salat jenazah
sambil berdoa: Allohumma Anta Robbuha, wa Anta Kholaqtaha, (-wa Anta
Rozaqtaha-) wa Anta hadaitaha lil islam Wa Anta qobadhta
ruhaha wa Anta A’lamu bisirriha wa ‘alaniyataha ji’na syufa’a-a faghfirlaha
(Ya
Allah, Engkau adalah Tuhannya, Engkau telah menciptakannyaEngkau telah
memberikan rezeki kepadanya- dan Engkau telah menunjukkinya ke dalam
Islam. Dan Engkau telah mencabut ruhnya, Engkau Maha Tahu yang tersembunyi dan
yang nampak darinya, kami datang sambil memintakan ampun, maka ampunilah ia.
H.r. Ahmad dan Abu Daud

Keterangan: Ketiga
doa di atas, boleh dibaca di setiap takbir kedua, ketiga atau keempat dalam
shalat jenazah secara acak dan tidak ada kemestian harus ditetapkan pada
takbir-takbir tertentu.

KEEMPAT: Mengubur
Jenazah.

Perdalam
Lobang Kuburan dan Mengubur lebih dari satu pada satu Lobang:

عَنْ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ
اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ, اَلْحَفْرُ
عَلَيْنَا لِكُلِّ إِنْسَانٍ شَدِيدٌ! فَقَالَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِحْفِرُوا وَأَعْمِقُوا وَأَحْسِنُوا وَادْفِنُوا
اْلإِثْنَيْنِ وَالثَّلاَثَةَ فِي قَبْرٍ وَاحِدٍ. قَالُوا: فَمَنْ نُقَدِّمُ يَا
رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: قَدِّمُوا أَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا. رواه النسائي

Dari
Hisyam bin Amir, ia berkata, “Kami pernah mengadu kepada Rasulullah saw. pada
hari Uhud. Kami berkata,’Wahai Rasulullah, mengubur untuk setiap orang (pada
satu lobang kubur) amat berat bagi kami? Rasulullah menjawab,’Buatlah lobang,
perdalamlah, perbaguslah serta kuburkanlah dua atau tiga orang pada satu kuburan’.
Kami bertanya,’Siapa yang harus kami dahulukan wahai Rasulullah? Beliau
menjawab,’Dahulukanlah olehmu orang yang paling banyak hafalan Alqurannya.”
H.r. An-Nasai

Liang
Lahat:

عَنْ عَامِرِ أَنَّ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ لَمَّا
حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ: أَلْحِدُوا لِي لَحْدًا وَانْصِبُوا عَلَيَّ نَصْبًا
كَمَا فُعِلَ بِرَسُولِ اللهِ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
.
رواه أحمد ومسلم والنسائي

Dari
Amir, (ia berkata), “Bahwasanya Saad bin Abi Waqas ketika menjelang wafatnya,
ia berkata,’Buatlah liang lahat untukku dan tancapkan ubin atasku, sebagaimana
dilakukan pada (kuburan) Rasulullah saw.”
H.r.
Ahmad, Muslim dan An-Nasai

Arah
Memasukkan Jenazah:

عَنْ أَبِي إِسْحَقَ قَالَ: أَوْصَى
الْحَارِثُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ يَزِيدَ فَصَلَّى عَلَيْهِ
ثُمَّ أَدْخَلَهُ الْقَبْرَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيِ الْقَبْرِ وَقَالَ: هَذَا مِنَ
السُّنَّةِ . رواه أبو داود

Dari Abu
Ishak, ia berkata, “Al-Haris pernah berwashiyat (jika ia mati) agar disalati
oleh Abdullah bin Yazid. Kemudian ia pun menyalatinya. Lalu memasukkan
jenazahnya ke kuburan dari arah kedua kaki kuburan itu, seraya berkata,’Ini
termasuk sunnah (Nabi saw.).”
H.r. Abu
Daud

Doa
Memasukan Jenazah Ke Liang Lahat:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا وُضِعَ الْمَيِّتُ فِي لَحْدِهِ قَالَ مَرَّةً:
بِسْمِ اللهِ وَبِاللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ وَقَالَ مَرَّةً: بِسْمِ
اللهِ وَبِاللهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَقَالَ
مَرَّةً: بِسْمِ اللهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ. رواه الخمسة إلا النسائي

Dari
Ibnu Umar, “Bahwasanya Nabi saw. apabila meletakkan jenazah di liang lahatnya,
terkadang beliau mengucapkan “Bismillah wa billah wa ‘ala millati
Rasulillah”
dan terkadang mengucapkan “Bismillah wa Billah wa A’la
Sunnati Rasulillah”
dan terkadang mengucapkan “bismillah wa ‘ala millati
(sunnati) Rasulillah.”
H.r. Al-Khamsah kecuali An-Nasai 

Meninggikan
Tanah Kuburan dan Menandainya dengan Batu:

عَنْ سُفْيَانَ التَّمَّارِ أَنَّهُ رَأَى
قَبْرَ النَّبِيِّ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مُسَنَّمًا . رواه البخاري

Dari
Sufyan At-Tamar, bahwasanya ia melihat kuburan Nabi saw. tinggi tanahnya.
H.r.
Al-Bukhari

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ رَسُولَ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
أَعْلَمَ قَبْرَ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ بِصَخْرَةٍ . رواه
ابن ماجة

Dari
Anas bin Malik, “Bahwasanya Rasulullah saw. memberi tanda kuburan Usman bin
Mazh’un dengan batu”.
H.r. Ibnu Majah

Dilarang
Menguburkan Jenazah di dalam Rumah dan Mesjid:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ
اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَاتَلَ اللهُ الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ
أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ. رواه البخاري ومسلم

Dari Abu
Hurairah, “Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah melaknat orang-orang
Yahudi, (karena) mereka menjadikan kuburan-kuburan para nabi itu sebagai
mesjid-mesjid (tempat ibadah).”
H.r.
Al-Bukhari dan Muslim

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ وَلاَ
تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا. رواه البخاري ومسلم

Dari
Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Jadikanlah rumah-rumah kamu
itu sebagian tempat salat kamu dan jangan menjadikannya (seperti) kuburan.”
H.r. Al-Bukhari dan Muslim

Mengubur
Jenazah Malam Hari:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَاتَ
إِنْسَانٌ كَانَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَعُودُهُ
فَمَاتَ بِاللَّيْلِ فَدَفَنُوهُ لَيْلاً فَلَمَّا أَصْبَحَ أَخْبَرُوهُ فَقَالَ:
مَا مَنَعَكُمْ أَنْ تُعْلِمُونِي؟ قَالُوا: كَانَ اللَّيْلُ فَكَرِهْنَا
وَكَانَتْ ظُلْمَةٌ أَنْ نَشُقَّ عَلَيْكَ فَأَتَى قَبْرَهُ فَصَلَّى عَلَيْهِ.
رواه البخاري

Dari
Ibnu Abbas, ia berkata, “Ada seseorang mati, Rasulullah saw. melawatnya. Ia
mati malam hari. Kemudian orang-orang menguburkannya pada malam hari. Ketika
Rasul masuk waktu subuh, orang-orang mengabarkan kepada beliau, seraya
bertanya,’Mengapa kalian tidak memberitahuku? Mereka menjawab,’malam itu gelap
sekali, kami tidak menyenangi memberatkan engkau’. Lalu Beliau pun mendatangi
kuburannya terus menyalatinya.”
H.r.
Al-Bukhari

Orang
yang Menguburkan Perempuan tidak Senggama pada malam harinya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:
شَهِدْنَا بِنْتًا لِرَسُولِ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ عَلَى الْقَبْرِ فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَدْمَعَانِ
فَقَالَ: هَلْ مِنْكُمْ رَجُلٌ لَمْ يُقَارِفِ اللَّيْلَةَ؟ فَقَالَ أَبُو
طَلْحَةَ: أَنَا. قَالَ: فَانْزِلْ فَنَزَلَ فِي قَبْرِهَا. رواه البخاري

Dari
Anas bin Malik, ia berkata, “Kami menyaksikan putri Rasulullah saw. (ketika
wafatnya) pada waktu itu beliau sedang duduk dekat kuburannya. Dan aku melihat kedua
matanya berlinang, seraya bertanya,’Apakah di antara kamu ada seseorang yang
tidak senggama pada malam tadi?’ Abu Thalhah menjawab,’Saya’. Beliau
bersabda,’Turunlah kamu’, maka Abu Thalhah pun turun menguburkannya.”
H.r. Al-Bukhari

Mendoakan
setelah Dikubur:

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ:
كَانَ النَّبِيُّ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا
فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ: اِسْتَغْفِرُوا ِلأَخِيكُمْ
وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ اْلآنَ يُسْأَلُ. رواه أبو داود

Dari
Usman bin Affan, ia berkata, “Nabi saw. itu apabila selesai mengubur mayit
beliau berdiri di dekat kuburannya, seraya bersabda,’Mintakanlah ampun untuk
saudaramu ini dan mintalah ketetapan baginya (mudah menjawab
pertanyaan-pertanyaan malaikat dan ketetapan surganya), karena sesungguhnya ia
sekarang sedang ditanya.”
H.r. Abu
Daud, IX:24

Keterangan:
Hadis ini sahih, namun pelaksanaannya bukan
seorang berdoa kemudian diamini oleh sekalian yang hadir, tetapi masing-masing
diminta oleh Rasulullah saw. untuk mendoakan si mati dengan doa yang dimengerti
oleh masing-masing.

SUMBER
PENULISAN:
Makalah Pengajian Ust. Nurdin Sa’bana.

 

PROSES MEMANDIKAN,
MENGAFANI, MENYALATI, DAN MENGUBURKAN JENAZAH MEMILIKI TATA CARA YANG PENUH
PERHATIAN DAN PENGHORMATAN TERHADAP SI MAYIT, YANG MENCERMINKAN RASA HORMAT
TERHADAP HAK-HAKNYA MESKIPUN SUDAH MENINGGAL DUNIA. SETIAP LANGKAH DILAKSANAKAN
DENGAN PENUH KETELITIAN, MULAI DARI MEMANDIKAN JENAZAH DENGAN LEMBUT DAN PENUH
ADAB, MEMILIH KAIN KAFAN YANG SEDERHANA NAMUN SESUAI, HINGGA MELAKSANAKAN SALAT
JENAZAH DENGAN TAKBIR YANG TERATUR DAN DOA-DOA KHUSUS. PENGUBURAN DILAKUKAN
DENGAN CARA YANG BAIK, MENGHINDARI WAKTU YANG DILARANG, SERTA MENANDAI KUBURAN
DENGAN CARA YANG LAYAK. PROSES INI MENEGASKAN PENTINGNYA MENJAGA KESOPANAN,
KEBERSIHAN, DAN PENGHORMATAN TERHADAP JENAZAH SEBAGAI BENTUK AMAL IBADAH
TERAKHIR BAGI ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA.

——-

Catatan Kaki:


[1] Dalam Islam,
kematian tidak hanya dipahami sebagai akhir kehidupan fisik, tetapi juga
memiliki jenis-jenis tertentu berdasarkan sebab, kondisi, dan implikasinya.
Berikut penjelasan mengenai macam-macam kematian dalam Islam berdasarkan dalil
Al-Qur’an dan hadits:

PERTAMA: Mati Biasa
(Mati Hakiki).

Mati hakiki
adalah kematian alami yang dialami oleh semua makhluk hidup. Hal ini adalah
ketetapan Allah SWT atas makhluk-Nya sebagaimana firman-Nya:

كُلُّ نَفْسٍ
ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali
Imran: 185)

Kematian ini
terjadi ketika ruh dicabut dari jasad oleh malaikat maut sesuai dengan takdir
yang telah ditetapkan Allah SWT.

KEDUA: Mati Syahid.

Mati syahid
adalah kematian yang sangat mulia dalam Islam, yang dijanjikan oleh Allah SWT
balasan berupa surga tanpa hisab. Terdapat dua kategori utama mati syahid:

a.
Syahid Dunia dan Akhirat

Orang yang
mati syahid dunia dan akhirat adalah mereka yang meninggal di medan perang demi
mempertahankan agama Allah, melawan musuh-musuh Islam, dengan niat yang ikhlas.

Nabi Muhammad
SAW bersabda: “Barang siapa terbunuh karena mempertahankan hartanya,
maka ia syahid. Barang siapa terbunuh karena mempertahankan darahnya, maka ia
syahid. Barang siapa terbunuh karena mempertahankan agamanya, maka ia syahid.
Dan barang siapa terbunuh karena mempertahankan keluarganya, maka ia
syahid.”
(HR. Abu Dawud no. 4772, disahihkan oleh Al-Albani)

b.
Syahid Akhirat

Orang yang
tergolong syahid akhirat adalah mereka yang meninggal bukan di medan perang
tetapi dalam kondisi tertentu yang menyebabkan mereka mendapatkan pahala syahid
di akhirat. Contohnya:

v 
Orang yang meninggal karena tenggelam.

v 
Orang yang meninggal karena penyakit perut.

v 
Orang yang meninggal karena wabah penyakit.

v 
Wanita yang meninggal dalam proses melahirkan.

v 
Orang yang meninggal karena mempertahankan kehormatannya. (HR.
Al-Bukhari no. 2829 dan Muslim no. 1915)

Namun,
jenazah mereka tetap dimandikan, dikafani, dan dishalatkan sebagaimana jenazah
biasa.

KETIGA: Mati
Jahiliyah.

Mati jahiliyah
adalah kematian yang disebabkan oleh penyimpangan atau kesalahan dalam akidah
dan prinsip Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa yang mati,
sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada pemimpin Muslim), maka dia mati
seperti mati jahiliyah.”
(HR. Muslim no. 1851)

Hal ini
merujuk pada kematian seseorang yang tidak memiliki ikatan dengan umat Islam
atau hidup tanpa tunduk pada prinsip Islam yang benar.

KEEMPAT: Mati Husnul
Khatimah.

Husnul
khatimah adalah kematian yang baik dan diridhoi Allah SWT. Orang yang meninggal
dalam keadaan husnul khatimah akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat.
Tanda-tanda husnul khatimah antara lain:

v 
Mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah sebelum meninggal.

v 
Meninggal dalam keadaan beribadah atau ketaatan kepada Allah,
seperti sedang shalat, membaca Al-Qur’an, atau menunaikan haji.

v 
Meninggal dalam keadaan berjihad di jalan Allah.

v 
Wajah jenazah tampak cerah dan tersenyum.

Nabi Muhammad
SAW bersabda: “Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘laa ilaaha
illallah’, maka ia akan masuk surga.”
(HR. Abu Dawud no. 3116)

KELIMA: Mati Su’ul
Khatimah.

Su’ul
khatimah adalah kematian yang buruk, di mana seseorang meninggal dalam keadaan
yang dimurkai Allah SWT. Su’ul khatimah biasanya disebabkan oleh:

v 
Melakukan maksiat atau dosa besar saat meninggal.

v 
Berpaling dari ajaran Islam.

v 
Meninggal tanpa membawa iman.

Nabi Muhammad
SAW memperingatkan: “Sungguh, ada seseorang yang beramal dengan amalan
ahli surga hingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta,
namun ketetapan Allah mendahuluinya, sehingga dia melakukan amalan ahli neraka,
maka dia pun masuk neraka.”
(HR. Al-Bukhari no. 3208 dan Muslim no.
2643)

KEENAM: Mati
Mendadak.

Mati mendadak
adalah kematian yang datang secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda atau penyakit
sebelumnya. Dalam hadits, kematian mendadak disebut sebagai bentuk peringatan
atau ujian.

Nabi Muhammad
SAW bersabda: “Kematian mendadak adalah kesedihan bagi orang yang
durhaka dan kebahagiaan bagi orang yang beriman.”
(HR. Ahmad no.
10472, disahihkan oleh Al-Albani)

KETUJUH: Mati Kafir.

Mati dalam
keadaan kafir adalah kematian dalam keadaan tidak beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya. Orang yang meninggal dalam keadaan ini dijanjikan hukuman kekal di
neraka. Allah SWT berfirman:

إِنَّ
ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَمَاتُوا۟ وَهُمْ كُفَّارٌ أُو۟لَـٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ
لَعْنَةُ ٱللَّهِ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir,
mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya.”
(QS.
Al-Baqarah: 161)

PENUTUP:

Macam-macam
kematian dalam Islam ini menjadi pengingat bagi kita agar senantiasa
mempersiapkan diri dengan amal yang baik dan menjauhi segala bentuk maksiat.
Semoga Allah SWT memberikan kita kematian dalam keadaan husnul khatimah dan
memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang diridhoi.

avatar Tidak diketahui
Author

Admin Kominfo

Follow Me
Other Articles
Previous

PETUNJUK PRAKTIS PENGURUSAN JENAZAH DALAM ISLAM

Next

HUKUM BERZIARAH KE TEMPAT-TEMPAT YANG DIAZAB OLEH ALLAH SWT

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — Pemuda Persis Batununggal. All rights reserved. Kominfo