AL-JAMA’AH Bagian 2
APLIKASI DAN WUJUD NYATA KEHIDUPAN BERJAMA’AH:
Kehidupan berjama’ah yang dianjurkan Nabi saw. tidak sekedar
berkumpul, bermusyawarah dan membuat program, tetapi diharapkan merupakan satu
jama’ah yang penuh dengan ukhuwah, saling pengertian dan saling mendukung satu
sama lain. Dalam hal ini ada tiga gambaran kehidupan berjama’ah, yaitu:
PERTAMA: كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوْصٌ
(Seolah-olah mereka itu bangunan yang rapat dan kokoh).
Al-Rashash artinya; timah, Marshush
berarti yang dipatri, tidak terdapat kebocoran. Maksudnya, jama’ah tersebut
hendaknya kokoh, kuat, tidak terdapat kelemahan atau kebocoran yang
dimanfaatkan oleh lawan. Ukhuwah kuat, masing-masing saling memuji dan
menghormati, tidak saling menjatuhkan atau menjelek-jelekan yang lain.
KEDUA:
كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعَضُهَا بَعْضًا (Bagaikan satu bangunan
yang satu sama lain saling mendukung dan menguatkan).
Maksudnya, kehidupan berjamaah itu diharapkan seperti satu bangunan
yang satu sama lain saling menguatkan, masing-masing menyadari akan kelemahan
dan kekurangan dirinya, di samping ia juga memiliki kelebihan di sisi lain.
Tidak ada orang yang sempurna segala-galanya, serba bisa dalam segala hal. Maka
ragam keahlian dan kemampuan jika dimanage, tentu akan menjadi satu
kekuatan yang besar.
KETIGA: كَالْجَسَدِ (Bagaikan satu jasad).
Sebagaimana sabda Nabi saw.:
تَرَى الْمُؤْمِنِينَ في تَراحُمِهِمْ
وتَوادِّهِمْ وتَعاطُفِهِمْ، كَمَثَلِ الجَسَدِ، إذا اشْتَكَى
عُضْوًا تَداعَى له سائِرُ جَسَدِهِ بالسَّهَرِ والحُمَّى. رواه البخاري
“Engkau
melihat orang-orang mu’min dalam rasa kasih sayangnya, kecintaannya dan
perasaan halusnya bagaikan satu jasad, jika salah satu anggota merasa sakit,
maka anggota yang lainnya akan saling memanggil dengan tidak tidur dan
merasakan demam.” (H.R.
Al-Bukhari)
Keterangan:
Hadits ini
menunjukkan bahwa kehidupan orang-orang yang beriman itu hendaklah seperti satu
jasad, dimana masing-masing anggota tubuh itu memiliki kepedulian, perhatian
dan solidaritas yang tinggi. Demikian juga kehidupan sesama mu’min, memiliki
tanggung jawab yang besar, perhatian yang kuat terhadap sesama mu’min, ia dapat
berbagi rasa di waktu suka dan duka serta di saat bahagia atau menderita.
ISTILAH “IKHWATU IMAN”:
Ikhwatun dan ikhwanun, tidak salah, bila diterjemahkan beberapa
saudara. Akan tetapi, sebenarnya, antara kedua kata tersebut ada sedikit
perbedaan pengertian. Sebab, arti ikhwatun adalah saudara yang
disebabkan nasab, keturunan darah, sedangkan ikhwan adalah saudara dalam
pengertian persahabatan.
Dalam Al-Qur’an ada diterangkan: Meskipun tidak senasab,
seketurunan, tidak seibu sebapa, tapi orang mukmin dengan sesamanya orang
mukmin lagi adalah saudara, disebabkan mereka itu seiman, se-Qur’an serta
se-Sunnah Nabi. Keadaan mereka adalah sama dengan mereka yang senasab,
seketurunan darah.
Dengan sebutan “Ikhwatun”, tidaklah berarti bahwa dalam
pergaulan hidup antar mereka tidak terjadi perselisihan ataupun pertikaian.
Sesungguhnya kata “Ikhwatun” tidak menjamin hilangnya ikhtilaf serta
perbedaan paham, akan tetapi dengan “Ikhwatun” terjamin bahwa setiap
perselisihan dan pertengkaran antara sesama saudara termaksud dengan mudah
dapat dihentikan, dicegah, segera dihindari dan dijauhkan, sebab mereka
mempunyai orang tua yang berwibawa serta wajib ditaati segala perintah dan
anjurannya. Ibu dan bapaknya mempunyai hak veto yang penuh.
Ikhwatun semisal contoh itulah yang dimiliki dan menjadi sifat
mukminun. Memang tidak menjadi jaminan tidak adanya ikhtilaf serta perbedaan
paham, tidak menjamin akan tidak adanya perselisihan dan pertengkaran, akan
tetapi bagi mukminun sungguh terjamin akan sangat mudahnya mencegah serta
menyelesaikan ikhtilaf termaksud, terjamin akan sangat mudah mengambil
keputusan bersama, karena mereka senasab, mempunyai satu orang tua tempat
memulangkan setiap persoalan, untuk dimintakan nasehat serta pendapatnya yang
pasti ditaati, yakni Al-Qur’an dan Hadits yang shahih. Mereka sama
se-Kitabullah dan se-Sunnah Nabi yang tak ada duanya.
Kemudian dalam sambungan ayat termaksud dengan jelas diterangkan
pula; Kata “ashlihu” atau damaikanlah adalah suatu perintah yang
menunjukkan adanya perselisihan, pertikaian, serta ikhtilaf. Kemudian bakti
kepada Allah adalah suatu jaminan untuk menjadi golongan yang mendapat rahmat.
Lebih tegas lagi diterangkan: Bagi mereka yang menerima rahmat,
menerima pimpinan Tuhan, ikhtilaf antara mereka itu tidak untuk selama-lamanya,
sehingga, menjadikan madzhab, firqah, ataupun golongan. Ikhtilaf bagi mukminin
tidaklah untuk dipertahankan dan dibela, tapi untuk diambil keputusan, setelah
dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Hadits.
Dalam kalangan para sahabat, ada terjadi perbedaan paham termaksud,
namun tidak untuk selama-lamanya, melainkan untuk diambilkan suatu keputusan
setelah dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Hadits.
Kemudian firman-Nya pula: Kata-kata fa-in tanaza’tum, yakni “apabila
kamu berselisih”, adalah menjadi dalil akan adanya kemungkinan yang
diperselisihkan. Akan tetapi perselisihan itu, bukanlah untuk menciptakan
aliran atau madzhab baru, tapi untuk segera dikembalikan kepada Al-Qur’an dan
Hadits yang shahih.
Kemerdekaan berfikir ataupun perbedaan paham dalam kalangan
mukminin tidaklah layak dipergunakan untuk jadi bahan permusuhan yang
membangkitkan hasud serta dengki. Bagi kaum mukminin, meski jadi lawan dalam
pendapat, tapi senantiasa tetap ia adalah kawan dalam berfikir.
Bersama-sama mereka memikirkan serta mengakhiri perbedaan tersebut,
dengan jalan mengembalikan kepada Al-Qur’an dan Hadits yang shahih. Segala
kehendak, kesenangan nafsu pribadi, dikekang serta ditahan oleh kendala dalil
yang shahih dan sharih, yakni Qur’an dan Hadits.
Ikhwatun dalam Islam senantiasa gemilang dan bercahaya. Ikhwatun
dalam Islam tidak pernah menjadi pudar dan suram disebabkan perselisihan serta
perbedaan paham ataupun pendapat, selama nafsu tidak turut campur dan
senantiasa dengan tulus ikhlas berniat untuk tunduk kepada dalil serta
keterangan yang shahih.
Sesungguhnya, yang berbahaya serta yang memecah belahkan persatuan
dan yang melemahkan ukhuwwah, bukanlah sebab berbeda paham, tapi ialah turut
sertanya hawa nafsu untuk mempertahankan perbedaan tersebut. Hawa nafsu turut
serta bukan untuk mengembalikan persoalan kepada dalilnya yang syah, walaupun
dalil tersebut sudah tak dapat dihindarkan lagi.
Bukan masalah furu yang membawa umat kepada pertengkaran,
perpecahan, serta kelemahan, tapi nafsu yang membantu untuk mempertahankan
perbedaan tersebut.
Keadaan semacam itu tidak hanya berlaku dalam masalah keagamaan
saja, dalam urusan-urusan lainpun, perbedaan paham serta pendapat, baik dalam
kerohanian ataupun keduniawian, seperti misalnya dalam masalah siasat dan
kenegeraan, senantiasa membawa kepada perpecahan bila tidak ada tempat untuk
berpijak serta mengembalikan setiap persoalan atau masalah kepada kaidah serta
ukuran yang sama.
Apabila negara mendirikan jawatan-jawatan teras yang bertugas
mengawasi alat-alat metrik sehingga tidak terjadi perselisihan dalam alat-alat
ukur panjang, berat atau lainnya sehingga tak terjadi perselisihan, baik antara
pedangang ataupun pembeli, yang dapat mengakibatkan ketidak tentraman, maka
demikianlah misalnya Tuhan dalam menurunkan Al-Qur’an dan mengutus Rasul-Nya,
keduanya adalah sebagai standar utama dalam kehidupan beragama, agar suasana
ikhwatun tidak dikeruhkan.
Kita sebagai umat Islam, hidup dalam suasana ikhwatun serta akan
senantiasa mampu memelihara suasana tersebut. Sebab, kita mempunyai tempat
untuk mengembalikan segala urusan, yang mampu memberi putusan, yang wajib
ditaati oleh semuanya. Bahkan, ia menjadi lambang kemegahan, sebab hingga kini
ia merupakan mukjizat yang tak tertandingi dan belum ada yang mampu
menyainginya, yakni Qur’an dan Sunnah. Oleh karena Qur’an dan Sunnah itulah,
umat Islam hidup sebagai ikhwatun.
Ada seorang penyair yang dengan syairnya ia berkata, apakah yang
menyebabkan tumbuh rasa ikhwatun itu? Adapun yang menumbuhkan rasa ikhwatun itu
ialah nikmat Tuhan yang berupa agama, sebagaimana firman-Nya: Maka apabila
kemudian nikmat itu lenyap, rasa ikhwannyapun akan turut pula hilang. Sebab
lemahnya iman menyebabkan lemahnya ibadah dan lemahnya kemauan menjalankan
agama yang haq. Demikianlah, rasa ikhwan dan setia kawan hilang lalu timbullah
rasa hasud dan dengki.
Ukhuwwah adalah buah akhlak yang baik, budi pekerti yang tinggi.
Jadi bila terjadi perselisihan, hakikatnya bukan soal furu tapi sebab akhlak
dan budi pekerti yang telah hilang, dan akibatnya menimbulkan perselisihan
serta permusuhan.
Demi terjadinya ukhuwwah yang utuh dan terpelihara, maka wajiblah
setiap muslim menjalankan ke-Islaman serta akhlak yang tinggi, yang menjadikan
kita hidup sebagai ikhwatun dan ikhwan.
Keadaan dalam suasana ikhwan, senantiasa memperlihatkan keseragaman
dalam akidah dan amal, dalam berfikir, berkata serta bertindak. Oleh karena
itu, adalah selayaknya, bila mereka yang bergerak serta bertindak dengan tabiat
sang syaitan dinyatakan dalam Qur’an sebagai “Kanu ikhwanasysyayatin”,
“Keadaan mereka itu adalah ikhwan syaitan”, atau dalam ayat yang lain
disebut, mereka yang seragam tabiatnya dengan “Fir-auna wa ikhwanu Luth”.
Demikian mereka yang menghambur-hamburkan harta benda adalah ikhwan
syaitan, yang mendustakan Rasul-rasul adalah ikhwan Ad, Fir’aun dan Luth
(ikhwan kaum Nabi Luth).
Dengan ikhwatun dan ikhwan akan senantiasa terdapat keseragaman
dalam suara, rasa dan usaha. Kini marilah kita padukan suara, rasa serta usaha
kita seirama dan seragam dengan Qur’an serta Hadits yang Shahih. (Al-Ibroh
karya KH. E. Abdurrahman hal 139-145)
PERUMPAMAAN KAUM MUSLIMIN:
Salah satu sarana efektif dalam mendidik antara lain melalui metode
perumpamaan yang dalam keseharian dikenal dengan istilah amsal atau tamsil,
yaitu memanfaatkan perumpamaan atau tamsil tertentu untuk memberikan
pengajaran. Metode amsal ini kerap kali di pergunakan Rasulullah dalam
pendidikannya kepada para sahabatnya. Melalui metode amsal ini, peserta
didik akan mudah tersentuh jiwanya dan membuatnya lebih mudah terpengaruh,
lebih meresap dan lebih lama bertahan. Dari beberapa literatur Islam, ditemukan
banyak sekali perumpamaan. Seperti, mengumpamakan orang yang lemah laksana
kupu-kupu, orang yang tinggi seperti jerapah, orang yang berani seperti singa,
orang gemuk seperti gajah, orang kurus seperti tongkat, orang ikut-ikutan
seperti beo, dan lain sebagainya. Para pendidik disarankan untuk mencari
perumpamaan yang baik ketika berbicara dengan anak didik. Sebab, perumpamaan
itu akan melekat pada pikirannya dan sulit dilupakan.
Dalam banyak kesempatan saat mendidik para sahabatnya, Rasulullah
terkadang menggunakan yang beragam, diantaranya dengan menggunakan metode
perumpamaan. Metode perumpamaan (amṡal) untuk menjelaskan suatu makna dari
ajaran yang beliau sampaikan. Dalam setiap penjelasan yang diutarakan,
Rasulullah menggunakan media benda yang banyak dilihat, dirasakan dan yang bisa
mereka pegang sebagai perumpamaannya. Metode perumpamaan adalah metode yang
banyak dipergunakan dalam al-Quran dan hadis untuk mewujudkan akhlak mulia.
Untuk memperjelas hal-hal yang masih samar bagi para sahabat, Rasulullah saw.
menggunakan analogi dan memberi analisis hukum serta menyampaikan perumpamaan
kepada mereka.
Dalam proses belajar-mengajar, Rasulullah senantiasa memilih
metodemetode yang dinilai paling efektif dan efisien, mudah dipahami dan
dicerna akal, sesuai dengan porsi dan kapasitas intelektual peserta didiknya di
antara metode tersebut adalah metode perumpamaan (amsal).
Salah satu sarana dalam menyampaikan penjelasan adalah perumpamaan.
Perumpamaan bukan semata-mata pengibaratan, ia adalah seni dalam menjelaskan
sebuah pengertian, konsep, dan gagasan yang abstrak. Jiwa, nafsu, surga,
neraka, ganjaran, kepuasan adalah hal-hal yang abstrak yang tampaknya sulit
untuk dipahami. Jika perkara di atas diberi perumpamaan-perumpamaan, maka
perkara itu akan menjadi konkrit.
Dengan perumpamaan itu hati pun menjadi pasrah dan jiwa menjadi
tenang serta puas. Apa yang tidak diketahui dan di luar bayangan telah nyata.
Iman pun akan terus bertambah. Demikianlah Allah mengajarkan hikmah perumpamaan
kepada manusia agar mereka mengerti.
Dalam hadis, Rasulullah Muhammad saw. banyak
menyampaikan/memberikan perumpamaan. Semua perumpamaan itu dimaksudkan sebagai
pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Rasulullah membuat perumpamaan dalam
metode mengajar. Ini memiliki pengaruh yang signifikan dalam mendekatkan
sesuatu yang masuk akal pada ingatan lawan bicara, dan mempermudah para
pendengarnya untuk memahaminya.
Untuk kesempatan kali ini akan dibahas mengenai tujuh perumpamaan
kaum muslimin:
PERTAMA:
Bagaikan Pohon.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ، لَا
يَزَالُ الرِّيحُ تُفِيئُهُ، وَلَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُصِيبُهُ بَلَاءٌ،
وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ شَجَرَةِ الْأَرْزَةِ، لَا تَهْتَزُّ حَتَّى
تُسْتَحْصَدَ». مسند الإمام أحمد بن حنبل
“Perumpamaan seorang
mukmin seperti tanaman, angin menerpanya ke kiri dan ke kanan. Seorang mukmin
senantiasa mengalami cobaan. Sedangkan perumpamaan orang munafik seperti pohon
yang kuat tidak pernah digoyangkan angin sampai ia ditebang”. Musnad
Imam Ahmad bin Hanbal
Penjelasan:
Ujian dalam
kehidupan adalah sebuah keniscayaan. Suka dan duka akan mengitari kehidupan.
Namun ia tetap tegar, sabar dan tawakal. Tidak ada ujian tanpa jalan keluar.
Tidak ada kesusahan tanpa penawar kebahagiaan. Ke kanan atau ke kiri, berada di
atas atau bawah, seorang mukmin akan tegar menghadapi ujian hidup.
KEDUA:
Bagaikan Bangunan.
عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ
بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ. صحيح البخاري
“Orang
mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti bangunan, sebagian menguatkan
sebagian yang lain”. Shahih Bukhari
Penjelasan:
Kerjasama
adalah kunci merajut kebersamaan. Tidak egois dan merasa diri paling penting
dan berjasa. Gotong royong dan tenggang rasa merupakan sikap mukmin yang harus
dibangun dalam diri.
KETIGA:
Bagaikan Tubuh.
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، عَنِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ قَالَ: «مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي
تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا
اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى». مسند الإمام أحمد بن حنبل
“Perumpamaan
kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seupama
tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah
tidur akan merasakan demam”. H.R. Muslim
Penjelasan:
Suka duka
dilalui bersama. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Sikap saling
memiliki merupakan lambang persaudaraan sejati.
KEEMPAT:
Bagaikan Cermin.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: الْمُؤْمِنُ مَرْآةُ
أَخِيهِ، إِذَا رَأَى فِيهَا عَيْبًا أَصْلَحَهُ. الأدب المفرد
“Seorang
mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri
saudaranya, maka dia memperbaikinya”. Adabul Mufrad
Penjelasan:
Cermin adalah
tempat untuk mengetahui apa yang sudah baik dan apa yang masih belum sempurna.
Kebaikan yang ada semoga menjadi teladan bagi orang lain. Sedangkan kekurangan
atau keburukan menjadi sentilan (teguran) bagi diri sendiri untuk memperbaiki
dan bagi diri orang lain, untuk tidak menyontohnya.
KELIMA:
Bagaikan Lebah.
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ مَثَلُ النِّحْلَةِ إِنْ
أَكَلَتْ أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَإِنْ وَضَعَتْ وَضَعَتْ طَيِّبًا، وَإِنْ وَقَعَتْ
عَلَى عُودِ شَجَرٍ لَمْ تَكْسِرْهُ، شعب الإيمان
“Perumpamaan
seorang mukmin seperti lebah, apabila ia makan maka ia akan memakan sesuatu
yang baik. Dan jika ia mengeluarkan sesuatu, ia pun akan mengeluarkan sesuatu
yang baik. Dan jika ia hinggap pada sebuah dahan untuk mengisap madu ia tidak
mematahkannya”. H.R. Al-Baihaqi
Penjelasan:
Seorang mukmin
mampu menempatkan diri pada posisinya. Orang zalim akan meletakkan sesuatu
tidak pada tempatnya. Orang mukmin hanya melakukan yang baik-baik, makan yang
baik-baik, berkata yang baik-baik. Apapun keadaannya, ia akan berusaha
melakukan yang baik-baik.
KEENAM:
Bagaikan Pohon Kurma.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَثَلُ الْمُؤْمِنِ مَثَلُ
النَّخْلَةِ، مَا أَخَذْتَ مِنْهَا مِنْ شَيْءٍ نَفَعَكَ». المعجم الكبير
“Perumpamaan
seorang mukmin itu seperti pohon kurma, apapun yang engkau ambil darinya pasti
bermanfaat bagimu”. H.R. Thobrani
Penjelasan:
Orang mukmin
adalah orang yang punya kontribusi besar kepada sesama. Apapun akan ia lakukan
asal itu untuk kebaikan bagi orang lain dan tidak melanggar perintah Allah swt.
keberadaan seorang mukmin bermanfaat bagi orang banyak.
KETUJUH:
Bagaikan Emas.
وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ مَثَلُ سَبِيكَةِ الذَّهَبِ
إِنْ نُفِخَتْ عَلَيْهَا احْمَرَّتْ، وَإِنْ وُزِنَتْ لَمْ تَنْقُصْ.
“Perumpamaan
seorang mukmin seperti lempengan emas, kalau engkau meniupkan (api) diatasnya
ia menjadi merah, kalau engkau menimbangnya, tidaklah berkurang”.
H.R. Baihaqi
Penjelasan:
Menjadi mukmin
seupama menjadi emas, kokoh, tidak luluh dan menyerah dengan keadaan. Ia kukuh
berpijak di atas kebenaran, tidak melebur dan mengikuti arus begitu saja, namun
ia punya prinsip.
Masih banyak
sekali perumpamaan yang disampaikan Rasulullah Muhammad saw. dalam haditsnya,
juga termasuk dalam Al-Qur’an. Berbagai perumpamaan ini hanya bisa dipahami
oleh orang-orang yang berakal.
Lanjut Baca Bagian ke 3 KLIK DISINI
“HIDUP
BERJAMA’AH ADALAH SUATU KENISCAYAAN, APALAGI JIKA MEREKA MEMILIKI CITA-CITA
YANG BESAR YANG HARUS DIUSUNG DAN DIDUKUNG OLEH BANYAK ORANG YANG MEMILIKI
RAGAM POTENSI UNTUK TERWUJUDNYA CITA-CITA BESAR TERSEBUT.”
Al-Ustadz Faqih Aulia (Tim LITKA PC Pemuda PERSIS Batununggal)
