Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal
Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal
  • Beranda
  • Blog
  • Dashboard
  • Kategori
  • TASYKIL PC
  • Beranda
  • Blog
  • Dashboard
  • Kategori
  • TASYKIL PC
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Uncategorized

AMALAN REBO WEKASAN

avatar Tidak diketahui
By Admin Kominfo
4 September 2024 9 Min Read
0
MUQODDIMAH:
4 September 2024 adalah penghujung bulan Safar 1446 H ini, atau tanggal 30 Safar, bulan kedua dalam kalender hijriah. Dalam tradisi masyarakat kita, Rabu terakhir di bulan Safar ini disebut dengan Rebo Wekasan (Rabu Wekasan), yang diidentikkan hari yang membawa malapetaka.
Sejak masa jahiliah kuno, termasuk bangsa Arab, meyakini Safar sebagai bulan sial. Anggapan sial ini telah terkenal pada umat jahiliah dan masih ada di kalangan muslimin hingga saat ini. 
Syekh Abdul Hamid Quds, dalam kitabnya Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur, menjelaskan bahwa banyak para wali Allah yang mempunyai pengetahuan spiritual yang tinggi (kasyaf) mengatakan bahwa pada setiap tahun, Allah swt menurunkan 320.000 macam bala bencana ke bumi dan semua itu pertama kali terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.  
Atas dasar itu, menjadi tradisi di masyarakat, pada malam atau hari Rabu Wekasan melakukan amalan tertentu. Di antaranya melaksanakan shalat empat rakaat, membaca surat Yasin, berdzikir, membaca doa, dan lainnya. Meski dalam Al-Qur’an dan hadits nabi sudah ditegaskan bahwa tidak ada hari atau bulan sial, karena segala sesuatunya terjadi atas kehendak Allah, namun tradisi tersebut masih berlangsung sampai saat ini.
Hal ini di antaranya dinyatakan Rasulullah dalam hadits riwayat Imam Bukhari bahwa tidak ada kesialan dalam bulan Safar.
لا عَدْوَى ولا طِيَرَةَ ولا هَامةَ ولا صَفَرَ وفِرَّ من المَجْذُومِ كما تَفِرُّ من الأَسَد
Tidak ada penyakit menular, tidak ada ramalan buruk, tidak ada kesialan karena burung hammah, tidak ada sial bulan Safar, dan larilah kamu dari penyakit kusta seperti kamu lari dari singa. (H.R. Bukhari)
Kemudian yang menjadi pertanyaan bagaimana hukumnya tradisi Rabu Wekasan yang sudah menjadi budaya di Indonesia dan masih lestari hingga saat ini. Tradisi ini merupakan bentuk kearifan lokal yang diwariskan dari nenek moyang terdahulu. Bagaimana pandangan Islam dalam persoalan ini?
Dilansir dari NU Online, Imam Abdurrauf al-Munawiy dalam kitab Faidh al-Qadir, telah menjawab dengan baik, tradisi amalan yang dikerjakan dalam Rabu Wekasan sejatinya diperbolehkan akan tetapi dengan niat yang baik dan benar. 
Maksudnya, amalan tersebut dikerjakan bukan karena keyakinan Rabu atau bulan Safar itu bulan sial, tetapi lebih kepada amalan yang mendekatkan diri pada Allah. Misalnya karena ingin bertobat, menyucikan diri dari dosa, bukan karena takut sial Rabu Wekasan. Pun ketika melaksanakan shalat, niatkan saja shalat hajat.
وَيَجُوْزُ كَوْنُ ذِكْرِ الْأَرْبِعَاءِ نَحْسٌ عَلَى طَرِيْقِ التَّخْوِيْفِ وَالتَّحْذِيْرِ أَيِ احْذَرُوْا ذَلِكَ الْيَوْمَ لِمَا نَزَلَ فِيْهِ مِنَ الْعَذَابِ وَكَانَ فِيْهِ مِنَ الْهَلَاكِ وَجَدِّدُوْا للهِ تَوْبَةً خَوْفًا أَنْ يَلْحَقَكُمْ فِيْهِ بُؤْسٌ كَمَا وَقَعَ لِمَنْ قَبْلَكُمْ.
Diperbolehkan menyebut hari Rabu sebagai “hari sial” dengan tujuan untuk menakut-nakuti dan memperingatkan. Artinya, waspadalah terhadap hari tersebut karena telah turun azab dan kehancuran di dalamnya. Perbaiki taubat kepada Allah, agar tidak menimpamu petaka seperti yang menimpa orang-orang sebelummu.
Berikut ini amalan yang dapat dilakukan pada hari Rabu Wekasan:
Pertama, berdoa pada Allah. 
Sejatinya, bulan Safar dianjurkan untuk memperbanyak doa. Dalam hadits disebutkan bahwa dalam bulan Safar doa akan dikabulkan oleh Allah. Di antara doa yang bisa dibaca adalah:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اللهم بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya. 
Ya Allah, wahai Yang Maha Kuat lagi Maha Mungkin, wahai Yang Maha Perkasa, segala makhluk tunduk kepada kemuliaan-Mu. Cukupkanlah aku dari segala makhluk-Mu. Wahai Yang Maha Baik, Yang Maha Indah, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Pemberi, Yang Maha Mulia, wahai Yang tiada Tuhan selain Engkau, berilah rahmat kepada ku dengan rahmat-Mu. Wahai Yang Maha Pemurah di antara yang pemurah. 
Ya Allah, dengan rahasia Hasan, saudara kandungnya, kakeknya, ayahnya, ibunya, dan anak-anaknya, cukupkan aku dari kejahatan hari ini dan apa yang turun pada hari ini. Wahai Yang Maha Cukup untuk mengatasi semua urusan, wahai Yang Maha Menjauhkan bencana. Allah akan cukupkan kamu dari mereka, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 
Cukuplah Allah sebagai pelindung kami, dan Dia adalah Pelindung yang terbaik. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya.
Kedua, membaca istighfar. 
Istighfar adalah memohon ampun kepada Allah swt atas segala dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan. Istighfar sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh setiap muslim, baik itu besar maupun kecil, baik itu disengaja maupun tidak disengaja.
Dalam Al-Qur’an firman Allah swt dalam Surat Hud [11] ayat 90:
وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَوَدُودٌ
Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Mencintai.
Hadits Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra:
مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Barang siapa yang memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. (H.R. Ahmad)
Ketiga, membaca Al-Qur’an. 
Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pedoman hidup. Membaca Al-Qur’an adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. 
Ada banyak sekali keutamaan dan pahala yang besar bagi orang yang membaca Al-Qur’an. Dan mendapatkan pahala yang cukup besar bagi orang yang membacanya.
من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول آلم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف
Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam mim itu satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, laam satu huruf, dan mim satu huruf. (H.R. Tirmidzi)
Dalam hadits lain, Rasulullah menyatakan siapa yang memperbanyak membaca Al-Qur’an, niscaya ia tidak akan masuk ke dalam neraka. Nabi bersabda:
من قرأ آيتين من القرآن لم يدخل النار
Barangsiapa yang membaca dua ayat dari Al-Qur’an, maka ia tidak akan dimasukkan ke dalam neraka.
Dengan demikian, di malam Rabu Wekasan tidak ada salahnya untuk melakukan amalan-amalan kebaikan sebagai bentuk ikhtiar dan memohon ampunan serta perlindungan kepada Allah swt dari segala macam musibah. Semoga Allah menjauhkan kita dari segala bahaya dan memudahkan jalan hidup kita.
ADA APA DENGAN ACARA REBO WEKASAN?
Rebo wekasan diambil dari bahasa jawa. Rebo artinya hari rabu dan wekasan artinya terakhir.
Adapun yang dimaksud di sini adalah acara ritual yang biasa dilakukan sebagian masyarakat pada hari rabu akhir bulan Safar karena menurut persepsi mereka saat itu adalah saat petaka.
Acaranya adalah salat empat rakaat, setiap rakaat membaca surat al-Fatihah satu kali, surat al-Kautsar tujuh belas kali, surat al-Ikhlas lima belas kali, surat al-Falaq dan an-Nas dua kali kemudian membaca doa bikinan mereka yang berisi kesyirikan dan kesesatan.
Demikian juga mereka berkumpul-kumpul di masjid menunggu rajah-rajah bikinan kyai mereka lalu menaruhnya di gelas dan meminumnya.
Tidak hanya di situ, mereka juga mengadakan perayaan makan-makan lalu berjalan di rumput-rumput dengan keyakinan agar sembuh dari segala penyakit.
Tidak ragu lagi bahwa semua itu termasuk ritual jahiliyah yang merusak disebabkan kejahilan terhadap agama, lemahnya tauhid, suburnya ahli bid’ah dan penyesat umat serta minimnya para penyeru tauhid. (Lihat Tahdzirul Muslimin ‘anil Ibtida’ fi Din, Ibnu Hajar Alu Abu Thomi, hlm. 281, Ishlahul Masajid al-Qosimi hlm. 116, al-Bida’ al-Hauliyyah at-Tuwaijiri hlm. 126-132).
Bila kita cermati khurafat di atas, niscaya akan kita dapati keduanya kembali pada masalah Tathoyyur yaitu merasa sial dengan burung atau lainnya yang hal ini termasuk kategori perkara jahiliyah yang dibatalkan Islam.
Perlu diketahui bahwa khurafat ini sampai sekarang masih bercokol di sebagian masyarakat.
Sebagai contoh, sebagian masyarakat masih meyakini bila ada burung gagak melintas di atas maka itu pertanda akan ada orang mati, bila burung hantu berbunyi pertanda ada pencuri, bila mau bepergian lalu di jalan dia menemui ular menyebrang maka pertanda kesialan sehingga perjalanan harus diurungkan.
Demikian pula ada yang merasa sial dengan bulan Dzulqa’dah (selo; jawa) dan bulan Muharram (suro: jawa), hari jum’at kliwon, ada juga yang merasa sial dengan angka seperti angka 13 dan sebagainya. (Lihat secara lebih luas masalah ini dalam risalah Ath-Tathoyyur oleh Syaikh Ibrahim al-Hamd).
Sebaliknya, hendaknya kita bertawakal yakni menyerahkan segala urusan sepenuhnya kepada Allah, karena salah satu hikmah di balik peniadaan Nabi terhadap khurafat-khurafat jahiliyah dalam hadits ini adalah agar seorang muslim benar-benar bertawakal bulat kepada Allah tanpa melirik kepada selain-Nya.
Kalau sekirannya dia bimbang dalam melangkah, maka hendaknya dia melakukan shalat istikharah, berdoa kepada Allah dan bermusyawarah kepada orang-orang yang berpengalaman. Dengan demikian in sya Allah dia akan melangkah dengan penuh optimis diri.
PANDANGAN KAMI:
Sebagian orang berkeyakinan bahwa bulan Safar bulan yang ke-2 tahun Hijriah adalah bulan sial, bulan penuh bala’, sehingga banyak pernikahan dan acara bepergian serta aktifitas lainnya digagalkan.
Hal ini berdasarkan sebuah keyakinan bahwa tiap hari Rabu terakhir dari bulan Shafar diturunkan 320.000 bala’ (bencana), sehingga hari itu termasuk hari tersulit dalam setahun.
Untuk tolak bala pada hari Rabu akhir bulan Shafar dilakukan Shalat Sunat pada waktu Dhuha sebanyak 4 rakaat dengan satu kali salam.
Dibaca pada setiap rakaat, surat Al-Fatihah, surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali, muawidzatain sekali sekali, melakukan hal itu pada setiap rakaat dan salam.
Ketika salam dianjurkan membaca ayat:
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ 
“Allah yang akan mengalahkan urusannya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. Yusuf:21)
Dan dibaca 360 kali, membaca Jauharatul kamal tiga kali, diakhiri dengan bacaan:
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.” (QS. As-Shafaat: 180-182)
Khasiat ayat ini (QS. Yusuf: 21) untuk menolak bencana Rebo Wekasan. Siapa yang menunaikan shalat ini dengan cara tadi, maka Allah akan menjaga dengan kemulyaan-Nya dari semua bencana yang turun pada hari itu.
Tanggapan:
Shalawat Jauharatul Kamal adalah salah satu shalawat yang menjadi Wazhifah (tugas rutin) dalam Thariqah Tijaniyyah selain shalawat al-Fatih yang dibaca secara berjamaah ataupun dalam keadaan sendiri.
Dalam klaim mereka, redaksi shalawat Jauharatul Kamal diajarkan langsung oleh Sayyidul Wujud Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Sayyidi Syaikh al-Imam Ahmad Ibn Muhammad At-Tijany (1150-1230 H, 1737-1815 M) dalam keadaan sadar/jaga (bukan mimpi).
Shalawat dan Shalat sunah yang diyakini penolak bala Rebo Wekasan tidak ada sumbernya dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Menurut kami, tidak ada ketetapan satu orang pun dari ulama’ salaf umat ini dan orang-orang shaleh setelahnya mengamalkan shalat sunah ini. Bahkan ia termasuk bid’ah yang munkar.
Munculnya keyakinan demikian jauh-jauh hari sudah diperingatkan oleh Rasulullah Saw:
عن أَبَي هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ. رواه البخاري و مسلم
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada ‘Adwa, thiyarah, hammah, Shafar dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa”. (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
‘Adwa artinya: keyakinan penularan penyakit dengan sendirinya tanpa kehendak dan takdir Allah Ta’ala.
Thiyarah artinya: merasa bernasib sial karena melihat burung, binatang atau apapun.
Hammah artinya: keyakinan jika burung hantu hinggap di atas rumah maka akan ada yang mati.
Shafar artinya: keyakinan bahwa bulan Shafar adalah bulan sial dan tidak menguntungkan.
Maksud dari hadis shahih di atas adalah peniadaan semua keyakinan yang menyatakan bahwa ada pengaruh buruk yang timbul tanpa kehendak dan izin dari Allah ta’ala.
KESIMPULAN:
Persatuan Islam (Persis) memiliki pandangan yang tegas terkait praktik-praktik tradisional yang tidak memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah, termasuk Rebo Wekasan. Menurut Persis, Rebo Wekasan adalah salah satu bentuk kepercayaan atau tradisi yang tidak diajarkan dalam Islam dan dianggap sebagai bid’ah (inovasi dalam agama) karena tidak memiliki dalil yang jelas dari ajaran Nabi Muhammad ﷺ.
Pandangan Persis tentang Rebo Wekasan:
Bid’ah dan Takhayul: Persis menolak Rebo Wekasan karena tradisi ini didasarkan pada kepercayaan adanya kesialan atau turunnya bala pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Dalam pandangan Persis, ini termasuk ke dalam bentuk takhayul dan bid’ah, yang harus dijauhi oleh umat Islam.
Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah: Persis selalu menekankan pentingnya berpegang teguh pada ajaran yang murni dari Al-Qur’an dan Sunnah. Segala bentuk ibadah atau amalan yang tidak memiliki dasar dari keduanya dianggap tidak sah dan tidak diterima oleh Allah. Oleh karena itu, praktik-praktik seperti Rebo Wekasan tidak didukung oleh Persis.
Menghindari Praktik-praktik yang Tidak Ada dalam Syariat: Persis mengajak umat Islam untuk menjauhi segala bentuk amalan yang tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya. Mereka lebih menekankan pada amalan-amalan yang sudah jelas diperintahkan atau dianjurkan dalam syariat, seperti shalat, sedekah, dan zikir, tanpa mengaitkannya dengan hari atau peristiwa tertentu yang tidak ada dalilnya.
Dalam pandangan Persis, Rebo Wekasan tidak memiliki dasar yang sah dalam ajaran Islam dan seharusnya tidak dilakukan oleh umat Muslim. Sebaliknya, Persis mendorong umat untuk fokus pada ibadah yang benar-benar diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan meninggalkan segala bentuk praktik yang dianggap sebagai bid’ah dan takhayul.
avatar Tidak diketahui
Author

Admin Kominfo

Follow Me
Other Articles
Previous

SUMPAH POCONG

Next

MENGAPA ADA ALIRAN SESAT DI INDONESIA ?

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — Pemuda Persis Batununggal. All rights reserved. Kominfo