Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal
Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal
  • Beranda
  • Blog
  • Dashboard
  • Kategori
  • TASYKIL PC
  • Beranda
  • Blog
  • Dashboard
  • Kategori
  • TASYKIL PC
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
IbadahKehidupan

BEKAL KETAKWAAN

avatar Tidak diketahui
By Admin Kominfo
1 Agustus 2024 4 Min Read
0
… وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ (197)
… dan berbekallah kamu, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. Dan bertakwalah kepadaku wahai orang-orang yang berakal. Q.s. Al-Baqarah: 197
TAFSIR MUFRADAT:
اَلزَّادِ adalah perbekalan yang disimpan untuk digunakan pada waktu yang diperlukan, اَلتَّزَوُّدُ menjadikan bekal, berupa makanan dinamakan اَلْمِزْوَدُ, dan berupa minuman dinamakan اَلْمَزَادَةُ. (Ar-Raghib: 221)
اَلتَّقْوَى adalah menjaga diri dari murka Allah dengan melakukan kebajikan dan membersihkan diri dari kemungkaran dan kemaksiatan. (Al-Maraghi, II: 99)
SABABUN NUZUL AYAT:
Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Adalah penduduk Yaman berhaji dengan tidak membawa perbekalan, mereka berkata, ‘Kami orang-orang yang bertawakal.’ Kemudian mereka sampai dan meminta-minta kepada orang lain, maka Allah menurunkan ayat di atas.” H.r. Al-Bukhari
TAFSIR AYAT:
    Pada ayat sebelumnya, Allah swt. menerangkan amal-amal haji berupa kaifiyyah, waktu, dan hal-hal yang akan merusak nilai haji. Pada ayat ini Allah swt. memerintahkan untuk mempersiapkan bekal dalam perjalanannya. Mereka yang dengan sengaja pergi berhaji tanpa membawa perbekalan padahal mereka mampu tidaklah disebut bertawakal, karena yang namanya tawakal adalah setelah mengerahkan segala kemampuan dalam berusaha dan kemudian menyerahkan segala akhir urusannya kepada Allah swt. Seseorang berkata kepada Ahmad bin Hanbal, “Saya hendak pergi ke Mekah dengan bertawakal tanpa membawa perbekalan.” Imam Ahmad berkata kepadanya, “Pergilah dengan tidak bersama kafilah!”. Orang tersebut berkata, “Tidak, saya bersama mereka.” Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Dengan bekal orang lainkah engkau bertawakal?”. (Al-Qurthubi, II: 411-422)
    Setelah Allah swt. memerintahkan mereka berbekal untuk safar di dunia, Ia memberi petunjuk kepada mereka dengan perbekalan di akhirat. Sebagaimana pada ayat lain ketika Allah menyebutkan pakaian penutup badan, Ia menunjuki mereka dengan pakaian maknawi yaitu kekhusyukkan, ketaatan, dan ketakwaan. Inilah sebaik-baik bekal dan sebaik-baik pakaian.
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ يُتَزَوَّدْ فِي الدُّنْيَا يَنْفَعْهُ فِي الْآخِرَةِ».
Dari Jarir bin Abdullah, dari Nabi saw., bersabda, “Barangsiapa yang berbekal di dunia (dengan amal saleh), akan memberi manfaat kepadanya di akhirat.” H.r. Ath-Thabrani, Umdatut Tafsir, II: 65
Hakikat pembicaraan pada ayat di atas menunjukkan bahwa manusia itu mempunyai dua perjalanan, perjalanan di dunia dan perjalanan meninggalkan dunia (akhirat). Perjalanan di dunia sudah pasti memerlukan perbekalan yaitu berupa makanan, minuman, kendaraan, dan harta lainnya yang diperlukan. Sedangkan perjalanan meninggalkan dunia (akhirat) memerlukan perbekalan berupa ma’rifah dan mencintai Allah serta berpaling dari selain-Nya.
عن أنسِ بنِ مَالِكٍ قالَ: قَالَ: رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ؛ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ”. رواه البخاري
Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Tiga macam yang akan mengikuti mayit, maka akan kembali yang dua macam dan satu macam yang akan mengikuti. (Yaitu) keluarga, harta, dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali dan amalnya akan mengikuti.” H.r. Al-Bukhari
Bekal untuk akhirat lebih baik dibanding bekal dunia karena beberapa hal:
PERTAMA: Bekal di dunia akan menyelamatkanmu dari bencana yang belum pasti terjadi, sedangkan bekal untuk akhirat akan menyelamatkanmu dari azab yang sudah pasti adanya.
KEDUA: Bekal di dunia akan menyelamatkanmu dari bencana yang tidak terus-menerus, sedangkan bekal untuk akhirat akan menyelamatkanmu dari azab yang abadi.
KETIGA: Bekal di dunia akan menyampaikanmu pada kelezatan yang berbaur dengan rasa sakit, penyakit, dan macam-macam bala (bencana). Sedangkan bekal untuk akhirat akan menyampaikanmu pada kelezatan yang langgeng, bersih dari berbagai macam kemadaratan, aman tidak akan terputus dan hilang.
KEEMPAT: Bekal di dunia setiap saat akan hilang dan habis, sedangkan bekal untuk akhirat akan menyampaikanmu ke akhirat yang setiap saat selalu menghadap, mendekat, dan sampai.
KELIMA: Bekal di dunia akan menyampaikanmu pada keinginan syahwat dan nafsu, sedangkan bekal untuk akhirat akan menyampaikanmu pada derajat kemuliaan dan kesucian. Oleh karena itu dengan semua hal di atas, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. (Ar-Razi, V: 143)
Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dengan mengikuti perintah-Nya berbekal dalam setiap perjalanan. Dan sebaik-baik bekal adalah ketakwaan yang akan menyelamatkan seorang musafir dari kebinasaan dan mencegah dari meminta-minta kepada orang lain.
قَامَ رَجُلٌ مِنْ فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا نَجِدُ زَادًا نَتَزَوَّدُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَزَوَّدْ مَا تَكُفُّ بِهِ وَجْهَكَ عَنِ النَّاسِ، وَخَيْرُ مَا تَزَوَّدْتُمُ التَّقْوَى».
Ada seorang fakir dari kaum muslimin berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak mendapatkan bekal untuk berbekal padanya.” Rasulullah saw. bersabda, “Berbekallah dengan yang akan menahan wajahmu (dari meminta-minta) kepada orang lain, dan sebaik-baik perbekalan kamu adalah ketakwaan.” H.r. Ibnu Abu Hatim
Pada akhir ayat ini, ulul albab secara khusus diseru, walaupun perintah berbekal ini umum bagi setiap orang, karena oleh merekalah tegaknya hujjah Allah, dan merekalah yang menerima dan menjalankan perintah-perintah-Nya. Albab merupakan bentuk jamak dari kata lubbun, dan lubbun segala sesuatu adalah keikhlasan, oleh karena itu orang-orang yang berbekal dinamakan lubbun.
avatar Tidak diketahui
Author

Admin Kominfo

Follow Me
Other Articles
Previous

Uswah dan Kewirausahaan Nabi SAW. dan Para Shahabat

Next

SHALAT DI MAQAM IBRAHIM

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — Pemuda Persis Batununggal. All rights reserved. Kominfo