AL-JAMA’AH Bagian 3
UPAYA MEMELIHARA KEUTUHAN AL-JAMAAH:
Upaya menyadarkan ummat untuk hidup berjama’ah dirasakan masih
susah, apalagi memelihara keutuhan jama’ah lebih sulit lagi. Banyak organisasi
atau partai besar akhirnya kandas juga bahkan kadang terjadi perpecahan di
lingkungan intern dan tidak bisa diselesaikan dan akhirnya porak poranda.
Karena itu perlu ada kiat-kiat, bagaimana mempertahankan jama’ah, diantaranya:
PERTAMA: Hendaklah bermusyawarah dalam menentukan pilihan.
Jika dihadapkan kepada sebuah persoalan pelik tidak dengan
terburu-buru mengambil sikap, tapi dimusyawarahkan terlebih dahulu, agar
ditemukan cara terbaik untuk mengatasinya. Allah memerintahkan:
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ
وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ
يُنْفِقُونَ
(38)
Dan (bagi) orang-orang
yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat,
sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara
mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada
mereka. (Q.S. Asy-Syura {42}: 38)
KEDUA: Hendaklah berlaku lembut terhadap bawahan.
Semakin maju zaman, semakin manusia menjauh dari akhlaq yang mulia.
Perangai jahiliyah dan kekasaran masih meliputi sebagian kaum muslimin. Padahal
Islam mencontohkan agar umatnya berakhlaq mulia, di antaranya adalah dengan
bertutur kata yang baik. Akhlaq ini semakin membuat orang tertarik pada Islam
dan dapat dengan mudah menerima ajakan. Semoga Allah menganugerahkan kepada
kita perangai yang mulia ini.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan berendah dirilah kamu
terhadap orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al Hijr {15}: 88)
Keterangan:
Syaikh Muhammad Al Amin Asy
Syinqithi mengatakan, “’Berendah dirilah ‘yang dimaksud dalam ayat ini
hanya untuk mengungkapkan agar seseorang berlaku lemah lembut dan tawadhu’
(rendah diri).” Jadi sebenarnya ayat ini berlaku umum untuk setiap perkataan
dan perbuatan, yaitu kita diperintahkan untuk berlaku lemah lembut. Ayat ini
sama maknanya dengan firman Allah Ta’ala:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ الله لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً
غَلِيظَ القلب لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari
Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap
keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”
(Q.S. Ali-Imran {3}: 159).
Yang dimaksud dengan bersikap
keras di sini adalah bertutur kata kasar. Dengan sikap seperti ini malah
membuat orang lain lari dari kita.
Al Hasan Al Bashri mengatakan,
“Berlaku lemah lembut inilah akhlaq Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang di mana beliau diutus dengan membawa akhlaq yang mulia
ini.”
KETIGA: Hendaklah tabayyun jika ada berita
yang negatif.
Jika menerima berita buruk
tentang seseorang tidak segera membuat vonis sebelum melakukan check and
re-check atau klarifikasi tentang berita yang diterima itu, tidak
membiarkan berita itu menjadi fitnah atau dikembangkan menjadi “ghibah”,
selalu berpikir positif (positif thinking) dan tidak dimulai dengan
sikap “su’udzan”. Allah mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ
جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ
فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (6)
Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal
atas perbuatanmu itu. (Q.S. Al-Hujurat {49}: 6)
KEEMPAT: Hendaklah mengadakan ishlah
diantara saudara kita.
Setiap
persoalan, dihadapi dan disikapi dengan semangat ishlah, bukan dengan
mengembangkan konflik.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (10)
Sesungguhnya
orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. Al-Hujurat {49}:
10)
KELIMA: Jauhilah su’uzhan dan
mengumpat saudara kita.
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka
buruk kepada manusia yang tidak disertai bukti atau tanda-tanda, sesungguhnya
sebagian prasangka, yakni prasangka yang tidak disertai bukti atau tanda-tanda
itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain yang
sengaja ditutup-tutupi untuk mencemoohnya dan janganlah ada di antara kamu yang
menggunjing, yakni membicarakan aib, sebagian yang lain. Apakah ada di antara
kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa
jijik. Karena itu hindarilah pergunjingan karena itu sama dengan memakan daging
saudara yang telah mati. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Penerima tobat kepada orang yang bertobat, Maha Penyayang kepada orang yang taat.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا
تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ
لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ
تَوَّابٌ رَحِيمٌ
(12)
Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan
orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah
salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka
tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hujurat {49}:
12)
KEENAM: Memperbanyak
Silaturahmi.
Dengan
memperbanyak silaturahmi banyak persoalan bisa dikomunikasikan dengan baik,
terhindar dari upaya-upaya pihak yang mau memecah belah dan mengadu domba
diantara sesama anggota jamaah. Rasulullah saw. telah memerintahkan:
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الْأَرْحَامَ
وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ.
“Wahai
manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali persaudaraan,
shalatlah di malam hari ketika manusia terlelap tidur, niscaya kalian masuk
surga dengan selamat.” (H.R. At-Tirmidzi)
KETUJUH: Saling Menolong.
Ta’awun dalam kebaikan dan
ketakwaan, tidak bersikap individualistis dan egois (ananiyah), hanya
mementingkan diri sendiri tanpa peduli kepada sesama, terutama ketika yang lain
sedang dalam kesulitan dan penderitaan.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ
وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا
اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (2)
Dan
tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya
Allah amat berat siksaan-Nya. (Q.S. Al-Maidah {5}: 2)
الْمُؤْمِنُ
لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا.
“Orang beriman terhadap orang beriman lainnya
bagaikan satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan”. (H.R.
Bukhari)
تَرَى الْمُؤْمِنِينَ في تَراحُمِهِمْ
وتَوادِّهِمْ وتَعاطُفِهِمْ،
كَمَثَلِ الجَسَدِ، إذا اشْتَكَى عُضْوًا تَداعَى له سائِرُ جَسَدِهِ بالسَّهَرِ
والحُمَّى. رواه البخاري
“Engkau
melihat orang-orang mu’min dalam rasa kasih sayangnya, kecintaannya dan
perasaan halusnya bagaikan satu jasad, jika salah satu anggota merasa sakit,
maka anggota yang lainnya akan saling memanggil dengan tidak tidur dan
merasakan demam.” (H.R.
Al-Bukhari)
KEDELAPAN: Menjauhi Perbedaan.
Terutama yang
menyangkut masalah ibadah, meskipun ada yang boleh dua atau tiga cara, menjadi
baik jika diambil satu cara yang sama. Demikian halnya dalam masalah lainnya,
seperti masalah penyelenggaraan pendidikan, menyikapi persoalan politik, dan
sebagainya. Jika perbedaan diantara sesama anggota sulit dihindari, maka
perbedaan-perbedaan tersebut harus diminimalisir. Sekecil apapun perbedaan
sering mengganggu keharmonisan dan ukhuwah. Nabi saw. mengingatkan:
وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ
قُلُوبُكُمْ.
Janganlah
kamu berbeda-beda (ikhtilaf dalam ibadah), nanti hati kamu berbeda-beda
(berselisih). (H.R.
Muslim)
TAMBAHAN:
Selain
kiat-kiat di atas, terdapat kiat lain dalam rangka memelihara keutuhan jama’ah,
yaitu:
1.
Ada kesamaan visi dan misi.
2.
Berjuang dengan ikhlas hanya
semata-mata karena Allah.
3.
Rela mengorbankan kepentingan
pribadi demi keutuhan jama’ah.
4.
Rela mendiadakan diri untuk
mewujudkan sesuatu.
5.
Sejak awal telah siap untuk mewaqafkan
diri untuk kepentingan jama’ah karena Allah.
6.
Senantiasa menjaga silaturrahmi.
7.
Tidak mudah su’udzan terhadap
yang lain dan selalu mengadakan tabayyun (klarifikasi).
8.
Berusaha menghargai jasa orang lain
sekecil apapun dan berlapang dada untuk memaafkan kesalahan orang lain.
9.
Berani mengkritik dan rela dikritik.
10. Berani
memimpin dan siap dipimpin.
Demikianlah
diantara prinsip-prinsip untuk menjaga keutuhan jama’ah. Dan untuk lengkapnya
silahkan kaji surat Al-Hujurat sebanyak 19 ayat, dan ayat-ayat tersebut pada
dasarnya adalah petunjuk-petunjuk untuk menjaga keutuhan hidup berjama’ah.
CARA
MEMELIHARA AL-JAMA’AH MENURUT HADITS NABI SAW.:
وَعَنْ عَبْدِ
اَللَّهِ بْنِ سَلَّامٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه
وسلم ( يَا أَيُّهَا اَلنَّاسُ! أَفْشُوا اَلسَّلَام وَصِلُوا اَلْأَرْحَامَ
وَأَطْعِمُوا اَلطَّعَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا
اَلْجَنَّةَ بِسَلَامٍ ). أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ
Dari Abdullah Ibnu Salam bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa
Sallam bersabda: “Wahai manusia sebarkanlah ucapan salam hubungkanlah tali
kekerabatan berilah makanan dan sholatlah pada waktu malam ketika orang-orang
tengah tertidur engkau akan masuk surga dengan selamat.”
Hadis shahih riwayat Tirmidzi
Keterangan:
Hadis ini mengandung anjuran dan peringatan tentang empat perangai
terpuji dan sifat baik. Barangsiapa memiliki sifat itu, niscaya ia masuk surga
dengan selamat. Sifat-sifat tersebut adalah menyebarkan salam, menyambung
silaturrahmi, memberi makanan dan salat malam ketika manusia sedang tidur.
Sebarkanlah salam maksudnya, perlihatkan dan tunjukkan serta perbanyak mengucap
salam. Berilah makanan kepada orang yang membutuhkan, seperti keluargamu
mencakup istri, anak-anak laki-laki dan perempuan serta orang yang ada di
rumahmu. Jika seseorang bangun di malam hari bertahajjud untuk Allah -‘Azza wa
Jalla-; mendekatkan dirinya kepada-Nya dengan ucapan dan doanya yang khusyuk di
hadapan-Nya, sementara itu manusia tidur, maka ini adalah amal paling utama
yang dapat memasukkan ke surga dengan selamat tanpa siksaan dan azab.
عَنْ
أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و
سلم: حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ
عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ،
وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذاَ مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذاَ
مَاتَ فَاتْـبَعْهُ. رَوَاهُ مُسلِمٌ
Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu ia
berkata: Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda: “Hak seorang muslim
terhadap sesama muslim itu ada enam: jika kamu bertemu dengannya maka
ucapkanlah salam, jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika ia
meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat, jika ia bersin dan
mengucapkan ‘Alhamdulillah’ maka do‘akanlah ia dengan ‘Yarhamukallah’, jika ia
sakit maka jenguklah dan jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.” (H.R.
Muslim)
Keterangan:
Islam adalah agama cinta, kasih sayang dan persaudaraan,
memerintahkan serta memotivasi untuk melakukannya.
Oleh sebab itu, disyariatkanlah sebab-sebab yang dapat merealisasikan
tujuan-tujuan mulia tersebut. Diantara tujuan-tujuan
tersebut yang paling penting adalah melakukan kewajiban-kewajiban sosial di antara individu-individu muslim, seperti: mengucapkan
salam, menjawab undangan, memberikan nasehat dalam
perkara yang dimusyawarahkan, mendoakan orang yang bersin, menjenguk
orang sakit dan mengantarkan jenazah.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ
رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم:
ثَلاَثٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ
أَلِيمٌ… وَرَجُلٌ بَايَعَ
إِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلاَّ لِدُنْيَا فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا وَفَى وَإِنْ
لَمْ يُعْطِهِ مِنْهَا لَمْ يَفِ.
Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah
Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda: “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara
oleh Allah pada hari kiamat… “Seseorang yang membai’at pemimpinnya hanya karena dunia.
Jika ia diberi dunia, dia mau taat. Tapi jika ia tidak diberikan dunia, maka ia
tidak mau taat.” (Hadits shahih dikeluarkan Imam Bukhari dan Muslim)
Keterangan:
seorang
laki-laki yang membai’at imam (pemimpin), ternyata dia
membai’atnya hanya karena dunia saja. Jika ia diberi dunia oleh imam, dia akan
mau menaati imam tersebut. Jika tidak diberikan dunia oleh imam, dia tidak mau
menaati pemimpinnya. Maka orang ini di hari kiamat nanti tidak akan disucikan
oleh Allah, tidak akan dilihat oleh Allah, bahkan akan diberikan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala adzab yang pedih, Allah pun tidak mau mengajak bicara dia.
Hal ini karena Allah murka kepadanya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَعِسَ عَبْدُ
الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ
وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ. رواه البخاري
Dari Abu
Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Binasalah hamba dinar, dirham, kain tebal dan sutra. Jika diberi maka ia
ridha jika tidak diberi maka ia tidak ridha”. (H.R. Al-Bukhari)
Keterangan:
Di dalam hadis ini Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- menerangkan
bahwa sebagian orang ada yang menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesarnya
dan ujung dari ilmunya serta tujuannya yang pertama dan terakhir. Bila ada
orang yang seperti ini keadaannya maka kesudahannya adalah kebinasaan dan
kerugian. Ciri kelompok orang ini ialah sangat tamak terhadap dunia; bila dunia
diberikan kepadanya maka dia rida, namun bila tidak diberikan maka dia murka.
Sebaliknya, sebagian orang ada yang menjadikan rida Allah dan negeri akhirat
sebagai tujuannya, sehingga dia tidak mengangankan kedudukan dan tidak mengejar
ketenaran, melainkan dia meniatkan amalannya dalam rangka ketaatan kepada Allah
dan Rasul-Nya. Ciri kelompok orang ini ialah tidak memperhatikan penampilannya,
rida di tempat mana pun dia ditempatkan, dipandang remeh oleh manusia, dan
menjauhkan diri dari para pemegang kedudukan dan jabatan; sehingga ketika dia
meminta izin kepada mereka maka dia tidak diizinkan, dan ketika dia memberi
syafaat (rekomendasi) maka mereka tidak
mengabulkan rekomendasinya, akan tetapi kesudahannya adalah surga, dan itu
adalah sebaik-baik balasan.
TAMBAHAN:
Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa untuk menjaga keutuhan
berjama’ah itu hendaklah:
1.
Menyebarluaskan
salam.
2.
Memberikan
bantuan makanan.
3.
Bersilaturrahmi.
4.
Shalat malam
untuk menguatkan hubungan diri dengan Allah.
5.
Melaksanakan
enam hak muslim terhadap muslim lainnya.
6.
Hendaklah
bai’at terhadap imam bukan karena materi.
7.
Hamba dinar dan
dirham pasti akan merugi jika diberi ia puas dan jika tidak diberi dia
mengeluh.
Demikianlah pesan-pesan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits untuk menjaga
keutuhan jama’ah dan ukhuwwah yang kuat diantara kita.
SEBAB-SEBAB PERPECAHAN UMMAT ISLAM:
Sebagai fakta sejarah, ternyata ummat Islam sepeninggal Nabi saw.
mengalami perpecahan yang sulit untuk kembali lagi bersatu. Demikian juga ummat
Islam dewasa ini atau negara-negara Islam kadang satu sama lainnya saling
menjatuhkan dan malah sampai berperang. Tentu saja kondisi ini sangat
memprihatinkan.
Adapun penyebab perpecahan ummat Islam itu menurut Al-Manar ada
empat yaitu:
1.
Masalah politik
dan rebutan kekuasaan.
2.
Fanatik ras dan
keturunan.
3.
Fanatik
madzhab, baik dalam masalah ushul dan furu’.
4.
Mengambil
keputusan dalam agama Allah dengan ra’yu (akal) semata.
“Dan ada sebab yang kelima yang kadang masuk kepada masing-masing
golongan tadi; yaitu kasak-kusuk musuh-musuh Islam dan tipu daya mereka.
Demikian dijelaskan oleh Muhammad Abduh dalam kitabnya”. (Al-Manar, 8: 217)
Menurut Al-Syathibi: “Sesungguhnya perselisihan yang terjadi di
antara mereka ada beberapa macam.” Yaitu:
1.
Perselisihan
pada dasar atau prinsip agama.
2.
Mengikuti hawa
nafsu.
3.
Teguh (kuat)
mempertahankan tradisi sekalipun rusak atau menyalahi yang haq.
KIAT-KIAT UNTUK MENJAGA KESATUAN DAN PERSATUAN UMMAT ISLAM:
Dalam satu hadis Nabi saw. telah membayangkan kemungkinan adanya
perpecahan di kalangan ummat Islam dan bagaimana solusinya agar ummat Islam
tetap bersatu padu dan menjadi kekuatan yang signifikan. Dalam hadis berikut
ini ditegaskan:
عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ:
تَطَاوَلَ النَّاسُ فِي الْبِنَاءِ فِي زَمَنِ عُمَرَ، رَضِيَ الله عَنْهُ فَقَالَ
عُمَرُ يَا مَعْشَرَ الْعُرَيْبِ الأَرْضَ الأَرْضَ إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ
بِجَمَاعَةٍ، وَلاَ جَمَاعَةَ إِلاَّ بِإِمَارَةٍ، وَلاَ إِمَارَةَ إِلاَّ
بِطَاعَةٍ فَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى الْفِقْهِ كَانَ حَيَاةً لَهُ
وَلَهُمْ، وَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى غَيْرِ فِقْهٍ كَانَ هَلاَكًا لَهُ
وَلَهُمْ.
Dari Tamim
Al-Dari r.a, ia berkata: “Orang-orang berlomba-lomba mempertinggi bangunan
pada zaman Umar, lalu Umar berkata: ‘Wahai masyarakat Arab ingatlah tanah,
ingatlah tanah, sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah, dan
tidak ada jama’ah kecuali dengan adanya kepemimpinan, dan tidak ada (gunanya)
kepemimpinan kecuali dengan ketaatan. Barangsiapa yang dihormati kaumnya karena
ilmu, maka akan membawa kebaikan untuk kehidupan dirinya dan masyarakatnya, dan
barangsiapa yang dihormati oleh kaumnya bukan karena ilmu, maka ia dan kaumnya
akan hancur.” (H.R. Al-Darimi, 1: 79)
Hadis ini
menunjukkan bahwa Islam tidak akan kuat kecuali dengan jama’ah, dan jama’ah
tidak akan kuat kecuali dengan adanya imarah (kepemimpinan), dan imarah pun
tidak akan kuat kecuali dengan adanya ketaatan terhadap imam. Dan barangsiapa
yang memilih pemimpin atas dasar fiqh (paham dalam agama), maka ia akan
menghidupkan dirinya dan kaumnya, dan barangsiapa yang memilih pemimpin bukan
atas dasar agama, maka ia akan mengakibatkan kehancuran dirinya dan kaumnya.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ
افْتَرَقَتْ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَإِنَّ أُمَّتِي سَتَفْتَرِقُ
عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً،
وَهِيَ الْجَمَاعَةُ”.
Dari Anas bin
Malik, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya bani Israil telah
berpecah belah kepada 71 firqah (golongan), dan ummatku akan terpecah belah
menjadi 72 firqah, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu al-jama’ah.”
(H.R. Ibnu Majah, 2: 1322)
Hadis ini
menunjukkan bahwa ummat Islam akan berpecah belah sampai 72 firqah (golongan),
semuanya di neraka kecuali satu, yaitu al-jama’ah.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي
مَا أَتَى عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، حَتَّى إِنْ
كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ
يَصْنَعُ ذَلِكَ، وَإِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ
وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً،
كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا
رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي.
Dari Abdullah
bin Amr, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: “Pasti akan datang kepada
umatku, sesuatu yang telah datang pada Bani Israil seperti sejajarnya sandal
dengan sandal. Sehingga apabila di antara mereka (bani Israil) ada orang yang
menggauli ibu kandungnya sendiri secara terang-terangan, maka pasti di antara
umatku ada yang melakukan demikian. Sesungguhnya bani Israil terpecah menjadi
tujuh puluh dua golongan dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga
golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Para sahabat
bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka adalah
golongan yang berjalan di atas jalan ditempuh oleh aku dan para sahabatku.”
(H.R. At-Tirmidzi, 7: 299)
Hadis ini
menegaskan bahwa firqah yang akan selamat ialah yang berpegang teguh kepada
prinsip:
مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“Apa
yang diamalkan oleh Nabi dan para sahabatnya”.
Berarti,
kriteria “Jama’ah” itu bukan dilihat dari sedikit dan banyak jumlah
pengikutnya, sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud:
مَنْ كَانَ عَلَى الْحَقِّ فَهُوَ جَمَاعَةٌ وَإِنْ
كَانَ وَاحِدًا.
“Siapa yang berada dalam
haq, maka itulah jama’ah walau hanya sendiri.”
Dalam riwayat
lain ditegaskan:
اَلْمُرَادُ بِالْجَمَاعَةِ مَنْ كَانَ عَلَى
الْحَقِّ وَلَوْ وَاحِدًا وَذَلِكَ لِأَنَّ الْحَقَّ هُوَ مَا كَانَ عَلَيْهِ
الْجَمَاعَةُ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ وَلَا نَظْرَةَ لِكَثْرَةِ أَهْلِ
الْبَاطِلِ وَإِنْ كَانُوْا جَمِيْعَ الدُّنْيَا.
“Yang dimaksud dengan
jama’ah ialah orang yang berada dalam haq sekalipun seorang, yang demikian itu
karena haq itu ialah yang dipedomani jama’ah di masa lalu (sahabat-sahabat
Nabi) dan jangan melihat banyaknya jumlah pengikut bathil sekalipun mereka seisi
dunia”.
Demikianlah pengertian jama’ah menurut hadits Nabi saw.
“MASIH BANYAK
ORANG YANG BINGUNG, KE MANA HARUS BERGABUNG? ORGANISASI MANA YANG HARUS
DIDUKUNG? MENGINGAT MEREKA MASING-MASING MEMPROMOSIKAN BAHWA GOLONGANNYA YANG
TERBAIK. TIDAK MUSTAHIL PULA AKHIRNYA ADA YANG APATIS, ACUH TAK ACUH DAN TIDAK
MAU BERGABUNG KE ORGANISASI ATAU GOLONGAN MANAPUN DAN IA MEMILIH BERJUANG
SENDIRI-SENDIRI. UNTUK ITU DIPERLUKAN ADANYA ACUAN TENTANG PENGERTIAN JAMA’AH
BERDASARKAN AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH AGAR UMMAT MEMILIKI PILIHAN YANG BENAR DAN
TEPAT DAN TIDAK TERJERUMUS KEPADA ALIRAN YANG DHAL DAN MUDHIL
(SESAT DAN MENYESATKAN) YANG AKAN MERUGIKAN DIRINYA DAN MERUSAK CITRA ISLAM
YANG SEBENARNYA.”
Oleh:
Al-Ustadz Faqih Aulia (Tim LITKA PC Pemuda PERSIS Batununggal)
