وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى…
Dan ingatlah ketika Kami menjadikan rumah itu (Baetullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat salat… Q.s. Al-Baqarah: 125
TAFSIR MUFRADAT:
مَثَابَةً artinya tempat berkumpul. Asal maknanya adalah kembalinya sesuatu ke tempatnya semula. Oleh karena itu pahala suatu amal dinamakan ثَوَابٌ karena pada hakekatnya baik buruknya amal seseorang akan kembali kepada si pelakunya. Ar-Raghib: 80
مَّقَامِ إِبْرَاهِيْمَ adalah batu yang dipakai pijakan oleh Ibrahim as. Ketika meninggikan bangunan Ka’bah, sehingga padanya meninggalkan bekas dua telapak kaki beliau. Dan di sekitar sanalah dilaksanakannya salat dua rakaat setelah thawaf qudum. Al-Qurthubi, II: 112-113
TAFSIR AYAT:
Allah swt. pada ayat di atas menerangkan berbagai kenikmatan yang diberikan kepada bangsa Arab, diantaranya berupa Baitullah sebagai tempat berkumpul bagi manusia untuk menunaikan ibadah haji dan sebagai tempat yang aman, dengan tidak diperbolehkannya berperang di sana.
Allah swt. menjadikan Baeitullah sebagai tempat yang paling dirindukan dan didambakan oleh setiap hati manusia, bahkan orang yang pernah ke sana selalu ingin kembali lagi walau tiap tahun mendatanginya. Ini merupakan pengijabahan terhadap doa Ibrahim as. “(Ya Allah) jadikanlah hati manusia condong kepada mereka…” (Q.s. Ibrahim: 37)
Di sekitar Baitullah ada satu tempat yang dinamakan maqam Ibrahim, yaitu batu yang dipakai pijakan oleh Ibrahim ketika meninggikan bangunan Ka’bah. Pada batu tersebut terdapat bekas dua telapak kaki Ibrahim, bekas telapak kaki tersebut terus ada sampai pada masa Arab Jahiliyyah. Oleh karena itu Abu Thalib pernah berkata dalam sya’irnya, “Tempat Ibrahim berpijak pada batu itu sangat tampak # di atas kedua telapak kakinya telanjang tanpa alas kaki.” Umdatut Tafsir, I: 236
Ibnu Wahab meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Saya melihat pada maqam Ibrahim bekas jari-jari dan kedua telapak kakinya, akan tetapi semakin menghilang oleh usapan tangan-tangan manusia.” Qotadah berkata, “Mereka hanyalah diperintah salat di sekitar maqam Ibrahim dan tidak diperintah mengusapnya. Akan tetapi umat ini telah memaksakan sesuatu yang pernah dilakukan oleh umat sebelumnya. Sungguh kita telah mendapat berita orang yang melihat bekas telapak kaki dan jari-jari beliau padanya, namun umat ini terus-menerus mengusapnya sampai menjadi licin dan terhapus.” H.r. Ibnu Jarir
Dahulunya maqam Ibrahim terletak dekat dinding Ka’bah, sepertinya setelah Ibrahim selesai membangun Ka’bah, beliau meletakkannya di dinding Ka’bah, atau di sanalah tempat beresnya pembangunan Ka’bah. Oleh karena itu diperintahkannya salat di sekitar maqam Ibrahim setelah thawwaf qudum munasabah (selaras) dengan beresnya Ibrahim dalam membangun Ka’bah.
Dan tempat Maqam Ibrahim sekarang di sebelah sisi kanan pintu yang menuju hajar aswad setelah dipindahkan oleh Umar bin Khattab pada masa kekhalifahannya. Karena beliau merupakan salah satu imamul mahdiyyin, khulafaur Rasyidin, dan salah satu dari dua orang setelah Abu Bakar yang kita diperintahkan oleh Rasulullah saw. mengikuti mereka sepeninggalnya, maka tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat yang mengingkari tindakan beliau itu. Semoga Allah meridai mereka semua. (Umdatut Tafsir, I: 236). Aisyah berkata, “Sesungguhnya di masa Rasulullah saw. dan Abu Bakar maqam Ibrahim itu dekat dengan Baitullah, kemudian dipindahkan oleh Umar bin Khattab.” H.r. Al-Baihaqi
Menurut sababun nuzulnya, ayat di atas yang memerintahkan maqam Ibrahim dijadikan tempat salat adalah karena usul Umar bin Khattab. Bahkan ayat ini dan beberapa ayat lain turun cocok dengan pikiran Umar bin Khattab.
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ عُمَرُ وَافَقْتُ اللَّهَ فِي ثَلَاثٍ أَوْ وَافَقَنِي رَبِّي فِي ثَلَاثٍ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اتَّخَذْتَ مَقَامَ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَدْخُلُ عَلَيْكَ الْبَرُّ وَالْفَاجِرُ فَلَوْ أَمَرْتَ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ بِالْحِجَابِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ آيَةَ الْحِجَابِ قَالَ وَبَلَغَنِي مُعَاتَبَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ نِسَائِهِ فَدَخَلْتُ عَلَيْهِنَّ قُلْتُ إِنْ انْتَهَيْتُنَّ أَوْ لَيُبَدِّلَنَّ اللَّهُ رَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرًا مِنْكُنَّ حَتَّى أَتَيْتُ إِحْدَى نِسَائِهِ قَالَتْ يَا عُمَرُ أَمَا فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَعِظُ نِسَاءَهُ حَتَّى تَعِظَهُنَّ أَنْتَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ {عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبَدِّلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ}. رواه البخاري
Dari Anas bin Malik, Umar bin Khattab berkata, “Aku selaras dengan Tuhanku pada tiga perkara, Saya berkata: ‘Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau anda jadikan maqam Ibrahim tempat salat.” Turunlah ayat. ‘Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat.’ Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, ke rumahmu masuk orang baik dan jahat, bagaimana jika anda perintahkan ummahatul mukminin berhijab.’ Lalu Allah menurunkan ayat hijab’. Umar berkata, ‘Telah sampai kepadaku berita marahnya Nabi saw. kepada sebagian istrinya, lalu aku masuk ke rumah mereka dan berkata, ‘Akankah kamu berhenti atau Allah akan mengganti untuk rasul-Nya istri yang lebih baik dari kamu.’ Sampai salah seorang istri Nabi mendatangi Umar dan berkata, ‘Wahai Umar, apakah pada diri Rasulullah sudah sudah tidak ada lagi nasehat untuk istri-istrinya, sampai engkau yang menasehati mereka?’. Maka Allah menurunkan ayat, “Jika ia mentalak kamu, Tuhannya akan menggantinya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu.” (H.r. Al-Bukhari)
Pada riwayat lainnya ada beberapa hal lainnya yang menjadi kecocokan pikiran Umar dengan Alquran, yaitu mengenai penanganan tawanan Badar dan menyalati tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul.
Setelah turun ayat di atas, maka dilaksanakanlah salat dua rakaat di sekitar maqam Ibrahim setelah thawwaf qudum.
عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا انْتَهَى إِلَى مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ قَرَأَ {وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى} [البقرة: 125] وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَقَرَأَ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ثُمَّ عَادَ إِلَى الرُّكْنِ فَاسْتَلَمَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّفَا.
Dari Jabir bin Abdillah ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw. tatkala sampai ke maqam Ibrahim membaca ‘Wattakhizu mim maqami Ibrahim mushalla.’ Lalu salat dua rakaat dan beliau membaca fatihah dan Al-Kafirun (pada rakaat pertama) dan Al-Ikhlas (pada rakaat kedua). Kemudian beliau kembali ke hajar aswad lalu mengistilam (raba)nya, kemudian keluar menuju Shafa.” H.r. Muslim
