{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ} [الذاريات: 56]
Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat : 56)
Pondasi Islam: Beribadah Hanya Kepada Allah Dan Mutaba’ah Dengan Syariat
فَإِنَّ الْإِسْلَامَ مَبْنِيٌّ عَلَى أَصْلَيْنِ : أَحَدُهُمَا : أَنْ نَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ . وَالثَّانِي : أَنْ نَعْبُدَهُ بِمَا شَرَعَهُ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نَعْبُدَهُ بِالْأَهْوَاءِ وَالْبِدَعِ
Karena islam dibangun di atas dua pondasi: pertama, kita beribadah hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kedua, kita beribadah berdasarkan apa yang disyariatkan melalui lisan Rasulullah saw, tidak beribadah berdasarkan hawa nafsu dan bid’ah-bid’ah. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 1/12)
{أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (21)} [الشورى: 21]
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang menetapkan bagi mereka aturan agama yang tidak diizinkan (diridai) oleh Allah? Seandainya tidak ada ketetapan yang pasti (tentang penundaan hukuman dari Allah) tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan. Sesungguhnya orang-orang zalim itu akan mendapat azab yang sangat pedih. (QS. Asy-Syura [42]: 21)
Pengertian Ibadah: Mendekatkan Diri Kepada Dengan Apa Yang Disyariatkan Oleh-Nya.
وَاْلعِبَادَةُ هِيَ التَّقَرَّبُ إِلَى اللهِ تَعَالَى بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ وَالْعَمَلِ بِمَا أَذِنَ بِهِ الشَّارِعُ. وَقِيْلَ:
اَلْعِبَادَةُ هِيَ طَاعَةُ اللهِ بِامْتِثَالِ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ عَلَى أَلْسِنَةِ الرُّسُلِ.
وَقِيْلَ: اَلْعِبَادَةُ اِسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَاْلأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ.
Ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah swt dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta mengamalkan sesuatu yang dizinkan oleh Syari’ (Allah swt). Ada yang menyebutkan: Ibadah adalah taat kepada Allah dengan cara melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya melalui lisan para rasul. Ada yang mengatakan: Ibadah adalah nama yang mencakup setiap yang dicintai dan diridhai oleh Allah swt, baik berupa ucapan, perbuatan, tampak ataupun tersembunyi. (Fath al-Majid, hlm. 14)
Ibadah terbagi menjadi dua, yaitu mahdhah dan ghair mahdhah
1. Ibadah Mahdhah adalah ibadah murni, yaitu yang bukan berasal dari mu’amalah, sehingga ditentukan tatacara dan sifatnya. Seperti shalat, shaum, haji, umrah zakat dan yang lainnya
2. Ibadah ghair mahdhah adalah mu’amalah yang diniatkan karena Allah dan mengharapkan pahala dariNya. Seperti berbuat baik kepada tetangga, membuat saluran air, membersihkan halaman dan lain sebagainya.
Prinsip Ibadah: Diam Dan Ittiba’, Batal (Terlarang) Sampai Ada Dalil Yang Memerintahkannya.
اَلْأَصْلُ فِي اْلعِبَادَةِ التَّوْقِيْفُ وَاْلإِتِّبَاعُ, وَبِعِبَارَةٍ أُخْرَى: اَلْأَصْلُ فِي اْلعِبَادَةِ الْبُطْلَانُ حَتَّى يَقُوْمَ دَلِيْلٌ عَلَى اْلأَمْرِ.
Asal dalam ibadah adalah diam dan mengikuti. Dalam ungkapan lain: asal dalam ibadah itu adalah batal sampai ada dalil yang memerintahkan. (Al-Bayan, hlm. 230)
{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا (36)} [الإسراء: 36]
Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-isra [17[]: 36)
Ibadah Terbaik Adalah Mengikuti Nabi SAW
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Ada tiga orang mendatangi rumah para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya tentang ibadahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka telah dikabari, seolah-olah mereka menggangap sedikit ibadahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata: Dimanakah kita dari kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Allah telah mengampuni dosa beliau yang terdahulu maupun yang akan datang. Salah seorang dari mereka berkata: Adapun aku maka akan shalat malam terus. Dan yang kedua berkata: Aku akan puasa sepanjang waktu tidak akan berbuka. Dan yang ketiga berkata: Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendatangi mereka seraya bersabda: Apakah kalian yang mengatakan ini dan itu? Adapun aku maka demi Allah adalah orang yang paling takut kepada Allah dan yang paling bertakwa kepada-Nya. Akan tetapi aku berpuasa namun juga berbuka dan aku shalat malam namun juga tidur dan aku menikahi perempuan-perempuan. Barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku maka dia bukan dari golonganku. (HR. al-Bukhari No. 5063).
Ibadah Terbaik: Bukan Hanya Menutupi Kewajiban, Tetapi Yang Terbaik.
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ يَوْمًا، ثُمَّ قَالَ: ” يَا مُعَاذُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ “. فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللهِ وَأَنَا أُحِبُّكَ. قَالَ: ” أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ: اللهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ “
Dari Mu’adz bin Jabal bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meraih tangannya pada suatu hari kemudian bersabda: “Hai Mu’adz! aku mencintaimu.” Mu’adz bin Jabal berkata kepada beliau: Engkau lebih aku muliakan melebihi ayah dan ibuku wahai Rasulullah! Saya juga mencintai tuan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku berwasiat kepadamu wahai Mu’adz! Jangan kau tinggalkan setiap usai shalat untuk berdoa: Ya Allah! Tolonglah aku untuk dapat mengingatMu, mensyukuriMu dan beribadah padaMu dengan baik.” (HR. Ahmad no. 22119)
Sumber tulisan:
Buku Karya PW Pemuda Persis Jawa BaratPeriode 2019-2023 dengan judul Dakwah Menggugah dan Mengubah
Al-Ustadz Fahmi Ahkam Abul Hasan (Dewan Pertimbangan Jam’iyyah PC Pemuda PERSIS Batununggal)
