Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal
Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal Pemuda Persis Batununggal
  • Beranda
  • Blog
  • Dashboard
  • Kategori
  • TASYKIL PC
  • Beranda
  • Blog
  • Dashboard
  • Kategori
  • TASYKIL PC
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Islam

Uswah dan Kewirausahaan Nabi SAW. dan Para Shahabat

avatar Tidak diketahui
By Admin Kominfo
1 Juli 2024 26 Min Read
0
MUQADIMMAH:
Kelahiran Nabi Muhammad merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia, karena kehadirannya membuka era baru dalam perkembangan peradaban dunia bahkan alam semesta. (Rahmatan-lil’alamin 21:107) Beliau adalah utusan terakhir Allah SWT sebagai pembawa kebaikan dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.
Michael Hart dalam bukunya menempatkannya di peringkat satu dalam daftar seratus orang paling berpengaruh dalam sejarah.
“Muhammad Saw terpilih menempati peringkat pertama dalam peringkat seratus orang paling berpengaruh di dunia, karena dia paling sukses di kedua bidang sekaligus, di bidang agama dan bidang duniawi”. ujar Hart.
Kesuksesan Nabi Muhammad SAW banyak diperdebatkan oleh para sejarawan, baik sejarawan Islam maupun Barat. Salah satu aspek keberhasilan Nabi Muhammad SAW adalah kiprahnya sebagai pebisnis (wirausahawan).
Selain menyebarkan ajaran Islam, Nabi Muhammad SAW juga dikenal sebagai pebisnis yang jujur dan amanah. Bahkan Nabi Muhammad SAW mencapai puncak kesuksesannya pada usia 25 tahun.
Namun, aspek kehidupan Nabi Muhammad sebagai pedagang dan pengusaha ini kurang mendapat perhatian dari para ulama dibandingkan saat perayaan maulid Nabi. Oleh karena itu, kita harus merekonstruksi aspek sejarah Nabi Muhammad, khususnya manajemen bisnis yang dianutnya untuk meraih kesuksesan spektakuler pada masanya.
Nabi juga mengajarkan dan membuktikan bahwa masa muda bukanlah halangan untuk bekerja dan menghidupi diri sendiri.
Reputasi Nabi Muhammad di dunia bisnis dilaporkan antara lain oleh muhaddits Abdul Razzaq. Setelah dewasa, ia memilih menjadi pengusaha/wirausaha. Ketika dia tidak punya modal, dia menjadi pengelola bisnis untuk investor (shahibul maal) dengan sistem bagi hasil. Seorang investor besar Makkah, Khadijah, menunjuknya sebagai pengelola pusat perdagangan Habshah di di Yaman.
Kehebatannya sebagai pengusaha telah membawa dia dan investornya untung besar. Dia juga memimpin empat ekspedisi komersial untuk Khadijah ke Suriah, Jorash dan Bahrain di Jazirah Arab timur.
Dalam literatur sejarah disebutkan bahwa di masa mudanya, Nabi SAW sering digambarkan sebagai Al-Amin atau Ash-Shiddiq bahkan mengikuti pamannya berdagang ke Syria saat berusia 12 tahun.
Selama lebih dari dua puluh tahun, Nabi Muhammad telah aktif di bidang bisnis (perdagangan), berkat itu ia dikenal di Yaman, Suriah, Basra, Irak, Yordania, dan di kota-kota komersial di pulau Jazirah Arab. Namun, penjelasan rinci tentang pengalaman dan keterampilan pengamatan bisnisnya sejauh ini belum diteliti.
Sebelum menjadi mudharib (pengelola dana) aset Khadijah, ia sering melakukan perjalanan bisnis, seperti ke kota Busrah di Suriah dan Yaman. Dalam Sirah Halabiyah, disebutkan ia sempat melakukan empat kali perjalanan bisnis ke Khadijah, dua ke Ethiopia dan dua lagi ke Jorasy, serta ke Yaman bersama Maisarah.
Dia juga melakukan beberapa kunjungan ke Bahrain dan Abyssinia. Pelayaran dagang ke Syiria adalah yang kelima atas nama Khadijah, di samping perjalanannya sendiri -yang keenam- termasuk perjalanan dengan pamannya ketika Nabi berusia 12 tahun.
Di usia akhir tiga puluhan, dia sangat terlibat dalam perdagangan seperti kebanyakan pedagang lainnya. Tiga dari perjalanan bisnis Nabi setelah menikah tercatat dalam sejarah:
Yang pertama adalah perjalanan dagang ke Yaman, yang kedua ke Najd dan yang ketiga ke Najran. Diriwayatkan juga bahwa selain perjalanan ini, Nabi terlibat dalam urusan perdagangan besar selama musim haji, dalam festival komersial Ukaz dan Dzul Majaz.
Sedangkan pada musim-musim lainnya, Nabi sibuk berdagang di pasar-pasar Makkah. Dalam menjalankan usahanya, Nabi Muhammad jelas menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang akurat dan handal sehingga usahanya selalu menguntungkan dan tidak pernah merugi.
Sukses adalah dambaan setiap manusia di dunia ini. Sama halnya dengan pengusaha. Bicara tentang kesuksesan dalam bisnis. Rasulullah adalah panutan kita dan kita bisa belajar dari kesuksesan-Nya.
Karena menurut Rasulullah Saw, jual beli adalah salah satu pintu rezeki yang menggiurkan. Berikut rahasia sukses bisnis Rasulullah SAW.
Menurut Profesor Dr. Laode dalam bukunya “Rasulullah Business’ School” ada 12 rahasia bisnis Nabi Muhammad SAW yang bisa kita pelajari dan terapkan dalam pengembangan bisnis, diantaranya:
PERTAMA: Jujur, cara kunci berdagang sukses seperti Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad adalah seorang pedagang yang jujur dan adil, sehingga banyak pembeli yang mempercayai dan membeli kembali barangnya. Nabi SAW berdagang tidak hanya untuk mencari nafkah halal untuk kebutuhan hidup, tetapi juga mencari relasi untuk membangun reputasinya agar investor datang mempercayakan uangnya. Salah satu investornya adalah Khadijah, yang kemudian menjadi istri Nabi.
Ketika dia menjadi Kepala Negara Madinah, dia menghapus penipuan, kecurangan, riba, perjudian, eksploitasi, pasar gelap dan pencatutan yang berlebihan. Selain itu, ia menstandarkan timbangan sehingga menjadi indikator perdagangan dengan angka mutlak.
Sahabat seperti umatnya patut merasa bangga memiliki teladan seperti Nabi Muhammad. Meskipun Anda sendiri bukan pembuat peraturan atau pembuat kebijakan, jadilah pebisnis yang jujur agar konsumen senang berbelanja di toko Anda. Kejujuran adalah awal dari berkah, menipu adalah awal dari kehancuran.
KEDUA: Tak hanya jago mimpi, tapi harus jago mewujudkan mimpi. 
Mimpi tanpa tindakan hanyalah mimpi belaka. Saat kita memiliki mimpi yang berubah menjadi tindakan, tentukan langkah-langkahnya berdasarkan apa yang direncanakan. Visioner, pemikir kreatif dan siap menghadapi perubahan.
Sebagai seorang pengusaha sukses, ia harus memiliki pemikiran yang tajam, mampu menganalisa perkembangan usahanya ke depan, perkembangan seperti apa yang ingin ia kembangkan. Tentunya sikap kreatif juga dibutuhkan. Mampu memanfaatkan peluang yang ada dan terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
KETIGA: Pintar mempromosikan diri.
Pengusaha sukses adalah pengusaha yang dapat mempromosikan dirinya di setiap kesempatan. Tidak hanya memiliki bisnis namun kepribadiannya dapat menjadi aset yang dapat membangun relasi sebanyak-banyaknya untuk memperkuat kerajaan bisnis yang telah dibangunnya.
KEEMPAT: Rasulullah memiliki rencana dan tujuan yang jelas.
Berbisnis juga perlu diperhitungkan matang-matang, apapun yang dilakukan dengan jelas pasti akan sukses dan mencapai impiannya. Oleh karena itu, kita harus bekerja sesuai dengan konsep kontrol yang sesuai kita rancang sebaik mungkin. Jika ada kesalahan, akan lebih mudah untuk menganalisisnya.
KELIMA: Menggaji karyawan sebelum keringatnya mengering.
Dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Baihaqi mengatakan bahwa:
أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
“Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah, shahih)
Maksud hadits ini adalah bersegera menunaikan hak si pekerja setelah selesainya pekerjaan, begitu juga bisa dimaksud jika telah ada kesepakatan pemberian gaji setiap bulan.
Al Munawi berkata, “Diharamkan menunda pemberian gaji padahal mampu menunaikannya tepat waktu. Yang dimaksud memberikan gaji sebelum keringat si pekerja kering adalah ungkapan untuk menunjukkan diperintahkannya memberikan gaji setelah pekerjaan itu selesai ketika si pekerja meminta walau keringatnya tidak kering atau keringatnya telah kering.” (Faidhul Qodir, 1: 718)
Menunda penurunan gaji pada pegawai padahal mampu termasuk kezholiman. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ
“Menunda penunaian kewajiban (bagi yang mampu) termasuk kezholiman” (HR. Bukhari no. 2400 dan Muslim no. 1564)
Gaji yang dibayarkan kepada karyawan harus sesuai dengan kebutuhan mereka. Membayar upah tepat waktu dapat menjadi motivator untuk meningkatkan kinerja karyawan.
KEENAM: Menerapkan Rumus, “Bekerja dengan Cerdas”.
Tujuannya agar bisa menikmati waktu yang terbatas dengan hasil kerja yang maksimal.
KETUJUH: Mengutamakan sinergi.
Dapat menjaga orang lain bersama-sama dalam kemajuan perusahaan. Pengusaha yang cerdas akan menyadari bahwa dia tidak dapat melakukan semuanya sendiri, sehingga diperlukan kemitraan untuk mengisi kekurangan bisnisnya.
KEDELAPAN: Pandai bersyukur dan mengucapkan terima kasih.
Orang yang selalu bersyukur adalah orang yang merasa puas dengan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya. Selalu bersyukur atas kondisi apapun yang kamu terima. Syukur ini akan mengundang nikmat lain dari Allah.
KESEMBILAN: Berbisnis dengan cinta.
Lakukan segalanya dengan cinta dan Anda akan merasakan perbedaannya, dibandingkan dengan paksaan. Berbisnis dengan cinta akan membuat kita menghargai apa yang kita lakukan. Tidak ada tekanan karena kami melakukannya dengan sepenuh hati.
“Bekerja dengan cinta membawa kedamaian dan semangat dalam diri kita.”
Ungkapan ini menjelaskan ciri-ciri orang yang selalu menolong orang lain. Dengan ilmu, kekayaan, dan keahlian, sangatlah penting untuk menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain.
Hal ini juga bisa diterapkan oleh para pengusaha sukses. Karena ia menyadari bahwa kekayaan, ilmu, dan keterampilan yang ia miliki hanya dititipkan kepada mereka yang harus diperhitungkan di akhirat nanti.
KESEPULUH: Menjual produk berkualitas baik.
Cara Nabi Muhammad SAW selanjutnya adalah selalu menjual produk yang berkualitas baik. Dia tidak pernah menjual produk cacat, jika dia menemukan produk yang cacat, dia tidak akan menyembunyikannya. Nabi Muhammad secara blak-blakan menyampaikan kelebihan dan kekurangan produknya.
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Uqbah bin Amir pernah mendengar Rasulullah bersabda:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ عَيْبٌ إِلاَّ بَيَّنَهُ لَهُ. (رواه أحمد وابن ماجة وغيره)
“Bahwasanya Nabi saw bersabda: Muslim yang satu dengan Muslim lainnya adalah bersaudara, tidak halal bagi seorang muslim menjual barangnya kepada muslim lain, padahal pada barang tersebut terdapat aib/cacat melainkan dia harus menjelaskannya”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Daraquthni, Al-Hakim dan Ath-Thabrani)
KESEBELAS: Cara berdagang Rasulullah agar amanah dan fatonah.
Rasulullah SAW memiliki sifat amanah yang berarti dapat dipercaya dan fathonah artinya cerdas. Dia adalah bukti bahwa perdagangan yang jujur masih bisa berkembang menjadi pebisnis berskala besar.
Nabi Muhammad sangat cerdas melihat peluang tanpa ada kecurangan, karena itulah beliau terkenal di kalangan saudagar kaya sebagai orang yang penuh perhitungan, jujur dan profesional. Meski berasal dari keluarga miskin, Nabi Muhammad tidak menjadikan bisnis sebagai aji mumpung.
Semangatnya untuk berbisnis semakin terlihat saat ia berusia 17-20 tahun. Saat itu, dia bersaing dengan pengusaha senior di daerah.
Persaingan bisnis makin kesini makin ketat, sehingga Anda harus memperluas aktivitas berdagang Anda ke bidang yang lebih serius. Dengan demikian, usaha kecil tidak hanya bersifat sementara tetapi juga jangka panjang dan berkelanjutan.
KEDUA BELAS: Tabligh, tidak menyembunyikan fakta barang dagangan.
Nabi Muhammad menjadi pengusaha yang sukses karena keterampilan negosiasi, komunikasi yang baik dan reputasinya. Seperti makna Tabligh yaitu menyampaikan perintah dan larangan, Nabi Muhammad tetap bersikukuh dan selalu menyampaikan syarat-syarat niaga tanpa menyembunyikan kebenaran.
Jauh sebelum Frederick W. Taylor (1856-1915) dan Henry Fayol menetapkan prinsip-prinsip manajemen sebagai ilmu, Nabi Muhammad SAW menerapkan nilai-nilai manajemen dalam kehidupan dan praktik bisnisnya.
Dia menangani proses bisnis, transaksi dan hubungan dengan semua elemen bisnis dan pemangku kepentingan dengan sangat baik. Bagaimana Anda menggambarkan menjalankan bisnis Anda, Prof. Afzalul Rahman dalam bukunya “Muhammad A Trader”, mengungkapkan: “Muhammad treats customers honestly, fairly and never makes customers complain. He always keeps his promises and delivers goods on time, with the quality agreed by the parties. He always shows spirit. High responsibility and integrity in dealing with others”. (Muhammad memperlakukan pelanggan dengan jujur, adil dan tidak pernah membuat pelanggan mengeluh. Dia selalu memenuhi janjinya dan mengirimkan barang tepat waktu, dengan kualitas yang disepakati oleh kedua belah pihak. Dia selalu menunjukkan semangat, tanggung jawab tinggi dan integritas dalam berurusan dengan orang lain).
Bahkan dia mengatakan: “His reputation as an honest and honest trader was confirmed when he was still at his peak.” (Reputasinya sebagai pedagang yang jujur dan amanah bisa dilihat di masa mudanya).
Berdasarkan tulisan Afzalurrahman di atas dapat diketahui bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pedagang yang jujur dan adil dalam melakukan transaksi niaga. Dia tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh.
Dia biasanya menepati janjinya dan tepat waktu. Dia selalu menunjukkan rasa tanggung jawab dan integritas yang besar kepada siapapun. Reputasinya sebagai pedagang yang jujur dan setia sudah dikenal luas sejak usia dini. Dasar-dasar etika bisnis dan manajemen mendapat legitimasi agama setelah beliau diangkat menjadi nabi.
Prinsip-prinsip yang diwariskan dari etika bisnis mendapat pembenaran akademis yang meningkat pada akhir abad 20 atau awal abad 21. Prinsip-prinsip bisnis modern, seperti tujuan dan kepuasan pelanggan bisnis, keunggulan layanan, kompetensi, efisiensi, transparansi, persaingan dan persaingan yang sehat, semuanya menjadi citra pribadi dan etika bisnis Nabi Muhammad Saw ketika masih muda.
Pada zamannya, beliau adalah seorang pionir dalam perdagangan yang berlandaskan pada prinsip-prinsip kejujuran, hubungan bisnis yang adil dan sehat. Ia tak segan-segan mensosialisasikannya dalam bentuk edukasi langsung dan memberikan pernyataan tegas kepada para pedagang.
Saat menjadi kepala negara, penegakan hukum dilakukan secara tegas terhadap para pengusaha nakal. Beliau juga memperkenalkan asas “Facta Sur Servanda” yang kita sebut asas utama hukum perdata dan perjanjian. Para pihak memiliki hak tertinggi untuk melakukan transaksi, yang dibangun atas dasar kesepakatan para pihak.
“Sebenarnya transaksi jual beli itu (diharuskan) berdasarkan kesepakatan bersama (ridla)…” Mengenai penguasaan aset, dengan tegas menyatakan: “Tidaklah seseorang menumpuk harta (ihtikar), kecuali itu pasti karena kesalahan (dosa)!!!”
Sebagai seorang debitur, Nabi Muhammad tidak pernah lalai dari para krediturnya. Dia biasanya membayar sebelum tanggal jatuh tempo ketika dia menunjukkan pinjaman 40 dirham dari Abdullah bin Abi Rabi’.
Bahkan seringkali bunga yang diberikan lebih besar dari pokok pinjaman, sebagai rasa terima kasih kepada kreditur. Pernah ia meminjam bayi unta, lalu memerintahkan Abu Rafi’ mengembalikannya dengan unta yang bagus berusia tujuh tahun.
أعْطُوه، فإن خَيْرَكم أحْسَنُكُم قَضَاء
“Berikan kepadanya! Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam pembayaran (utang).” (HR.Muslim)
Seperti disebutkan sebelumnya, penduduk Makkah menyebutnya As-Shiddiq (jujur) dan Al-Amin (dipercaya).
Gelar Al-Amin diberikan kepadanya sebagai seorang pedagang. Tidak heran Khadijah juga menganggapnya sebagai mitra yang dapat diandalkan dan menguntungkan, sehingga dia mengirimnya dalam banyak perjalanan perdagangan ke berbagai pasar di Utara dan Selatan dengan modalnya sendiri.
Hal ini terkadang dilakukan melalui kontrak fee (gaji), modal komersial, dan kontrak pembagian produk.
Dalam dunia manajemen, Peter Drucker menggunakan kata “adil” untuk membentuk arti efisiensi dan efektifitas. Efisiensi berarti melakukan hal yang benar (do thing right), sedangkan efektivitas adalah melakukan sesuatu yang benar (do the right thing).
Efisiensi berfokus pada penghematan dalam penggunaan input untuk menghasilkan hasil tertentu. Upaya ini dicapai melalui penerapan konsep dan teori manajemen yang tepat. Sedangkan efektivitas ditekankan pada sejauh mana tujuan tercapai melalui penerapan metode kepemimpinan dan pilihan strategis yang tepat.
Prinsip efisiensi dan efektifitas digunakan untuk mengukur seberapa sukses suatu usaha. Prinsip ini mendorong para sarjana dan praktisi untuk mencari sarana, teknik, dan metode yang dapat mencapai efisiensi dan efektivitas tertinggi.
Semakin efisien dan efektif suatu perusahaan, semakin kompetitif perusahaan tersebut. Dengan kata lain, untuk berhasil menjalankan suatu usaha, hakekat shiddiq dapat dijadikan sebagai modal dasar untuk menerapkan prinsip efisiensi dan efektifitas.
SAHABAT NABI YANG SUKSES DALAM BERBISNIS:
Sepanjang sejarah peradaban Islam terdapat tokoh-tokoh yang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam berbisnis. Begitupula para sahabat Nabi Muhammad SAW, banyak diantara mereka yang menggeluti profesi dan sukses sebagai pengusaha. Hal itu bukan tanpa dasar, pasalnya Rasulullah SAW sendiri juga merupakan sesorang pedagang sukses. Tak heran jika para sahabatnya kemudian mengikuti jejaknya, hingga menjadi pengusaha yang sukses pada zaman itu. Berikut ini beberapa sahabat Nabi SAW yang sukses menjalankan bisnis dan menjadi pengusaha sukses:
PERTAMA: Abdurrahman bin Auf.
Abdurrahman bin Auf merupakan salah seorang sahabat Nabi yang memiliki kemampuan mumpuni menjadi seorang pebisnis atau pengusaha. 
Awal kesuksesan Abdurrahman bin Auf bermula ketika dia ikut hijrah ke Madinah bersama Rasulullah SAW. 
Di Madinah, Rasulullah mempersaudarakan dia dengan seorang konglomerat Madinah bernama Sa’ad bin Rabi. Saking kayanya Sa’ad bin Rabi, dia berniat memberikan setengah kekayaannya dan juga menceraikan salah satu istrinya untuk diberikan kepada Abdurrahman bin Auf. 
Alih-alih menerimanya, Abdurrahman bin Auf justru meminta Sa’ad bin Rabi untuk menunjukkan letak pasar yang ada di Madinah. Sesampainya di pasar, Abdurrahman bin Auf melakukan sedikit riset pasar untuk bisa mengembangkan bisnisnya sendiri. 
Satu hal yang dia pelajari dari riset tersebut adalah harga sewa lahan di pasar begitu tinggi. Maka dari itu, Abdurrahman bin Auf lantas menawarkan kerja sama dengan Sa’ad bin Rabi untuk mengelola sebidang lahan di samping pasar yang tidak terpakai.
Sa’ad bin Rabi kemudian membeli lahan tersebut dan menyerahkan pengelolaannya ke Abdurrahman bin Auf yang olehnya lahan tersebut dibagi menjadi kavling-kavling untuk disewakan kembali dengan harga lebih murah.
Dari sanalah kesuksesan Abdurrahman bin Auf sebagai taipan properti dimulai dan hingga akhirnya dia menjadi sahabat Rasulullah paling sukses di antara lainnya.
Kesuksesan Abdurrahman bin Auf sebagai pengusaha berbanding lurus dengan kemampuan amalnya. Dia tercatat mampu menyumbang ribuan dinar dalam satu majelis dan bahkan namanya merupakan sosok penyumbang terbesar ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya kekurangan perbekalan dalam Perang Tabuk.
KEDUA: Utsman bin Affan.
Utsman bin Affan merupakan sahabat sekaligus menantu Rasulullah SAW. Kiprahnya di dunia bisnis terekam lewat kesuksesannya sebagai seorang saudagar kain yang kaya dan juga dermawan.
Utsman bin Affan juga terkenal sebagai orang dengan jumlah ternak terbanyak di antara orang-orang Arab lainnya. Kekayaan yang dia miliki tak hanya dihabiskan untuk menafkahi keluarganya, melainkan juga bagi pembangunan umat dan kemahsyuran Islam.
Prinsip Utsman bin Affan sebagai pengusaha adalah terus memberi dan membantu saudaranya karena Allah SWT tanpa berharap imbalan apapun serta tidak banyak menghitung harta yang dimiliki karena sadar itu semua merupakan titipan Allah SWT.
KETIGA: Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Sahabat Nabi berikutnya yang menjadi pengusaha sukses adalah tidak lain tidak bukan Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Sosok yang menjadi pemimpin umat Islam sepeninggal Rasulullah tersebut dikenal sebagai seorang pengusaha dan pedagang jujur, adil, berwawasan luas, dan dermawan.
Karier bisnis Abu Bakar dimulai ketika dia memasuki masa remaja dengan berdagang ke Basyra dengan modal 40 dirham.
Sejak saat itu, dia bekerja keras untuk meraih kesuksesan dan meniagakan harta yang dimilikinya di jalan Allah SWT. Sesuai namanya, yakni Shiddiq, yang berarti jujur, cara berdagang Abu Bakar disenangi karena selalu dilandasi rasa kejujuran sehingga membuat orang lain percaya terhadapnya.
KEEMPAT: Urwah Al Bariqi.
Urwah Al Bariqi menjadi sahabat Rasulullah berikutnya yang sukses meniti karier sebagai pengusaha. Salah satu kekuatan yang dimiliki Urwah Al Bariqi sebagai seorang pengusaha adalah kemampuan berkomunikasi dan negosiasi dengan relasi serta pembelinya yang sangat mumpuni.
Salah satu kisah yang melibatkan kehebatan komunikasi dan negosiasi Urwah Al Bariqi adalah ketika Rasulullah Muhammad menyuruhnya membeli kambing kurban dengan harga satu dinar.
Urwah Al Bariqi pun lantas pulang membawa hasil di luar dugaan. Dia membawa dua ekor kambing dengan harga satu dinar ke hadapan Rasulullah SAW. Hal itu dia lakukan lewat kemampuan negosiasinya yang apik.
Bukan hanya itu, Urwah Al Bariqi juga dikenal sebagai sosok yang mampu menjual barang apapun yang ada di tangannya.
KELIMA: Umar bin Khatab.
Umar bin Khatab juga terkenal sebagai pengusaha yang sukses. Sama seperti Abdurrahman bin Auf, Umar bin Khatab juga merupakan pengusaha properti yang sukses.
Ketegasan sifatnya membuat Umar bin Khatab menjadi sosok sahabat dan pengusaha yang disegani di jazirah Arab kala itu.
Umar bin Khatab sendiri diketahui memiliki ladang pertanian dengan luas hingga 70 ribu hektare dan ditaksir dapat menghasilkan Rp160 juta untuk setiap satu hektar lahannya.
Dengan demikian, jika dihitung secara manual, Umar bin Khatab dapat menghasilkan kekayaan Rp2,8 triliun per tahun atau kurang lebih Rp233 miliar per bulannya.
PRINSIP-PRINSIP BISNIS ABDURRAHMAN BIN AUF:
Setiap profesi apapun pasti punya keunggulannya sendiri, termasuk juga dengan profesi bisnis berdagang. Pedagang adalah merupakan profesi yang disukai Nabi dan sebagian para sahabatnya.
Seorang pedagang mempunyai kedudukannya tersendiri. Jika seorang Muslim yang jujur dan amanah, lalu profesinya sebagai seorang pedagang. Maka kedua hal ini merupakan aset yang berharga. Di mana pintu segala kebaikan dan keberkahan akan ada didalamnya.
Dalam sejarah mencatat, saat ada seorang Muslim yang shalih dan kaya raya, lalu ia dengan penuh keimanan mengerahkan kelebihannya itu di jalan Allah, maka keberkahan dan kebaikan akan terpancar ke seluruh penjuru dunia.
Di sana akan terjadi saling menolong dan membantu sesama dalam hal kebaikan. Sehingga keberadaan mereka, yaitu para pedagang yang shalih mempunyai penilaian tersendiri di mata AllahTa’ala. Dalam hal ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
“Seorang pedagang yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Sa’id al-Hudri)
Hadits ini menjelaskan tentang keutamaan seorang Muslim yang jujur dan amanah dalam berdagang. Ketika nanti dikumpulkan di akhirat, orang seperti ini akan berkumpul bersama para Nabi, Shiddiqin dan Syuhada. Sebagai penghargaan atas dirinya dari Allah.
Salah satu keutamaan itu harusnya menjadikan motivasi bagi seorang Muslim. Bahwa dirinya mempunyai potensi besar untuk menggapai pahala spesial tersebut.
Di antara para sahabat Nabi yang terkenal karena kebaikan dari kekayaannya adalah sahabat mulia, Abdurrahman bin ‘Auf Radhiyallahu ‘Anhu.
Ia adalah salah satu di antara para sahabat yang dijamin masuk surga melalui lisan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Profesi beliau adalah seorang pedagang. Namun meskipun berprofesi demikian, ia adalah salah satu dari sahabat Nabi yang taat dan terdepan dalam barisan perjuangan menegakkan kalimat tauhid, Laa ilaaha Illallaah.
Kisah perjuangan beliau begitu panjang dan sudah terlihat ketika berada di Makkah bersama Nabi.
Hingga ia memenuhi panggilan hijrah ke Madinah. Ia pun tanpa ragu dengan penuh keimanan, menjawab seruan itu untuk meninggalkan semua harta yang dimilikinya di Mekkah. Beliau lebih memilih panggilan Allah dan Rasul-Nya daripada kemegahan dunia beserta isinya.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah telah mempersaudarakan Abdurrahman dengan Sa’ad bin al-Rabi’ al-Anshari tatkala tiba di Madinah. Sa’ad termasuk salah satu orang kaya di sana.
Karena tahu bahwa Abdurrahman bin ‘Auf tidak mempunyai apa-apa di Madinah. Saudaranya itu menawarkan sebagian hartanya dan salah satu dari kedua isterinya yang hendak ia diceraikan. Tapi beliau menolaknya dengan baik dan malah meminta kepadanya agar ditunjukkan saja di mana letak pasar.
Ditunjukkanlah sebuah pasar tersebut, yaitu pasar milik Bani Qainuqo, milik Yahudi. Ia pun bisa memulai berdagang.
Dari sinilah ia merintis bisnis dagangnya dengan memulai berjualan keju dan minyak samin.
Dari usahanya itu, setelah mempunyai penghasilan yang cukup baik. Lalu ia pun memutuskan untuk menikah dengan Muslimah Madinah. Maka mereka di doakan oleh Nabi agar mendapatkan keberkahan dalam hidupnya.
Lalu ada satu peristiwa lagi yang menarik, karena merasa biaya sewa pasar milik Yahudi itu sangat mahal, sedangkan kondisi pasarnya yang kurang tertata rapih dan tidak nyaman. Maka ia meminta tolong kepada saudaranya untuk bekerjasama membeli tanah dan membuatkan pasar yang baru agar orang-orang bisa nyaman di sana.
Setelah tanah lokasi terbeli, ia pun membuat petak-petakan secara baik dan layak. Siapa pun boleh berjualan di tanah itu tanpa membayar sewa. Apabila dari pedagang itu ada keuntungan, ia menghimbau mereka untuk memberikan bagi hasil seikhlasnya.
Begitulah, keberkahan harta yang ia dapatkan. Seiring waktu, hartanya semakin bertambah dan bertambah berkah, dengan izin Allah Ta’ala.
Adapun prinsip-prinsip Abdurrahman bin ‘Auf yang sering dipakai dalam rutinitas bisnisnya adalah:
PERTAMA: Mengambil Keuntungan Sedikit.
Pada umumnya, orang saat berdagang akan melakukan sebuah strategi untuk membeli modal dengan harga yang murah dan mengambil untung darinya dengan sebesar-besarnya. Dengan demikian, dirinya merasa akan cepat menggapai kesuksesan dalam berbisnis.
Tapi berbeda dengan Sahabat Nabi ini, ia lebih senang untuk mengambil keuntungan sedikit dari tiap perdagangannya. Dengan catatan, volume jumlahnya yang harus diperbesar. Sedikit keuntungan tapi jumlah barang yang terjual harus lebih banyak.
Cara ini patut ditiru atau dipraktikkan. Orientasinya bukan pada keuntungan besar sekaligus, tapi mengambilnya sedikit, sewajarnya saja. Namun fokusnya adalah pada jumlah kuantitas penjualannya yang banyak. Maka hasilnya pun lebih memuaskan dibanding dengan mahal tapi sedikit yang laku.
Dengan kata lain, harga boleh bersaing dengan kompetitor. Tapi dari segi jumlah kuantitas penjualan harus lebih besar. Maka dengan begitu, untung yang kecil bisa berlipat-lipat karena terbantu dengan barang yang terjual begitu banyak.
Di sisi lain, pelanggan yang sering membeli barang pada kita pun takan merasa kapok atau dirugikan. Karena barang yang ditawarkan sesuai dengan harga yang wajar. Dari situ tercipta kepercayaan dan akan menjadi mitra bisnis dalam jangka yang panjang.
Dengan itu, In sya Allah penjualan semakin stabil dan pelanggan dari waktu ke waktu menjadi bertambah banyak dan semakin luas. Tentu itu semua atas izin Allah Ta’ala.
KEDUA: Pembayaran Tunai atau Kontan.
Prinsip lain yang sering dilakukan sahabat Nabi ini, ialah lebih senang menerima pembayaran tunai atau cash dari tiap transaksi penjualannya.
Pembayaran tunai ini, berarti tidak mentolelir segala bentuk praktik transaksi penundaan bayaran atau hutangan. Dalam artian, bisnis dengan pembayarannya yang tunai akan membantu proses sirkulasi uang dan barang menjadi lebih sehat dan terkontrol.
Sedang menunda-nunda pembayaran sama dengan menghambat laju pergerakan sistem bisnis yang sudah tercipta. Biasanya salah satu penyebab para pedagang gulung tikar dari usahanya adalah karena masalah penundaan pembayaran ini alias hutang.
Oleh karena itu, prinsip menerima pembayaran tunai, baik langsung secara fisik atau via transfer langsung adalah hal yang baik dan positif. Kebiasaan yang akan mempengaruhi nasib bisnisnya kelak.
Abdurrahman bin ‘Auf mengajarkan kita bahwa pembayaran tunai adalah hal yang baik dan sehat. Kalau ingin berbisnis seperti beliau, pastikan buat lingkungan bisnis yang mampu mewujudkan itu. Salah satunya mengkondisikan selalu memakai pembayaran tunai atau langsung.
Sedangkan kebiasaan buruk berhutang adalah hal yang harus disikapi bijak oleh kaum Muslimin utamanya. Berhutang sah-sah saja, asalkan memenuhi syarat yang sudah ditentukan oleh syariat. Misalnya, saat berhutang atau meminjam harus ditulis di atas kertas yang jelas, ada saksinya, ada batas atau tempo hutangan akan dibayar, serta ada jaminan tatkala hutang itu tak mampu dibayar tepat pada waktunya.
Meskipun boleh saja si pemberi hutangan merelakan dan menganggapnya lunas, karena berniat membantu dan meringankan beban saudara seimannya karena Allah. Tapi bagi seorang Muslim yang baik, saat dia berhutang, maka wajib bagi dirinya untuk selalu berusaha menepati janjinya itu.
Jadi, pembayaran tunai adalah pondasi penting dalam bisnis berdagang. Di samping mengambil untung yang sedikit, pembayaran tunai pun harus dilakukan, sehingga tercipta kombinasi yang serasi dalam rangka menjemput rezeki yang berkah.
KETIGA: Tidak Menahan Barang Saat Ditawar.
Ada dua poin penting dalam hal ini. Prinsip ini juga tidak kalah penting daripada yang di atas. Yaitu, tidak menahan barang dan tidak membandingkan nilai keuntungan.
Sahabat Abdurrahman bin auf, dia adalah orang yang senang memudahkan segala urusannya, terutama terkait dengan kemudahan bagi orang lain. Termasuk juga saat proses adu tawar-menawar dalam berdagang.
Beliau tidak senang menahan barang dagangannya. Saat ada yang menawar dan harganya cocok, masih ada untungnya, maka ia melepasnya atau menjualnya. Ditambah lagi ia tak ambil pusing dengan untung yang didapatkan, apakah itu sedikit atau banyak.
Tentu ada hikmah yang bisa kita ambil dari kasus itu. Di mana kita tidak harus berlama-lama menahan barang yang diminati pembeli, selama masih ada keuntungannya, meski bisa dibilang keuntungannya tidaklah begitu banyak. Tapi ada keberkahan di sana, karena ada niat baik didalamnya, niat untuk saling memudahkan urusan orang, terutama sesama kaum Muslimin.
Tak banyak orang yang sampai berpikir ke sana. Berpikir bahwa berdagang juga mempunyai nilai ibadah. Berdagang bukan sebatas mencari keuntungan banyak, menjadi kaya raya, hidup tenang dan banyak waktu untuk bersenang-senang. Tapi berdagang adalah jalan untuk mencari ridha Allah. Yaitu menjadikan potensi kebaikan dari setiap apa saja yang ada di dalam unsur berdagang itu sendiri.
KEEMPAT: Menjaga Kualitas Barang.
Menjaga kualitas barang dagangan, berarti sama dengan menjual barang-barang yang bagus dan memuaskan para pelanggan. Dengan kata lain, ini berbicara tentang kejujuran si penjual.
Abdurrahman bin ‘Auf senang dengan menjual barang dagangannya yang bagus dan terbaik. Kalau ada yang cacat pada barang tersebut, ia akan menjelaskannya kepada para pembelinya.
Hal itu sama persis seperti yang dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ketika beliau berdagang, lalu ada yang cacat pada barang dagangannya itu, maka beliau akan jujur kepada para pembelinya. Begitu juga sama seperti yang dilakukan oleh sahabat beliau, Abdurrahman bin ‘Auf.
Menjaga barang dengan kualitas baik, tentu sangat berpengaruh pada berbagai aspek, yang semua itu saling menguatkan kepada hal yang lainnya. Bisa kepada kepercayaan terhadap orangnya (penjual), integritas pribadinya. Bisa pada tempat jualannya (toko) dan pada keberlangsungan masa depan bisnisnya.
Di samping itu, menjual kualitas barang yang bagus akan mengundang banyak keberkahan. Banyak kasus terjadi, saat sebuah toko terkenal dengan barang dagangannya yang berkualitas bagus, ditambah lagi dengan penjualnya yang jujur dan amanah. Maka seberapa jauh pun posisi tempat toko itu berada, maka akan banyak orang yang mencarinya. Menggambarkan betapa hal seperti itu sangatlah langka, menemukan penjual yang seperti itu.
Adapun dengan pedagang yang asal menjual barang, tidak melihat kualitas barangnya, yang penting baginya modalnya murah dan bisa menjualnya kembali dengan harga yang mahal. Diperparah dengan penjualnya yang pandai berbohong. Pada saat ada kecacatan pada barang dagangannya lantas ia menyembunyikannya. Maka dapat dipastikan, usaha bisnisnya itu tidak akan berkah dan panjang.
Maka dari itu, sangatlah penting untuk menjaga kualitas barang dagangan kita. Pegang erat prinsip itu, karena hal itu sangatlah erat dengan kejujuran hati pedagang itu sendiri. Mungkin bisa saja tiap orang dibohonginya, tapi Allah tidaklah bisa kita bohongi, secerdas apapun kita berdalih.
KELIMA: Orientasi Tinggi Kepada Akhirat.
Bagian terakhir dari prinsip yang dimiliki sahabat Abdurrahman bin ‘Auf adalah ia tidak cinta terhadap kehidupan dunia. Baginya, kehidupan dunia ini sangatlah singkat, sedangkan kehidupan akhirat adalah abadi.
Semua keuntungan dari hasil bisnis perdagangannya tidak ia nikmati sendiri. Melainkan ia gunakan untuk kepentingan orang banyak, termasuk untuk keluarganya dan kaum Muslimin.
Sampai suatu waktu beliau tanpa ragu mensedekahkan seluruh hartanya di jalan Allah.
Kisah itu diceritakan di dalam hadits riwayat Imam Ahmad, yang juga dicatat oleh Muhibbuddin Ath-Thabari dalam Ar-Riyadhun Nadhrah fi Manaqibil ‘Asyrah.
Dikisahkan, sekali waktu saat Siti ‘Aisyah sedang di rumah (Madinah), tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara gemuruh. “Suara apa ini?” tanyanya. Orang-orang menjawab, “Itu adalah kawanan unta milik Abdurrahman bin ‘Auf yang baru saja pulang dari Syam, membawa macam-macam komoditas dagangan. Jumlahnya sebanyak 700 unta. Itu yang menimbulkan suara gemuruh tadi.” Aisyah kemudian berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda: ‘Aku melihat Abdurrahman masuk ke surga dalam keadaan merangkak (karena kekayaan yang dimilikinya).’” Setelah ucapan ‘Aisyah itu terdengar oleh Abdurrahman, ia pun berucap: “Jika bisa, aku akan tetap masuk ke surga dengan berdiri.” Ia pun menyedekahkan semua gandum dan pelana unta miliknya untuk disedekahkan ke jalan Allah.
Demikianlah, gambaran nyata bahwa beliau sangat serius memprioritaskan segala ikhtiarnya di dunia ini untuk nasibnya di akhirat kelak.
Demikianlah gambaran tentang prinsip-prinsip yang dimiliki sahabat nabi, Abdurrahman bin ‘Auf.
TIPS SUKSES ALA UTSMAN BIN AFFAN:
Utsman bin Affan merupakan sahabat Nabi yang sudah tak asing lagi di telinga kita. Ia merupakan Khalifah Islam ke-3 pada masa Khulafaur Rasyidin. Beliau merupakan salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang paling masyhur. Siapa sangka? Ia juga merupakan salah satu sahabat terkaya pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Utsman dikenal juga sebagai orang yang memiliki harta kekayaan mencapai triliunan jika diakumulasikan ke dalam mata uang rupiah saat ini. Bahkan bisa dibilang angka tersebut terus bertambah hingga hari ini. Ketika ia meninggal, Utsman mewarisi banyak aset tanah, unta yang jumlahnya lebih dari seribu ekor, dan harta peninggalan sebesar 30 juta dirham dan 150 ribu dinar. Jika diakumulasikan, total kekayaan Utsman mencapai angka lebih dari Rp 2,5 triliun.
Lantas apa tips dan prinsip dasar Utsman bin Affan dalam membangun sebuah bisnis yang besar ala beliau:
PERTAMA: Menjalankan Corporate Social Responsibility (Sebuah konsep manajemen dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dan lingkungan dalam operasi bisnis dan interaksinya dengan para pemangku kepentingan).
Utsman bin Affan memberikan contoh nyata, dalam mensponsori mobilisasi kaum muslimin dalam Perang Tabuk yang membutuhkan pendanaan yang luar biasa. Utsman bin Affan menginfakkan setidaknya 900 ekor unta lengkap dengan peralatan perangnya, 100 ekor kuda perang, 200 kantong emas, dan ditambah uang tunai sebesar 1.000 dinar. Sungguh jumlah yang amat besar dan membuat kaum muslimin kagum, hingga Nabi pun berkata, “Sungguh tidak ada lagi yang akan membahayakan Utsman setelah ini”.
KEDUA: Menunjukkan Diferensiasi (Menciptakan Ciri Khas). 
Dalam waktu yang singkat, beliau sudah menunjukkan diferensiasinya dalam menyediakan jasa pemasok dan produksi. Anti riba dan kejujuran adalah dua dari beberapa banyak prinsip dalam Islam lainnya yang beliau miliki. Dengan menjaga prinsip-prinsip Islam dalam menjalankan perniagaan, maka in sya Allah prosen bisnis yang dijalankan akan mendapatkan kemudahan karena proses yang baik.
KETIGA: Mengelola bisnisnya secara langsung. 
Utsman bin Affan mengelola bisnisnya sendiri secara langsung. Dengan terjun langsung untuk mengelola bisnis maka kita akan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang tidak akan kita dapatkan kalau kita langsung membayar orang dari awal unuk membangun bisnis.
Karena tanpa adanya kontrol langsung dari pemilik usaha maka proses bisnis boleh jadi tidak ada evaluasi karena dijalankan oleh orang lain yang tidak merasa memiliki bisnis tersebut. Tentunya turun langsung ke lapangan bukan berarti pemilik usaha harus melakukan hal-hal teknis juga sendirian, tetapi maksudnya adalah pemilik usaha sering melakukan kontrol ke lapangan agar bisa mengetahui apakah ada kendala selama orang-orang yang bekerja disana menjalankan bisnis kita.
Demikian beberapa tips mengenai langkah kesuksesan yang didapat oleh Ustman bin Affan. Semoga kita dapat menerapkan yang telah dicontohkan oleh Utsman agar kita dapat sukses dalam berbisnis. Dengan banyak belajar di forum-forum besar juga merupakan salah satu langkah yang bisa sahabat ambil, agar mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan lengkap bagaimana agar bisa menjadi pengusaha yang besar.
KISAH ABU BAKAR AS-SHIDIQ YANG SUKSES DALAM BERBISNIS:
Abu Bakar Ash Shiddiq yang memiliki nama asli Abdullah bin Abu Quhafah, adalah seorang sahabat dekat Nabi Muhammad yang dikenal memiliki keahlian dalam berbisnis. Lahir di Makkah pada tahun 573 Masehi, Abu Bakar Ash Shiddiq berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayahnya, Utsman bin Amir adalah adalah seorang pedagang sukses dan ibunya bernama Salma binti Sakhar. Sejak kecil, Abu Bakar Ash Shiddiq telah menunjukkan ketertarikan pada hewan seperti unta dan kambing, dan mengikuti jejak ayahnya dalam berbisnis.
Abu Bakar Ash Shiddiq memulai karir bisnisnya sejak remaja, dengan modal awal 40 dirham untuk berdagang di Basyra. Meski baru berusia 10 tahun, Abu Bakar Ash Shiddiq telah berani berdagang ke Suriah bersama ayahnya. Bisnis keluarganya adalah perdagangan kain dan Abu Bakar Ash Shiddiq meneruskan tradisi ini.
Abu Bakar Ash Shiddiq telah berusaha keras dan tidak pernah menyerah dalam mencapai kesuksesan dalam bisnisnya. Ia melakukan perjalanan bisnis ke berbagai tempat seperti Yaman dan Suriah, dan selalu berusaha menjaga kejujuran dalam berdagang. Sikap ini membuatnya disukai oleh konsumen dan membangun kepercayaan yang kuat.
Menurut buku “The Khalifah” karya Abdul Latip Talib, Abu Bakar Ash Shiddiq dikenal sebagai sosok yang dermawan dan bertanggung jawab selama masa kepemimpinannya. Ia mewariskan posisi khalifahnya kepada Umar bin Khattab dan seluruh pendapatan yang diperoleh selama menjadi khalifah disumbangkan ke Baitul Mal.
Khulafahur Rasyidin pertama. Setelah wafatnya Abu Bakar Ash Shiddiq kepemimpinan Khulafaur Rasyidin dilanjutkan oleh Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Abu Bakar Ash Shiddiq meninggal pada usia sekitar 63 tahun, setelah menderita sakit selama beberapa hari. Ia dimakamkan di samping makan Nabi Muhammad SAW.
Kisah Abu Bakar Ash Shiddiq ini memberikan inspirasi bagi para pembisnis untuk selalu berusaha keras, jujur, dan bertanggung jawab dalam menjalankan bisnis mereka.
URWAH AL-BARIQI, SAHABAT RASUL YANG PANDAI BERDAGANG:
Banyak sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi pengusaha hebat. Selain keimanan yang kuat, mereka mahir dalam perniagaan yang mengantarkan kepada kesuksesan dunia dan akhirat.
Salah satunya adalah Urwah Al-Bariqi, sahabat Nabi yang menjadi perawi beberapa hadits, pejabat di negeri Kufah pada masa Khalifah Umar bin Khatab, dan pedagang yang ulung.
Kisah Urwah Al-Bariqi ada pada hadits Ibnu Majah No. 2393 dalam Kitab Hukum-Hukum. Nabi Muhammad pernah memberi uang satu dinar kepada Urwah Al-Bariqi untuk membeli seekor kambing.
Urwah berhasil mendapat dua ekor kambing sekaligus dengan satu dinar tersebut, dan menjual salah satunya seharga satu dinar.
Ia kemudian menemui Rasulullah dengan membawa seekor kambing dan uang satu dinar. Rasulullah yang terkagum dengan kepiawaian Urwah, mendoakan beliau keberkahan untuk setiap transaksi jual belinya.
Kisah ini menunjukkan sebuah kemampuan wirausaha yang menonjol pada jiwa entrepreneurship Urwah Al-Bariqi, yaitu kemampuan bernegosiasi yang baik.
Ia lihai dalam tawar menawar dan meyakinkan pembeli, apapun yang dijualnya selalu laris di pasar.
عَنْ عُرْوَةَ الْبَارِقِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي لَهُ شَاةً فَاشْتَرَى لَهُ شَاتَيْنِ فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ فَدَعَا لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبَرَكَةِ قَالَ فَكَانَ لَوْ اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبِحَ فِيهِ.
Dari Urwah Al Bariqi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan uang satu dinar kepadanya agar ia gunakan untuk membeli seekor kambing. Lalu ia memberi dua ekor kambing, kemudian menjual salah satunya dengan harga satu dinar. Setelah itu ia datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa uang satu dinar dan seekor kambing. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mendoakannya dengan keberkahan.” Beliau bersabda: “Sungguh, sekiranya ia membeli tanah, ia akan tetap beruntung.” (H.R. Ibnu Majah) 
Kemampuan berkomunikasi adalah bagian penting dari kunci kesuksesan dalam berwirausaha. Bagaimana Urwah Al-Bariqi berhasil mengubah satu dinar menjadi satu dinar plus seekor kambing?
Dalam negosiasinya, ia tidak sembarang dan percaya diri untuk menawar harga berkat pengetahuan yang luas. Ketika menjual kembali salah satu kambingnya, beliau menjelaskan spesifikasi kambing tersebut kepada pembeli, apa saja kekurangan dan kelebihan produk.
Penjelasannya lengkap dan jujur, sehingga beliau mudah meyakinkan dan menjaga kepercayaan calon pembeli.
Selain keunggulan dalam tawar-menawar, Urwah Al-Bariqi juga punya ingatan tajam. Ia mengingat banyak informasi pasar, berbagai keunggulan produknya, dan profil orang.
Dari kemampuan mengingatnya, beliau punya banyak relasi dan bisa membangun jaringan dagang yang luas.
Urwah Al-Bariqi mengajarkan kita strategi-strategi penting dalam menjalankan usaha: Kembangkan kemampuan komunikasi yang baik; jujur dan informatif dalam berdagang; dan miliki ingatan yang kuat. 
TIPS SUKSES BERBISNIS ATAU USAHA DARI UMAR BIN KHATTAB RA YANG PATUT DICONTOH:
Setiap orang yang berbisnis atau menjalankan usaha tentu menginginkan sukses dan berhasil dalam bisnisnya. Untuk itu ada baiknya untuk mengetahui tips sukses berbisnis dari Umar bin Khattab yang patut dicontoh. 
Perlu diingat kembali bahwa untuk meraih sukses dalam berbisnis tentu harus ada proses, dan belajar adalah merupakan bagian terpenting dari proses menuju kesuksesan. 
Berikut ini 7 tips sukses berbisnis dari Umar bin Khattab yang bisa diterapkan dan patut dicontoh: 
PERTAMA: Menjual barang yang berkualitas. 
Tips sukses berbisnis yang pertama adalah menjual barang yang berkualitas baik. Inilah salah satu nasehat penting yang disampaikan oleh Umar bin Khattab. 
Beliau atau Umar bin Khattab menyarankan kepada orang yang menjalankan usaha atau berbisnis untuk menjual barang barang yang berkualitas dan terbaik. 
Adapun sebuah barang yang memiliki kualitas terbaik, ciri utamanya adalah pedagang atau produsen mau menggunakan dan mengkonsumsi sendiri barang barang yang akan di jual, itulah ciri utama sebuah barang yang berkualitas. 
Dalam beberapa riwayat diceritakan bahwa, Umar bin Khattab pernah memberikan nasehat kepada para penjual roti agar memperhalus dan memperbaiki adonan rotinya, agar menjadi sesuatu yang lebih berkualitas. 
Umar bin Khattab menyatakan “Perbaguslah adonan roti karena dia salah satu cara untuk mengembangkannya.”
KEDUA: Temukanlah pekerjaan yang disukai. 
Terkadang setiap orang membutuhkan proses untuk menemukan pekerjaan atau bisnis yang cocok untuk dirinya.
Umar bin Khattab juga sangat menganjurkannya agar seseorang mencari dan menemukan pekerjaan yang terbaik yang pas untuk mereka jalankan. 
Pemahaman ini didasarkan bahwa setiap orang memiliki bakat dan keahlian yang berbeda beda, oleh karena itu setiap orang pastilah memiliki kecocokan dalam pekerjaan atau bisnis yang berbeda beda pula. 
Dalam menemukan dan mencari bisnis yang baik atau cocok untuk seseorang, Umar bin Khattab memberikan beberapa kaidah atau saran “Jika tiga kali gagal beralihlah”.
Umar bin Khattab pernah memberikan nasehat kepada para pedagang “Barangsiapa berdagang dalam sesuatu sebanyak tiga kali namun tidak dapat meraih sesuatu keuntungan apapun di dalamnya, hendaklah ia beralih darinya kepada yg lainnya.” 
Hal tersebut mengindikasikan bahwa, dalam berbisnis atau berdagang kita diberikan toleransi percobaan sebanyak tiga kali. 
Jika dalam tiga kali percobaan kita tidak mendapatkan sesuatu yang baik atau hasil yang baik, maka hendaklah kita mencari alternatif lain, yang mungkin lebih baik dan sesuai untuk diri kita. 
KETIGA: Fokus dan tekun. 
Umar bin Khattab pernah menyatakan “Barangsiapa yang diberikan rezeki di dalam suatu pekerjaan hendaklah dia menekuninya”. 
Fokus dan ketekunan adalah kunci untuk meraih kesuksesan, tidak ada kesuksesan tanpa fokus dan ketekunan.
Jika kita sudah menemukan bisnis atau pekerjaan yang sesuai dengan harapan kita maka Umar bin Khattab memberikan nasehat agar kita tetap fokus dan tekun dalam menjalani bisnis dan pekerjaan tersebut.
KEEMPAT: Lakukan promosi dengan jujur. 
Dalam berbisnis, promosi adalah sesuatu yang penting. Umar bin Khattab juga tidak melarang hal tersebut, namun beliau mengecam cara cara promosi yang dilakukan dengan curang, dengan kebohongan sehingga merugikan konsumen. 
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Umar bin Khattab memerintahkan kepada pegawainya yang sedang berdagang agar mempromosikan baju yang kecil dengan duduk. Namun apabila mereka ingin mempromosikan baju yang berukuran besar maka hendaknya para pedagang berdiri untuk menunjukkannya baju tersebut secara utuh. 
Hal tersebut dilakukan agar para konsumen dapat mengetahui secara nyata, apa kelebihan dan kekurangan barang yang dijual tersebut. 
KELIMA: Berpikir dan bertindak produktif. 
Umar bin Khattab senantiasa berfikir dan bertindak produktif, beliau tidak menyukai sesuatu yang mubadzir atau menyianyiakan apa yang telah menjadi amanah Allah kepada kita. 
Salah satu contoh dan bukti bahwa Umar bin Khattab adalah orang yang senantiasa berfikir dan bertindak produktif adalah beliau membuat sebuah aturan yang melarang seseorang menelantarkan tanah. 
Para pemilik tanah yang menelantarkan tanah atau membiarkan tanahnya terbengkalai, maka akan diberikan peringatan yang keras. Jika dalam beberapa waktu, pemilik tanah membiarkan tanahnya menganggur, maka Umar bin Khatab akan menyita tanah tersebut. 
Selain itu Umar bin Khattab juga akan menyerahkan tanah tersebut kepada orang lain yang mau mengelola dan menggarapnya, tentunya dengan sistem sewa atau bagi hasil kepada negara.
KEENAM: Investasi. 
Umar bin Khattab juga sangat mendorong kegiatan investasi secara resmi oleh negara ataupun individu masyarakat. 
Umar bin Khattab senantiasa memberikan nasehat kepada para pegawai agar menyisihkan sebagian gajinya, untuk kemudian di tabung dan digunakan untuk berinvestasi kepada sektor produktif. 
Kesuksesan berbisnis dan pengembangan bisnis mustahil dicapai tanpa adanya investasi. 
KETUJUH: Bersikap sederhana dan tidak konsumtif. 
Inilah nasehat yang tidak kalah pentingnya yang disampaikan oleh Umar bin Khattab kepada kita semua sebagai kaum muslimin. 
Beliau mencontohkan secara nyata bahwa beliau hidup dengan sangat sederhana. Sebagai Khalifah (pemimpin) Umar bin Khattab membuat sebuah aturan yang rinci tentang larangan bersikap dan bertindak konsumtif kepada para pejabatnya. 
Umar bin Khattab melarang mereka menggunakan kendaraan yang mewah, baju yang mahal atau makanan yang berlebih-lebihan. 
Umar bin Khattab telah menetapkan standar maksimal penggunaan kendaraan, pakaian, dan makanan untuk para pejabatnya. 
Demikianlah sejumlah tips berbisnis atau usaha dari Umar bin Khattab untuk para pedagang atau pebisnis.
SUMBER PENULISAN:
https://www.gramedia.com/best-seller/bisnis-nabi-muhammad/ 
https://himpuh.or.id/blog/detail/668/inilah-5-sahabat-nabi-yang-sukses-dalam-berbisnis 
https://minanews.net/prinsip-prinisp-bisnis-abdurrahman-bin-auf/ 
https://www.daaruttauhiid.org/tips-sukses-ala-utsman-bin-affan/ 
https://www.kompasiana.com/ernidahliana3740/65adcfbc12d50f62eb3d5894/kisah-abu-bakar-ash-shiddiq-yang-sukses-dalam-berbisnis#google_vignette 
https://www.daaruttauhiid.org/urwah-al-bariqi-sahabat-yang-pandai-berdagang/ 
https://kabarbanten.pikiran-rakyat.com/bisnis/pr-596102682/7-tips-sukses-berbisnis-atau-usaha-dari-umar-bin-khattab-ra-yang-patut-dicontoh?page=all 
SEBAGAI PENUTUP, BERSYUKURLAH TATKALA KITA DISIBUKAN DENGAN MA’ISYAH (BEKERJA) SEBAGAI PEDAGANG. SEJATINYA HAL ITU ADALAH ANUGERAH DARI AGAR KITA SENANTIASA DALAM KEBERKAHAN. BAHWA MENCARI NAFKAH DARI HASIL IKHTIAR SENDIRI ATAU USAHA SENDIRI ADALAH MERUPAKAN MAKANAN YANG TERBAIK. HAL ITU SELARAS DENGAN SABDA NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ.
“TIDAK ADA SESEORANG YANG MEMAKAN SATU MAKANAN PUN YANG LEBIH BAIK DARI MAKANAN HASIL USAHA TANGANNYA (BEKERJA) SENDIRI. DAN SESUNGGUHNYA NABI ALLAH DAUD AS MEMAKAN MAKANAN DARI HASIL USAHANYA SENDIRI.” (HR BUKHARI).
SEMOGA KITA DAPAT MENGAMBIL HIKMAHNYA DAN MEMPRAKTIKANNYA DALAM KEHIDUPAN BERDAGANG. 
avatar Tidak diketahui
Author

Admin Kominfo

Follow Me
Other Articles
Previous

ISLAM DAN KEWIRAUSAHAAN (Bagian Kedua)

Next

BEKAL KETAKWAAN

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — Pemuda Persis Batununggal. All rights reserved. Kominfo